Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Melamar


__ADS_3

Ceklek ...


Alex dan Amora membuka pintu ruangan dimana Leo di rawat, dan di sana Leo sudah bersiap untuk pulang, dia duduk di atas kursi roda dan siap di dorong oleh Lucky, si putra bungsu.


''Kamu datang, Lex ...?'' Leo menyapa dengan tersenyum.


''Tentu saja, mana mungkin aku gak datang? gimana sudah siap pulang?''


''Iya, mari kita pulang sekarang, aku benar-benar sudah bosan tinggal di ruangan sempit ini.''


''Nak, sini biar om yang dorong," Alex menghampiri Lucky lalu menawarkan diri untuk mendorong kursi roda.


"Baik, om."


Semua yang berada di sana pun keluar dari dalam ruangan, termasuk Axel dan juga Amora yang kini berjalan secara berdampingan dan diam-diam berpegangan tangan, seraya saling melemparkan senyuman.


''Istrimu dimana, Leo? apa dia nggak ikut menjemputmu kemari?''


"Ada apa kamu nanyain aku?" Adelia keluar dari dalam kamar mandi, wajah Alex pun mendadak pucat pasi.


"Nggak, aku cuma nanya aja, tadi aku pikir, kamu nggak ada di sini."


Melihat Tante Adelia, membuat Amora melepaskan genggaman tangan kekasihnya, Axel pun terkejut seketika dia pun menatap wajah Amora yang terlihat pucat pasi setelah melihat ibundanya.


Kemudian El sengaja memperlambat langkah kakinya, agar tercipta sedikit jarak diantara dia dan beberapa orang yang ada di depannya, supaya Axel bisa berbicara dengan kekasih yang sangat di rindukannya itu.


"Apa kabar, Ra?" Axel merasa canggung karena sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan sang kekasih.


"Aku baik-baik aja, El. Kamu sendiri?''


''Seperti yang kamu lihat, aku juga baik, dan sehat sekarang. Kamu kemana aja, selama aku sakit, kamu sedikitpun gak pernah datang berkunjung? padahal aku selalu menunggu kedatangan'mu."


"Maaf, aku sibuk belajar dan sekolah, ada banyak tugas yang harus aku kerjakan,'' jawab Amora lalu meraih telapak tangan El dan menggenggamnya, begitu erat merasakan kerinduan yang mendalam.


''Aku merindukanmu, sungguh ...''


''Aku juga, sekali lagi aku minta maaf karena gak pernah datang kemari sekalipun.''

__ADS_1


''Iya gak apa-apa. Hmm ...! Kita ke suatu tempat dulu ya.''


''Kemana?''


''Aku ingin jalan-jalan sebentar, otakku beku beberapa hari berada di sini.''


El menarik tangan Amora, dengan sedikit berlari dia menghampiri keluarganya yang berjalan sedikit berjauhan dengan dirinya dan juga Amora.


''Mom, Pap. Aku duluan ya, aku mau ke suatu tempat dulu.'' Ucap El dengan sedikit berlari mendahului keluarganya.


''Kamu mau kemana, El?'' Adelia sedikit menaikan suaranya.


''Gak akan lama, mom. Nanti aku nyusul ke rumah.'' Axel.


''Dad, aku duluan ya,'' Amora pun menoleh ke arah ayahnya.


''Iya, sayang. Nikmati waktu kalian.''


Alex sedikit menaikan suaranya, yang langsung di sambar dengan tatapan tajam dari mata Adelia, membuat Alex sedikit gugup di buatnya.


''Iya, aku senang anak-anak kita bisa sedekat itu, mereka berpacaran, kan?'' Leo.


''Kamu senang, tapi aku tidak ...!'' Adelia secara tiba-tiba dengan nada suara datar.


Leo dan Alex pun saling melayangkan tatapan, Leo bahkan memutar kepalanya agar bisa menatap wajah sahabatnya, dia pun merasa heran karena sepertinya, istrinya tersebut masih menyimpan dendam kepada sahabatnya.


**


''Kita mau kemana El?'' Amora duduk di mobil, di kursi sebelah sang kekasih yang sedang menyetir.


''Kita jalan-jalan ke mal, yu? Aku ingin makan yang enak-enak, belanja-belanja, apa lagi ya? pokoknya refreshing deh, biar otakku bisa sedikit fresh ...''


''Oke, aku akan temani kamu kemana pun kamu ingin pergi.'


''Makasih, sayang ...''


Akhirnya mereka pun sampai di Mal, keduanya turun dari dalam mobil, setelah El memarkir mobilnya terlebih dahulu, berjalan dengan bergandengan tangan diiringi senyuman yang mengembang dari bibir masing-masing.

__ADS_1


''Cari makan dulu, yu. Aku lapar banget nih.''


''Oke, kebetulan aku juga belum makan. Kamu mau makan apa?'' Amora menoleh ke arah sang kekasih.


''Hm ...! apa ya? gimana nanti deh, kita jalan aja dulu.''


Keduanya pun berjalan di dalam mal, dengan tangan yang masih saling ditautkan, tersenyum lebar dengan mata yang sesekali menatap sekitar, berharap menemukan sesuatu yang menarik.


Mata El pun tiba-tiba saja tertuju pada satu orang pria yang terlihat sedang berdiri di depan etalase sebuah toko perhiasan, dan sepertinya pria itu adalah pria yang dia kenal.


''Gabriel ...?'' Lirih El, berjalan menghampiri, lalu menepuk pundak pria itu.


''Sedang apa kamu di sini?'' tanya El berdiri di samping Gabriel.


''Kamu ...?'' Briel menoleh lalu mencoba tersenyum.


''Kamu juga sedang apa di sini? bukannya masih di Rumah Sakit?'' Briel.


''Apa Al gak cerita, kalau kami pulang dari rumah sakit hari ini?''


''Siapa dia, El ...?'' Amora.


''O iya, kenalin, Ra. Dia pacarnya Al ...?''


''Pacar? wah aku baru tau kalau Al punya pacar juga.''


Amora mengulurkan tangannya, untuk berkenalan dengan Gabriel, mereka pun berjabatan tangan dengan menyebutkan nama masing-masing.


''Sedang apa di sini?'' El manatap toko perhiasan yang berada tepat di hadapannya.


''Aku lagi nyari cincin, rencananya aku mau melamar adikmu secepatnya.''


''Apa? Melamar?''


Axel membulatkan bola matanya merasa terkejut.


__________------_________

__ADS_1


__ADS_2