
Hari yang di lewati oleh Adelia dan Leonardo benar-benar terasa bahagia, setiap harinya mereka habiskan dengan mengerjakan pekerjaan rumah bersama, bahkan Leo mencoba bercocok tanam di depan halaman rumahnya untuk mengisi waktu kosong yang biasanya dia habiskan dengan bekerja.
Tidak terasa sudah satu Minggu mereka tinggal di desa, hanya tinggal berdua layaknya pasangan pengantin baru, setiap harinya bagi mereka merasa seperti sedang berbulan madu, saling meluapkan dan menghujani pasangan masing-masing dengan limpahan kasih sayang.
Akan tetapi, ada hal lain yang saat ini menyelimuti hati keduanya, rasa rindunya akan anak-anak serta ketiga cucunya terasa memenuhi relung hati dan tidak dapat di tahan lagi.
Awalnya, baik Leo maupun Adelia mencoba menahan rasa rindu itu dan akan berusaha membiasakan diri hidup tanpa kehadiran anak-anaknya yang saat ini berada jauh di kota.
Tapi sepertinya mereka berdua tidak lagi dapat menahannya, rasa rindu itu seakan memenuhi jiwa sepasang suami-istri itu kini.
Leo bahkan terlihat masih berbaring di kamarnya meringkuk dan menutup separuh tubuhnya dengan selimut tebal, membuat Adelia yang baru saja selesai memasak untuk makan siang pun akhirnya masuk ke dalam kamar dan membangunkan suaminya.
Ceklek ...
Pintu kamar di buka, Adelia masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya membuka selimut yang kini menutupi tubuh suaminya.
''Mas, sayang ... Bangun. Ko tumben udah siang gini masuk tidur? apa kamu sakit, Mas?'' lirih Adelia.
Leo yang memang sebenarnya sudah bangun dari pagi akhirnya memutar tubuhnya dan berbalik menghadap istrinya.
''Aku baik-baik aja,'' jawab Leo singkat.
''Apa kamu kangen sama anak-anak dan cuci kita?''
Leo terdiam muram.
''Mungkin mereka sibuk, sayang.''
''Sesibuk-sibuknya mereka, seharusnya mereka meluangkan waktu untuk menanyakan kabar kita, setidaknya nelpon atau kirim pesan. Berangkat ke sini aja kita hanya berdua, apa karena aku sudah meninggalkan harta yang aku punya di sana, itu sebabnya mereka jadi tidak membutuhkan kita lagi?'' Leo merajuk seperti anak kecil.
''Hus ... Jangan bilang kayak gitu. Anak-anak kita gak ada yang seperti itu.''
''Buktinya ... Mereka mengabaikan kita sekarang.''
''Apa kamu sangat merindukan mereka?''
''Tentu saja, mereka anak-anak dan cucuku, mana mungkin aku tidak merindukan mereka. Axel, aku rindu wajah tampannya, Axela, aku rindu rengekan manjanya, dan Lucky aku rindu dengan petuah-petuah dewasanya, sedangkan ketiga cucuku, aku sangat ingin menggendong dan mendengar rengekan mereka bertiga.'' Gerutu Leo dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Adelia terdiam, sebenarnya dia pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, Adel ingin mencoba menyembunyikan semua itu, karena dirinya memang ingin benar-benar membiasakannya diri hidup tanpa anak-anaknya.
''Kenapa kamu diam saja? apa kamu gak merindukan anak-anak kita?'' tanya Leo bangkit lalu duduk di depan istrinya.
''Siapa bilang? aku ibunya, mana mungkin aku tidak merindukan mereka, rasa rinduku lebih dalam daripada lautan, tapi aku mencoba menahannya dan tidak ingin merengek kayak kamu,'' jawab Adelia lembut.
''Wajah kamu terlihat biasa aja.''
''Ha ... ha ... ha ... Terus aku harus gimana? apa kamu lupa bahwa aku adalah wanita yang tegar, dan aku masih seperti itu sampai sekarang.''
__ADS_1
Leo memeluk tubuh istrinya, membenamkan wajahnya di pundak sang istri, mencoba mencari ketenangan.
''Apa sebaiknya kita pulang saja ke kota?'' tanya Adelia balik memeluk tubuh suaminya.
''Nggak, aku gak mau. Aku sudah terbiasa tinggal di sini, dan aku bahagia dan senang juga berada di sini,'' jawab Leo semakin mempererat pelukannya.
''Ya sudah, kalau gitu kamu bangun dong. Merajuknya nanti lagi, isi perut kamu dulu, aku udah buatin gorengan lho, masih hangat lagi.''
Leo hanya terdiam, mendengar nama makanan kegemarannya di sebut pun tidak membuat selera makannya datang. Saat ini Leo hanya ingin bertemu anak-anaknya.
''Nanti saja, aku belum lapar.''
''Ko tumben, biasanya kamu langsung lapar tiap aku buatkan gorengan?''
''Selera makan aku sedang hilang sekarang, kamu temani saja aku berbaring, aku ingin seharian ini hanya berbaring dengan memelukmu, sayang.''
''Tapi ... kalau kamu gak makan, kamu bisa sakit lho?''
''Gak bakalan, nanti juga aku makan ko.''
Leo menarik tubuh istrinya untuk berbaring, dan segera memeluknya erat dengan selimut yang semakin direkatkan untuk menutup tubuh keduanya.
Adelia pun memutuskan untuk mengikuti keinginan suaminya, dia berbaring tepat di samping Leo, memeluk tubuhnya erat mencoba memejamkan mata.
Baru saja keduanya hendak benar-benar terlelap, dengan mata yang terpejam sempurna, tiba-tiba saja keduanya mendengar suara ketiga putra-putri yang saat ini sedang mereka rindukan.
''Sayang, apa kita sedang bermimpi? sepertinya aku mendengar suara anak-anak kita?'' tanya Leo masih dalam keadaan memejamkan mata.
Ceklek ...
Tiba-tiba saja, pintu kamar pun dibuka membuat Leo dan Adelia sontak terkejut dan kembali membuka mata menatap ke arah pintu.
''Papi ... Mom ... Kalian sedang apa? udah siang gini masih tidur? ya ampun kakek-nenek ini, mentang-mentang lagi berbulan madu, sampai-sampai gak mendengar teriakan kami,'' Axel berdiri di depan pintu dengan wajah tersenyum.
''Kamu siapa?'' tanya Leo pura-pura tidak mengenali.
''Ha ... ha ... ha ... Baru seminggu gak ketemu masa Papi udah ngelupain putra Papi yang paling tampan ini,'' Axel berjalan masuk ke dalam kamar.
''Bukan Papi yang ngelupain, tapi kalian yang ngelupain Papi, gak pernah ngirim pesan, apalagi nelpon. Apa kamu tau Papi sama Mommy rindu sama kalian, hah ...? tega sekali ...'' Leo bangkit dan merajuk seperti tadi, sementara Adelia segera turun dari ranjang dan memeluk putra sulungnya.
''Axel ... Mommy kangen sekali sama kamu. Papi'mu dari tadi emang marah-marah terus, katanya kalian tega dan sudah melupakan kami di sini,'' ucap Adelia mengusap punggung Axel.
''O ya ...?'' El mengurai pelukan.
''Tuh, liat aja muka Papi'mu, muram dan murung, dia sangat merindukanmu, El.''
Axel berjalan ke arah ranjang lalu duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
''Maaf, Pap. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Papi jangan marah lagi, sekarang aku ada di sini ko. Aku juga rindu sama kalian berdua.''
Axel seketika langsung memeluk tubuh kekar ayahnya, ayah yang sudah satu Minggu ini tidak dia temui, betapa hati seorang Axel sudah memendam rasa rindu ini, sama seperti yang dirasakan oleh ayah dan ibunya.
''Dimana kedua adikmu, apa mereka tidak ikut juga?'' tanya Leo mendekap erat tubuh putranya.
Tidak lama kemudian, Axela, Lucky, dan ketiga cucunya masuk ke dalam kamar, tidak lupa kedua menantu beserta Ayu pun ikut masuk dengan membawa kue tart bertuliskan 'Happy Anniversary Pernikahan Yang ke 25 tahun.' Membuat Adelia dan Leonardo benar-benar terkejut.
''Selamat ulang tahun pernikahan yang ke 25 tahun, Papi, Mommy ...'' ucap Axela dan sontak Leonardo dan Adelia seketika langsung berkaca-kaca merasa terharu.
''Kalian ...?'' lirih Adelia air matanya mulai berjatuhan.
''Iya, Mom. Kami di sini, kami memang sengaja ingin memberi kejutan untuk kalian berdua,'' jawab Lucky langsung memeluk erat tubuh ibunya.
''Ini ...? Ini ....? Kalian ingat kalau hari ini adalah hari jadi pernikahan kami yang ke 25? kami saja tidak ingat sama sekali, lho ...'' tanya Leo dengan wajah terkejut sekaligus terharu.
''Tentu saja kami ingat, mana mungkin kami melupakannya. Cepat tiup lilinnya, nanti keburu cair lho.'' Pinta Al yang saat ini sudah berada tepat di depan Leo dan Adelia.
Leo pun bangkit lalu berdiri di samping istrinya, meletakkan tangan di bahu sang istri lalu mulai meniup lilin tersebut sampai nyala apinya benar-benar padam.
''Selamat ya, Pap, Mom. Kalian sudah menjalani rumah tangga selama 25 tahun dan telah melahirkan kami, kami sungguh berterima kasih dan benar-benar beruntung terlahir dari orang tua baik seperti kalian,'' ucap Lucky memeluk Kedua orang tuanya secara bersamaan.
Melihat hal itu, Axela pun meletakkan kue tart di atas ranjang dan ikut memeluk mereka, begitupun dengan Axel si putra sulung, dia mendekap kedua adiknya serta kedua orangtuanya secara bersamaan, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar agar semuanya bisa dia peluk, seolah dia yang merupakan putra sulung dari pasangan Leonardo dan Adelia, akan menjadi pelindung untuk kedua orang tua dan juga kedua adiknya.
''Terima kasih. Kami juga sayang kalian semua ...'' lirih Leo dengan lelehan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Sungguh satu keluarga yang telah satu Minggu tidak saling bertemu itu saling meluapkan kerinduan yang selama ini mereka tahan. Leo menatap satu-persatu putra putri mereka, kerinduan yang selama ini dia tahan akhirnya kini tercurahkan.
Betapa hati seorang Leo merasakan kebahagiaan yang tidak terkira, di hari tuanya ini dia benar-benar merasakan bahwa hidupnya telah sempurna, memiliki putra putri baik dan sayang pada dirinya, memiliki tiga cucu kembar yang menjadi penyemangat hidupnya dan tentu saja memiliki istri yang cantik, baik hati dan sangat menyayangi dirinya, begitupun sebaliknya.
Adelia pun merasakan hal yang sama, pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan dahulu, lebih dari 20 tahun yang lalu dengan laki-laki bernama Leonardo benar-benar merubah kehidupannya.
Dia yang awalnya hanya seorang penjual gorengan keliling, kini telah menjelma menjadi istri dari pengusaha kaya raya dan hidup bergelimang harta, sungguh Adelia merasa bersyukur karena kehidupannya telah benar-benar sempurna sekarang meski tidak lagi ditemani oleh sang ibu yang kini telah tiada.
Adelia Pasha gadis penjual gorengan keliling kini telah menjadi wanita kaya raya bak seorang ratu yang berada di puncak dan ratu dari laki-laki bernama Leonardo.
Betapa Adelia sangat bersyukur kini, memiliki suami yang baik hati, selalu melimpahnya dengan kasih sayang, selalu memperlakukan dirinya dengan baik dan tidak pernah berubah sedikitpun, cintanya bahkan tidak pernah berkurang, meskipun pernikahan mereka telah berjalan lebih dari 20 tahun.
Adelia pun bersyukur karena memiliki putra-putri yang baik dan tidak pernah sekalipun mengecewakan dirinya, meski dia sempat kecewa dengan putrinya, namun, hal itu sama sekali tidak mengurangi rasa sayangnya terhadap putrinya tersebut.
Adelia pun tersenyum menatap keluarga bahagianya matanya pun kini nampak mulai berkaca-kaca penuh rasa haru dan juga sangat bahagia, tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan betapa bahagianya seorang Adelia, tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan betapa bahagianya hati seorang Leonardo.
Keduanya pun larut dalam pikiran masing-masing seraya menatap kelat wajah ketiga putra-putrinya yang saat ini berada di dalam dekapannya.
Adelia bahkan berkali-kali mengusap buliran air mata yang kini terus berjatuhan mengiringi kebahagiannya, di sini, di rumah peninggalan sang ibu, dia akan menghabiskan waktu bersama sang suami Leonardo, sampai ajal menjemputnya kelak.
'Terima kasih Tuhan, karena engkau telah menganugerahkan suami dan anak-anak yang baik, hamba sungguh bersyukur dan sangat bahagia, dan tidak menyesal sama sekali karena telah Terjerat Cinta Mafia Tampan seperti Leonardo ini ...' ( Batin Adelia)
__ADS_1
---TAMAT ----
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀