
Tiga bulan kemudian.
Alex Will, musuh bebuyutan Leonardo, dia terlihat sedang berjalan mondar-mandir di apartemennya, sudah tiga Bulang semenjak dirinya melayangkan ancaman serta menteror Leonardo, namun sampai saat ini mantan sahabatnya tersebut tidak pernah menghubungi dirinya, untuk membalas dendam, keadaan begitu terlihat tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Hal tersebut membuat Alex merasa heran, Leo tidak mungkin bersikap seperti ini, dari yang selama ini dia tahu, bahwa bos mafia yang bernama 'Black Window' itu adalah seorang pendendam.
''Hey, kamu... apakah ada pergerakan yang mencurigakan dari 'Black Window'...?'' tanya Alex menatap anak buah kepercayaannya.
''Tidak ada, bos. Dari pantauan mata-mata yang kami kirim setiap hari ke rumahnya, Leonardo selalu menjalani hari-hari'nya seperti biasa, dia bahkan bersikap seperti seorang suami yang baik, setiap hari pekerjaan nya hanya, berangkat ke kantor, dan setelah itu kembali ke rumahnya, selalu seperti itu, tidak ada kegiatan lainnya lagi yang dia lakukan.''
''Ini aneh sekali, apa yang sebenarnya dia rencanakan? mengapa sikapnya bisa setenang ini? Padahal waktu itu aku sudah mengancam dia habis-habisan, tidak mungkin kalau dia hanya bersikap biasa saja setelah semua yang aku lakukan itu?'' Alex menghentikan langkahnya dan termenung sejenak.
''Apa yang harus kami lakukan, bos?''
''Terus pantau dia, kalau ada hal lain yang di lakukan oleh'nya cepat kabari aku.''
''Baik, bos...! Tapi bos, sepertinya, istri dari Leonardo sekarang sedang hamil muda."
"Apa...? Oh, jadi itu sebabnya dia bersikap baik, seorang pembunuh yang ingin berubah menjadi orang baik karena sebentar lagi akan memiliki putra? Heuh... aku tidak akan membiarkan hidup kamu hidup tenang Leo...! lihat dan tunggu saja kejutan yang akan aku berikan kepadamu," sungut Alex dengan melayangkan senyuman sinis.
_____------_____
Di kantor Leonardo.
Trok
Trok
Trok
Angel mengetuk dan membuka pintu ruangan Leonardo.
"Permisi bos, ada proposal yang harus tanda tangani, tentang proyek baru kita," Angel masuk ke dalam ruangan bos'nya.
__ADS_1
''Mana berikan padaku,'' jawab Leo, tanpa menoleh.
Angel pun meletakan Map berwarna merah di atas meja, setelah itu Leo segera meraih dan membaca setiap lembar isinya.
''Apakah klien VIP kita sudah setuju dengan isi proposal ini?'' tanya Leo, menoleh ke arah Angel dan menatapnya datar.
''Sudah, bos. Tinggal menunggu persetujuan bos saja.''
''Baiklah... Terima kasih atas kerja kerasnya,'' Leo tersenyum senang, lalu membubuhkan tanda tangannya.
Tidak lama kemudian, Ryan pun masuk ke dalam ruangan, dengan membawa bungkusan yang berisi wadah berisi makanan, yang sengaja di kirimkan oleh Adelia untuk santapan makan siang suaminya di kantor.
Ceklek...
Ryan membuka pintu.
''Maaf, bos. Mengganggu...! Saya mau mengantarkan makan siang dari Nyonya Adelia," Ryan masuk dan meletakan bungkusan itu di atas meja.
"Sama-sama, bos.''
Angel yang masih berdiri di depan meja nampak mencuri pandang terhadap Ryan, niatnya untuk mendekati dan mulai melupakan mantan kekasihnya memang sedang dia lakukan, namun sampai saat ini dirinya masih belum juga mendapatkan lampu hijau, Ryan masih bersikap dingin kepada dirinya.
''Ehem...! apakah setelah ini kamu punya waktu luang? bagaimana kalau kita makan siang bersama? kebetulan aku tidak ada teman, mau mengajak bos'mu itu, dia pasti tidak mau,'' Angel mendekatkan tubuhnya berjalan ke arah samping dengan perlahan dan berdiri tepat di samping Ryan.
Ryan merasa gugup dan salah tingkah seketika itu juga, dia nampak tersenyum yang di paksakan dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
''Eu... bagaimana ya...?'' jawab Ryan seperti sedang berfikir.
''Kamu sudah sering lho, menolak ajakan aku dengan alasan sibuk, masa kali ini juga mau menolak ku lagi? cuma makan siang doang lho...?'' Angel dengan nada suara yang terdengar kecewa.
''Eu... eu... baiklah, nona Angel. Kamu tunggu saja di depan nanti saya ke sana,'' jawab Ryan akhirnya.
''Oke, aku tunggu ya...'' Angel tersenyum senang lalu keluar dari dalam ruangan.
__ADS_1
Ryan mengangguk masih dengan senyum yang di paksakan lalu menatap wajah bos'nya yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Merasa tidak enak, Ryan pun segera pamit dan hendak keluar dari dalam ruangan.
''Tunggu...!'' cegah Leo.
''Ada apa lagi, bos. Apa masih ada tugas yang harus saya kerjakan?'' Ryan menghentikan langkahnya.
''Aku tidak bermaksud ikut campur dengan urusan pribadimu, tapi aku sarankan kamu untuk berhati-hati dengan Angelina,'' ucap Leon menatap wajah Ryan.
''Maksud bos bagaimana?''
''Maksud saya...! sudahlah... tidak usah di pikirkan, aku tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan pribadi'mu,'' Leo tidak meneruskan ucapannya.
''Baik, kalau begitu, saya permisi, bos,'' Ryan sedikit membungkukkan tubuhnya lalu berjalan keluar dari dalam ruangan.
Leo menganggukan kepalanya, menatap punggung Ryan yang berjalan keluar dari dalam ruangan dirinya. Ryan sendiri sudah seperti saudara bagi Leo, dirinya tidak akan rela jika orang kepercayaan'nya itu sampai di sakiti oleh wanita yang pernah menjadi kekasihnya, seperti yang pernah dia rasakan dahulu.
______________----------______________
*Jangan Lupa
Like
komen
vote
Hadiah
Agar Author semangat up nya...
Terima kasih, semoga kalian sehat dan bahagia selalu...
*****
__ADS_1