
Adelia masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu dan menguncinya, entah mengapa perutnya terasa sangat sakit, di iringi dengan rasa mual yang membuat dadanya terasa sesak seketika.
Huek
Huek
Huek
Adelia pun menundukkan kepalanya di toilet yang telah di buka, seraya tangan yang meremas perutnya yang terasa semakin sakit tidak terkira.
Lalu dirinya pun bersandar di tembok dengan badan yang terasa lemas serta kepala yang tiba-tiba saja terasa berputar.
Seiringan dengan hal tersebut darah segar pun sedikit keluar dari ************, disertai rasa sakit yang sudah tidak dapat lagi di tahan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kamar mandi, suara sang suami pun samar-samar terdengar di telinga'nya, Adel ingin menjawab namun suaranya serasa berat, dia juga ingin membuka pintu dan meminta tolong, namun raganya serasa tidak dapat dia gerakkan, alhasil dia pun tergolek di atas lantai kamar mandi, tidak sadarkan diri.
Bruk
Bruk
Bruk
Leo membuka paksa pintu kamar mandi yang baru beberapa Minggu di perbaiki kini sudah terlihat rusak kembali, dia pun masuk ke kamar mandi dan terkejut seketika mendapati tubuh sang istri tergeletak di atas lantai, memejamkan mata seperti tidak bernyawa, dengan darah segar mengalir di kedua kaki.
Dia pun panik, dan segera meraih tubuh sang istri, menggendongnya keluar dari dalam kamar mandi, tanpa berpikir panjang, dia pun segera membawa Adelia ke Rumah sakit.
***
Sesampainya di Rumah Sakit Leonardo segera membawa sang istri ke ruang Unit Gawat Darurat, dan di sana dia pun segera di sambut oleh dua perawat yang menghampiri dengan ramah.
Kedua perawatan tersebut segera membawa Adelia masuk ke ruang perawatan, tidak lama kemudian Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Adelia.
__ADS_1
Leo menunggu dengan perasaan cemas, dia merasa bersalah atas apa yang menimpa istrinya, seharusnya dia tidak bersikap egois dan mengabaikan sang istri yang sedang dalam keadaan hamil muda.
Mungkin saja Adelia mengalami kejadian ini karena dia merasa stres dan tertekan karena sikap yang dia tunjukan selama beberapa hari ini, dan sungguh hati Leo diselimuti rasa bersalah yang teramat dalam.
'Maafkan kau istriku, kamu seperti ini pasti gara-gara aku yang bersikap terlalu keras padamu, seharusnya aku lebih memperhatikan dirimu, jika aku sampai kehilangan anak kita, sungguh aku tidak akan memaafkan diriku sendiri,' (Batin Leo berucap)
Selama hampir satu jam, Adelia di periksa di dalam ruangan, dan selama itu pula Leo berada di luar sana dengan setia menunggu disertai rasa bersalah yang memenuhi seluruh relung jiwanya.
Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar, Dokter perempuan yang waktu itu pernah menangani Adelia sewaktu dia mengandung si kembar.
''Bagaimana keadaan Istri saya, Dokter?'' Leo segera menghampiri dan bertanya.
''Alhamdulillah Nyonya Adelia sudah baik-baik saja.''
''Syukurlah...! Lalu bagaimana dengan bayi yang berada di dalam kandungan'nya? Apakah dia juga baik-baik saja?'' Leo kembali bertanya dengan perasaan cemas.
Dokter pun terdiam sejenak, menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, setelah itu baru mulai menjelaskan.
''Kondisi bayi di dalam kandungan Nyonya Adelia tidak apa-apa, untungnya darah yang keluar tidak terlalu banyak sehingga janin masih di bisa di selamatkan, dan tentunya, berkat Tuan Leonardo yang segera membawa Nyonya Adelia kemari, sehingga dia bisa langsung di tangani,'' jawab sang Dokter.
''Tapi, tuan...! Anda tidak boleh senang dulu, karena kandungan Nyonya sempat mengalami pendarahan, sekarang kondisi kandungannya sangat lemah, Nyonya harus di rawat di sini selama beberapa hari terlebih dahulu, untuk memastikan kondisi kandungan'nya benar-benar baik-baik saja.''
''Dan satu lagi, nyonya Adelia tidak boleh stres yang berkepanjangan dan terlalu berlebihan, di sarankan untuk dia selalu dijaga perasannya, agar hatinya pun selalu bahagia, karena jiga ibu yang sedang dalam keadaan hamil muda stres dan menanggung beban yang terlalu dalam, dapat berakibat buruk terhadap janin yang sedang di kandung'nya,'' Dokter menjelaskan panjang lebar.
''Baik, Dokter. Saya akan mengingat setiap ucapan Dokter,'' jawab Leo, dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
''Kalau begitu saya permisi, Tuan,' Dokter hendak pergi.
Namun sang Dokter mengurungkan niatnya dan kembali menatap wajah Leonardo.
''O iya, Tuan. Nyonya Adelia juga tidak boleh berjalan terlebih dahulu, dia harus memakai kursi roda, meski sudah pulang dari Rumah Sakit nanti,'' Dokter pun kembali meneruskan langkahnya.
__ADS_1
''Baik, Dokter. Saya akan mengingatnya, terima kasih.''
Sang Dokter pun akhirnya benar-benar pergi, meninggalkan Leo yang berdiri mematung, dan merenung, merasa bersalah atas apa yang menimpa istri tercintanya.
Beberapa jam kemudian, Adelia pun di pindahkan ke ruang rawat inap, meski dia belum siuman, namun Dokter sudah memperbolehkan Istri dari Tuan Leonardo itu untuk di pindahkan, agar mendapatkan suasana yang tenang.
Sudah lebih dari dua jam Adel berada di ruang rawat inap, ruangan VVIP seperti biasanya, Leo duduk di tepi ranjang menunggu Adel siuman, namun Istrinya tersebut, tak kunjung bangun, seperti sengaja tertidur.
Merasa khawatir, Leo pun berencana untuk memanggil Dokter untuk menanyakan prihal istrinya, namun saat dia hendak berdiri dan melangkah, tiba-tiba saja tangannya di tahan oleh jemari lembut Adelia.
Leo pun sontak saja menghentikan langkahnya, kembali berbalik dan menatap sang istri yang kini telah membuka mata, dan sedang menatap dirinya.
''Istriku, Adelia... sayang... kamu sudah bangun?''
Leo mengusap rambut istrinya, lalu mengecup kening sang istri, di iringi buliran air mata yang sedari tadi telah dia tahan dengan segenap kekuatan.
''Ku dimana?'' lirih Adel, menatap ke sekeliling kamar.
''Kamu di Rumah sakit, sayang. Maafkan aku, Istriku... sungguh aku minta maaf, karena sikap egois ku, kita hampir saja kehilangan calon bayi kita, hiks hiks hiks...''
Leo menggenggam erat jemari sang istri yang terlihat lemas dan tidak berdaya.
''Apa...?'' Adel mulai berkaca-kaca.
''Seharusnya aku lebih bersikap lembut dan dapat membujuk dirimu agar kamu mengurungkan niatmu untuk menggugurkan kandungan ini, memberikan pengertian dengan cara yang lembut agar kau tidak mengalami tekanan, bukan malah mendiamkan'mu dan membuat perasaan'mu stres dan semakin tertekan.''
''Aku sungguh minta maaf untuk itu, kamu tahu menggugurkan kandungan itu hukumnya dosa besar, sebesar apapun masalah yang sedang kau hadapi, dan seberat apapun beban kita yang sedang kita pikul di dalam kehidupan ini, tetap saja, bayi kita tidak bersalah.''
''Pasti ada alasan mengapa Tuhan mengirimkan bayi ini kepada kita, dan masih menyelamatkan'nya meski kamu sudah mengalami pendarahan, yakinlah, sayang. Istriku... Aku sangat mencintaimu, dan aku akan selalu menemani dan mendampingi dirimu, apapun yang terjadi sampai kita tua nanti...''
Ucap Leo dengan berurai air mata, yang di sambut dengan tangisan oleh istrinya, keduanya pun saling berpelukan dan meluapkan kesedihan dan kerinduan yang selama ini di tahan.
__ADS_1
_________----------__________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Ya Reader.... ❤️