
Akhirnya Leonardo memutuskan untuk pulang ke rumah, meski waktu sudah menunjukan pukul tiga dini hari, dia tidak ingin meninggalkan Adelia, dirinya ingin tetap menjaga istri serta bayinya, meski ada ibu mertua yang pasti akan menjaga Adel dengan baik, namun tetap saja, hatinya merasa tidak tenang apabila harus meninggalkan istrinya tersebut.
Leonardo masuk kedalam rumahnya dengan membuka sepatu dan menentengnya dengan kedua tangannya, dia berjalan dengan berjinjit kaki, tidak ingin mengeluarkan suara sedikit pun.
Dia berharap bahwa Adelia sudah tertidur dan tidak mengetahui kedatangan dirinya, dirinya berniat untuk langsung pergi ke kamarnya, dan segera tertidur di samping istrinya, seolah-olah dia sudah pulang dari tadi.
Leo pun tersenyum memikirkan hal tersebut, sambil terus berjalan jinjit masih dengan sepatu di tangannya. Akhirnya dia sampai juga di bawah tangga dan bersiap untuk naik ke lantai dua, namun, baru saja dirinya hendak menapaki kaki di anak tangga, lampu rumahnya tiba-tiba saja menyala.
Leo pun terkejut seketika, melihat ke sekeliling rumahnya mencari siapa yang menyalakan lampu begitu saja, kemudian matanya pun menangkap sosok yang sangat dia kenal.
Berjalan menuruni tangga dengan langkah yang gontai, serta tatapan mata yang mengarah tajam ke arah wajah dirinya.
''Adelia... Istriku, seharusnya kamu tidur ini sudah malam... he... he...!'' Leo berucap seraya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
''Sekarang sudah pagi, bukan malam lagi. Dari mana kamu, jam segini baru pulang?'' tanya Adelia dengan kedua tangan yang di simpan di pinggang, masih dengan menatap wajah suaminya, membulatkan bola matanya seolah siap untuk menerkam.
''Begini... sayang...! Aku kan habis ngejar orang yang tadi mengirimkan teror kepada kita,'' jawab Leo dengan wajah cengengesan.
Adelia pun sudah sampai di ujung tangga, dia sudah dapat melihat wajah suaminya dan terkejut seketika mendapati wajah tampan sang suami yang penuh dengan luka lebam.
Dia pun hendak menempelkan telapak tangannya untuk meraba luka, namun Leo memundurkan langkah dengan kepalanya yang di angkat ke atas.
''Wajah'mu kenapa?'' tanya Adel mengangkat tangannya.
''Apa...? tidak ko? aku tidak apa-apa,'' mundur satu langkah.
''Diam dulu, aku mau melihat wajah'mu,'' Adel membulatkan bola mata dan menatap wajah Leo.
''Eu... ini... tadi aku--'' Leo tidak meneruskan ucapannya.
''Kamu habis berkelahi?''
''Iya..! eu... tidak...! eh... iya... iya... tidak... tidak... maksudku...eu...'' jawab Leo terbata-bata serta memasang raut wajah polos.
''Iya... apa tidak...?'' Adelia menaikan nada suaranya.
Leo terdiam menunduk tidak tahu harus berkata apa.
''Wajah'mu penuh dengan luka, apakah sakit? ya ampun suamiku, kasihan sekali kamu,'' lirih Adel meraba satu persatu luka yang terdapat di wajah tampan suaminya.
''Sakit sekali... Argh...'' Leo berpura-pura meringis kesakitan.
''Mari aku obati luka'mu.''
''Baik, sayang. Aku tahu kamu tidak akan marah, kamu kan istri yang baik dan sangat perhatian,'' Leo cengengesan.
__ADS_1
''Siapa bilang aku tidak marah?'' Adel kembali menaikan suaranya.
''Argh... sakit sekali, cepat obati luka'ku,'' Leo kembali berpura-pura meringis kesakitan dengan mata yang melirik wajah istrinya dan memegangi wajahnya sendiri.
''Cepat duduk disana, sebentar aku ambilkan dulu kotak obatnya,'' Adelia pun pergi untuk mengambil kotak obat yang memang selalu di sediakan.
''Iya, sayang. Jangan lama-lama ya, aku sudah tidak tahan, sakit sekali,'' Leo sedikit berteriak namun dengan wajah yang masih cengengesan.
Adelia tidak menghiraukan teriakan suaminya, dia terus berjalan.
'Untung saja Adel tidak curiga, kalau sampai dia tahu aku habis bertarung, bisa tamat riwayat'ku' ( Leo bergumam pelan)
Tidak lama kemudian sang istri pun kembali dengan membawa kotak obat, dia pun duduk di samping suaminya, membuka kotak tersebut dan mulai mengobati.
''Diam, jangan bergerak,'' Adel meraih wajah sang suami dengan tangannya.
''Pelan-pelan, Del. Sakit...''
''Duh kamu, katanya bos mafia, tapi luka seperti ini saja sudah kelabakan, lemah banget si,'' ucap Adel dengan yang yang nampak mengoleskan obat di setiap luka yang terdapat di wajah suaminya.
''Itu kan dulu, sekarang aku bukan bos mafia lagi, tapi suami dan ayah yang baik untuk'mu dan calon anak kita,'' jawab Leo berbohong.
''Bohong...''
''Aku tidak bohong ko, sungguh... he... he...'' Leo kembali cengengesan.
''Iya, baik Adelia Pasha... kamu makin cantik kalau sedang marah kayak gini.''
Adel melotot menatap wajah suaminya membuat sang suami merapatkan bibirnya langsung terdiam, dengan mata yang memandang lekat wajah sang istri, masih dengan sedikit cengengesan.
''Nah, sudah selesai. Sekarang cepat istirahat, hari ini kamu tidak usah ke kantor, istirahat saja di rumah, ya...''
''Baik, istriku... he... he...''
Adel membereskan kembali kotak obat tersebut dan meletakkannya di atas meja.
''Del...! Adelia...! Ehem...!'' Leo meraih lengan istrinya, dengan mata yang terlihat di kedip'kan.
''Apa...?''
''Anu...'' Leo kembali mengedipkan satu matanya dengan wajah manja.
''Apa... Anu... Anu... Ehem... Ehem... ngomong yang bener?''
''Apakah malam ini aku boleh meminta jatah malam?'' Leo dengan mengusap punggung tangan Istrinya.
__ADS_1
''Hmmm... bukankah kamu sedang kesakitan? masa mau minta jatah?''
''Nggak ko, aku sudah sembuh, coba lihat, aku sudah baik-baik saja sekarang,'' Leo berdiri lalu menggerakkan kaki dan tangannya, bergoyang ke kanan dan ke kiri, bahkan jalan di tempat untuk menunjukan bahwa tubuhnya sudah dalam keadaan sehat.
''Dih, dasar... apa jangan-jangan tadi kamu hanya pura-pura?'' Adel mulai curiga.
''Nggak ko, sungguh, tadi memang terasa sakit tapi sekarang sudah tidak, berkat kamu yang dengan penuh kasih sayang mengobati luka'ku, sekarang aku sudah benar-benar baik-baik saja, hanya butuh sedikit sentuhan, itu tuh, ehem...''
''Hmmm...'' Adel menarik napas panjang, lalu menganggukan kepalanya.
''Beneran?'' Leo tersenyum senang.
''Tapi di kamar ada ibu yang sedang tidur?''
''Tidak apa-apa, masih ada kamar lainnya yang bisa kita gunakan untuk ehem... ehem...'' Leo cengengesan.
Dengan perasaan senang karena akan mendapatkan jatah malam sebagai seorang suami, akhirnya Leo pun menggendong tubuh sang istri, bobot istrinya sedang mengandung pun tidak menjadi halangan untuk'nya, meski terasa berat, dia tidak menyerah dan membawa tubuh sang istri di dalam gendongan'nya berjalan menuju kamar yang berada di lantai satu.
Ceklek...
Kamar pun di buka, Leo pun masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh sang istri.
''I love you, honey.''
Leo berbisik di telinga Adelia dengan suara yang terdengar pelan.
''I love you, to. Leonardo... sang Mafia tampan...''
Adel menjawab dengan suara pelan dan penuh dengan *******, membangunkan naluri sang suami yang mulai naik ke permukaan.
____________--------____________
*Jangan lupa
Like
komen
vote
Hadiah
Agar Author semangat up nya...
Terima kasih reader ❤️ ❤️ ❤️*
__ADS_1
****