
Gabriel, berjalan mengendap memasuki rumah besar milik Leonardo, dia sengaja menjalankan misi nya di rumah pribadi yang menjadi target utama, agar kematian Leo terlihat seperti sebuah perampokan.
Sebenarnya dia bisa saja melakukan hal tersebut ketika sang target sedang berada di luar, namun karena target utama bukanlah orang sembarangan, yaitu seorang mantan bos mafia yang tentu saja tidak mudah di untuk di kalahkan, akhirnya dia lebih memiliki mendatangi rumahnya dan membunuhnya ketika orang tersebut sedang dalam keadaan tertidur.
Perlahan Gabriel memasuki rumah yang sudah dalam keadaan gelap gulita dan penghuninya pun sudah tertidur semua, karena sebelumnya dia telah mengintai rumah tersebut selama beberapa hari, membuat Briel tidak terlalu kesulitan dalam mencari kamar utama dimana target berada.
Dia pun naik ke lantai dua, dengan langkah pelan dan mata melihat ke sekeliling memantau keadaan, dengan mengenakan topi hitam dan masker yang menutupi separuh wajahnya membuat Gabriel tidak terlalu terlihat jelas di dalam kegelapan.
Akhirnya dia sampai di lantai dua, berjalan dengan langkah yang masih terlihat pelan dan sangat hati-hati, tidak ingin sampai membangunkan penghuni yang sedang tertidur.
Briel pun melintasi sebuah kamar yang terlihat tertutup rapat, dan merasa yakin bahwa pemilik kamar pasti sedang tertidur lelap.
''Dek, apakah itu kamu?"
Tiba-tiba saja terdengar suara dari dalam kamar, panik ... Briel pun mempercepat langkahnya, namun terlambat, pintu pun di buka dan seorang wanita keluar dari dalam kamar, berdiri tepat di depan kamar .
"Siapa kamu?"
Briel terdiam, menghentikan langkahnya, mematung, dengan tangan yang merogok pinggang dimana dia menyimpan pistol.
"Cepat katakan, kamu siapa?"
Al menaikan suaranya.
Tidak ingin membuat wanita yang saat ini berada di belakang dirinya semakin membuat kegaduhan, Briel pun memutuskan untuk membungkam wanita tersebut, dia pun berbalik lalu mengangkat tangannya ke depan, dengan pistol berada di dalam genggaman, mengarah tepat di wajah Axela.
Briel menyipitkan matanya, menatap dengan seksama wajah wanita yang kini seperti bergetar merasa ketakutan, sorot lampu kamarnya yang mengarah tepat ke wajah Al membuat Briel dapat mengenali wajah wanita tersebut dengan jelas.
''Axela ...?'' Gumamnya pelan.
Tubuh Briel mendadak bergetar, hatinya bagai dilanda gelombang badai, pikirannya kacau, matanya pun sudah terlihat berair, apa yang terjadi? mengapa wanita yang di cintai'nya berada di sana? apa mungkin orang yang akan dia bunuh adalah ayah dari kekasihnya? hati Briel sungguh dilanda dilema, apa yang akan dia lakukan sekarang?
Sementara Al, dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya terasa bergetar dengan mulut yang seolah terkunci rapat, matanya pun sudah berkaca-kaca, ketakutan sekaligus terkesima, karena pistol yang mengarah tepat di wajahnya.
''Di-diam di situ, a-atau a-ku akan membunuhmu,'' lirih Briel menyesal karena harus mengatakan hal itu sebenarnya.
__ADS_1
Al hanya terdiam, tubuhnya pun semakin gemetar, ingin berteriak kencang namun takut jika pistol itu akan memuntahkan peluru nantinya, apa yang harus dia lakukan? haruskan dia diam saja menunggu kematian? batin Al.
Mereka pun saling menatap satu sama lain, wajah Briel yang tertutup masker membuat Axela tidak dapat mengenali wajahnya, di tambah topi dan suasana yang gelap, membuat Al semakin tidak dapat melihat dengan jelas wajah penjahat yang berada di hadapannya.
''TOLONG ...! ADA PENCURI.''
Al pun memutuskan untuk berteriak kencang, teriakannya terdengar sangat nyaring hingga membangunkan semua keluarganya yang sedang tertidur.
Panik, Gabriel pun segera berlari kencang, tidak ingin sampai tertangkap, dia berlari di antara kegelapan, menyusuri lorong hingga akhirnya tiba di depan jendela.
Truk
Truk
Truk
Tiba-tiba saja terdengar langkah kaki orang mengejar, semakin dekat dan tubuhnya pun semakin gemetar, sebenarnya dia tidak takut jika harus berduel dengan siapapun, toh memang tujuan awal dia datang ke rumah itu adalah untuk membunuh, yang dia takutkan adalah, kalau sampai Axela atau saudara kembarnya dapat mengenali dirinya.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk memecahkan kaca jendela yang membentang tepat di hadapannya, menggunakan kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, kaca tersebut pun pecah seketika dengan serpihan kaca yang berserakan di atas lantai.
Leo yang mengejar dari belanja pun mempercepat langkah kakinya, berharap bahwa dia dapat menangkap orang yang masuk ke dalam rumahnya tersebut.
Namun terlambat, dengan kecepatan kilat, pria bernama Gabriel itu berhasil melompat ke bawah, berguling di atas rumput hijau, dengan tangan yang mengeluarkan darah segar karena tergores kaca yang masih menancap di jendela.
''Brengsek ...!'' Leo menggerutu kesal.
Tidak mau kalah, dia pun naik ke atas jendela dan ikut melompat ke bawah, meski usianya sudah tidak muda lagi namun kemampuan seorang Leonardo masih di atas rata-rata.
Dia pun mengejar Gabriel yang sedang berlari hendak keluar dari halaman, kecepatan Briel yang sudah berkurang akibat luka di lengan kanannya membuat Leo dapat mengejar pria tersebut dengan mudah.
''Brengsek ... berani-beraninya kamu masuk ke rumah seorang mafia,'' Leo meraih kerah jaket hitam milik Gabriel, hingga terjungkal kebelakang.
Bruk ...
Briel pun tersungkur ke atas rumput hijau, tapi kemudian dia kembali bangkit dan berdiri tepat di depan Leonardo, orang yang semula akan dia habisi.
__ADS_1
'Apakah dia ayah Axela ...? calon mertua aku nantinya jika aku menikahi dia,' (batin Briel, menatap wajah Leo.)
''Brengsek ...! siapa yang menyuruhmu masuk ke rumahku tanpa izin, hah ...?'' Teriak Leo menunjuk satu tangan'nya.
Briel hanya terdiam.
Kesal karena tidak mendapat jawaban, Leo pun menyerang Gabriel, dan pertarungan satu lawan satu pun di mulai, keduanya pun berduel.
Buk
Bak
Bruk
Keduanya saling menyerang dan saling menepis serangan lawan.
Apa yang terjadi kepada seorang Gabriel, seharusnya ini merupakan kesempatan dirinya untuk dapat menghabisi target utamanya, namun sepertinya dia tidak dapat melakukan hal tersebut, mengingat bahwa pria yang saat ini sedang bertarung dengan dirinya adalah ayah dari wanita yang dia cintai.
Kemampuan bertarung Gabriel sama sekali tidak sepadan dengan kemampuan bertarung seorang Leonardo, kepalan tangan Leo berkali-kali dapat dengan mudahnya menghantam wajah tampan Gabriel.
Leo pun menendang perut bahkan pundak pria tersebut, hingga dia kini tersungkur bersimbah darah di atas rumput hijau.
Leo berjalan menghampiri, dengan wajah yang terlihat kesal dia hendak membuka masker yang di kenakan oleh Gabriel.
Namun tiba-tiba ...
''Maafkan aku Al ...!'' lirih Briel pelan.
Dor ...
Briel terpaksa melayangkan tembakan ...
__________------------___________
promosi
__ADS_1