Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Penyesalan


__ADS_3

''Terima kasih karena telah mengatakan hal yang membuat hatiku tenang, andai saja kamu mengatakan ini dari kemarin-kemarin, mungkin aku tidak perlu melewati hari yang sulit seperti ini,'' lirih Adelia dengan terisak di dalam pelukan suaminya.


''Iya, sayang. Aku sungguh minta maaf, karena aku terlambat mengatakan'nya, sungguh, itu adalah penyesalan terbesar di dalam hidupku.''


''Tidak apa-apa, toh sekarang kamu sudah mengatakannya, dan itu membuat perasaanku lebih tenang sekarang,'' Adel mulai sedikit tersenyum, meski senyumnya masih terlihat sedikit di paksakan.


''Tapi kamu memaafkan aku kan?'' Leo menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh dengan rasa penyesalan.


''Tentu saja, aku mengerti mengapa kamu bersikap seperti ini,'' lirih Adel pelan.


''I Love You so much...''


"I Love You To..."


Keduanya pun melepaskan pelukan masing-masing, saat Dokter mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.


''Selamat siang, Nyonya Adelia...'' sapa Dokter tersenyum dan berjalan menghampiri.


''Selamat siang juga, Dokter.''


''Lho, kok Nyonya seperti'nya baru saja menangis? apa Tuan Leo lupa pesan saya tadi pagi?'' tanya Dokter dengan perasaan sedikit kesal.


''Tidak apa-apa Dokter, lagi pula sekarang perasaan saya sudah sedikit membaik, Dokter tidak perlu khawatir,'' lirih Adelia, yang tidak mau suaminya dimarahi.


''Nyonya...! Anda itu baru saja berada di ambang kematian, andai saja suami anda terlambat membawamu ke Rumah sakit, mungkin bukan hanya nyawa janin'mu yang tiada, tapi nyawa'mu juga, jadi mulai sekarang, Nyonya harus bisa menjaga perasaan Nyonya.''


''Apa lagi sekarang, Nyonya tidak boleh terlalu banyak bergerak, harus banyak beristirahat, bahkan berjalan pun di sarankan harus menggunakan kursi roda. Apakah Nyonya dan Tuan tahu, janin di dalam kandungan Nyonya selamat saja itu sudah merupakan sebuah keajaiban? dan hal yang jarang di temui, ini seperti sebuah mukjijat besar, pasti ada alasan mengapa hal ini sampai terjadi,'' Dokter menatap wajah Adelia serta Leo secara bergantian.


''Maafkan saya, Dokter.'' Leo menunduk penuh penyesalan.


''Lain kali, Tuan harus lebih berhati-hati, hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi, paham...?''


''Iya, saya paham, Dokter. Saya berjanji akan menjaga istri serta janin di dalam'nya dengan lebih baik,'' Leo menatap wajah istrinya dengan raut wajah yang penuh penyesalanku.


''Kalau begitu, saya akan memeriksa kondisi Nyonya Adelia sekarang,'' ucap Dokter kemudian.


Sang Dokter pun memeriksa keadaan pasien'nya, secara seksama dan dengan sangat hati-hati, lalu Dokter juga melakukan USG Empat Dimensi untuk melihat kondisi janin didalam kandungan Adelia, dan memastikan bahwa kandungan pasiennya benar-benar baik-baik saja.

__ADS_1


Setelah melakukan hal tersebut, Dokter pun tersenyum merasa lega, karena janin yang masih berusia beberapa Minggu itu sepertinya dalam keadaan baik-baik saja.


''Syukurlah, janinnya perlahan membaik, tapi ini tidak serta merta, membuat kalian bernapas lega, kalian berdua harus mengikuti instruksi saya yang tadi, jika ingin janin ini sehat dan selamat sampai tiba saatnya di lahir'kan nanti, ya...''


''Baik, Dokter. Terima kasih.''


''Kalau begitu, saya permisi. Nyonya dan Tuan,'' Dokter pun keluar dari dalam ruangan.


Sepeninggal sang Dokter, Leo kembali menatap wajah sang istri dan mengucap kata maaf secara berkali-kali, diiringi dengan rasa penyesalan yang kini memenuhi relung hati.


''Aku berjanji, tidak akan pernah melakukan hal ini lagi, ya...''


Adel mengangguk lesu.


Jujur saja, sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Adelia pun diliputi rasa penyesalan yang teramat besar, menyesal karena telah memiliki niat untuk menggugurkan bayi yang sama sekali tidak berdosa ini.


Ucapan suaminya tadi benar-benar menyadarkan dirinya bahwa, bayi ini tidak memiliki salah apapun, dirinya lah yang bersalah karena telah melakukan dosa besar, dan mungkin tidak termaafkan, namun bayi ini, dia sama sekali tidak tahu apapun, bayi yang masih berupa gumpalan darah ini tetap'lah merupakan titipan dari yang maha kuasa yang harus dia jaga.


Dan satu hal lagi, pasti Tuhan memiliki alasan mengapa janin ini di ciptakan dengan begitu kuat, sehingga pendarahan yang baru saja di alami olehnya tidak serta merta membuatnya kehilangan nyawa.


***


Trok


Trok


Trok


Pintu ruangan pun di ketuk dan ibu yang mendapatkan kabar bahwa putrinya masuk Rumah Sakit membuka pintu dan masuk ke dalam Ruangan.


''Ibu...'' Adel tersenyum senang melihat wajah ibu nya.


''Sayang, maaf ibu terlambat datang kemari?'' ucap sang ibu dengan raut wajah yang penuh dengan kesedihan.


''Ibu sama siapa kesini?''


''Ibu di beri kabar oleh suami'mu, dan Ryan menjemput ibu dari kampung,'' ibu berdiri di samping ranjang.

__ADS_1


Leo yang baru saja, datang setelah membeli makanan dari luar pun segera menyalami ibu dan memeluk tubuh ibu penuh dengan rasa kerinduan.


''Maafkan aku, Bu. Karena terlambat memberi kabar,'' ucap Leo di dalam pelukan sang ibu.


''Iya, tidak apa-apa, sayang. Yang penting keadaan Adelia sudah baik-baik saja sekarang,'' jawab ibu lembut penuh kasih sayang.


Leo pun melepaskan pelukan ibu dan meletakan kotak makanan di atas meja, dia pun berjalan dan menghampiri istrinya berdiri tepat di samping ibu di samping ranjang.


''Bagaimana keadaan'mu, sayang. apakah sudah baik-baik saja?'' tanya ibu mengusap rambut putri satu-satunya yang sangat di sayangi'nya itu.


''Iya, Bu. Aku sudah baik-baik saja ko, ibu tidak perlu khawatir,'' jawab Adel tersenyum.


''Syukurlah, ibu senang mendengarnya.''


''Sayang, sebaiknya kamu berangkat ke kantor, sudah beberapa hari ini kamu meninggalkan pekerjaan, sekarang kan sudah ada ibu yang menemani, jadi kamu tidak usah khawatir lagi, lagi pula keadaan aku juga sudah membaik,'' Adel menatap wajah suaminya.


''Baiklah kalau begitu, setelah makan sebentar, aku akan pulang dan berangkat ke kantor.''


Adel mengangguk lalu tersenyum.


***


Leo sedang berada di kantor, setelah di tinggalkan selama beberapa hari ini, pekerjaannya di kantor banyak yang tertinggal dan terbengkalai. Meski ada sekertaris'nya yang menghandle pekerjaan'nya, namun tetap saja, dirinya harus kembali memeriksa agar bisa memastikan bahwa keadaan perusahaan sedang baik-baik saja.


Seperti yang sedang dilakukannya saat ini, Leo nampak sedang membaca setumpuk berkas yang harus dia tanda tangani, dengan memakai kaca mata yang melorot turun di bawah hidungnya, dan dasi yang sedikit di longgarkan, dia pun membaca satu persatu, lembaran kertas tersebut.


Kring


Kring


Kring


Ponselnya pun tiba-tiba saja berbunyi, Leo pun menatap layar ponsel dan sepertinya nomor tidak dikenal menghubungi dirinya, setelah memperhatikan sebentar, akhirnya dia pun mengangkat telpon.


''Halo, siapa ini?'' Leo mengangkat telpon seraya tangannya masih dalam keadaan memegang ballpoint.


''Halo... sahabat'ku, bagaimana keadaan'mu? apakah kamu masih ingat dengan'ku?''

__ADS_1


_____________----------____________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️💓💓


__ADS_2