
Lucky diam lalu menunduk, dia tidak tau lagi harus berkata apa kepada kekasihnya itu, tidak mungkin rasanya jika dia harus menyembunyikan fakta, bahwa Revan dan istrinya adalah kedua orang tua Ayu, tapi dia juga tidak ingin jika Ayu diliputi banyak pertanyaan, tentang kenapa dia bisa melupakan orang tuanya sendiri. Akh ... Lucky benar-benar dilanda dilema.
''Luck ... kenapa diam saja?'' tanya Ayu lagi seraya mengerutkan keningnya.
''Eu ... Anu Yu ... mereka ...''
''Mereka beneran orang tua aku?''
Lucky mengangguk lalu menunduk.
''Tapi kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat mereka? bahkan wajah mereka terasa asing, dan aku sama sekali tidak merasakan getaran apapun saat mereka berada di sini tadi.''
''Eu ... itu karena kamu hilang ingatan, sayang ...''
''Tapi kenapa aku sama sekali gak melupakan kamu? apa yang sebenarnya terjadi? aku benar-benar bingung,'' Ayu mulai berkaca-kaca.
Lucky segera memeluk tubuh kekasihnya itu, membenamkan kepalanya di dada seraya mengecup pucuk kepalanya lembut.
''Pelan-pelan, sayang. Aku yakin lambat laun kamu pasti akan ingat mereka, jangan terlalu di paksakan.''
'Maafkan aku sayang, aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya, aku tidak ingin kamu terluka dan merasakan sakit lagi,' ( Batin Lucky )
Ayu melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya itu, mencium aroma tubuh Lucky, aroma yang sangat dia kenali dan menangkan hati. Tapi kenapa dia sama sekali tidak bisa mengenali kedua orang tuanya sama sekali? sementara Lucky yang hanya merupakan kekasihnya saja dia tidak melupakan dia, bahkan aroma tubuh pria ini masih teringat jelas di dalam otaknya.
Hati Ayu benar-benar diliputi berbagai tanda tanya.
Lucky mulai mengurai pelukan, menatap wajah Ayu lekat dengan tangan yang mengusap lembut pipi dan juga merapikan rambut kekasihnya itu.
''Besok aku sudah mulai masuk sekolah, apa kamu ingat, kita sudah mendaftar di sekolah yang sama?'' tanya Lucky semakin intens menatap wajah Ayu.
''Iya, aku sama sekali gak lupa, sayang.''
''Mulai besok, mungkin aku akan terlambat datang kemari, dan aku harap kamu bisa cepat sembuh agar kita bisa sekolah bareng di sekolah yang sama,'' lirih Lucky.
''Iya, sayang. Aku janji akan sembuh dengan cepat, aku pun ingin segera sekolah. Hmm ... Tapi, nanti di sekolah kamu jangan genit-genitan sama cewek lain ya ...!''
__ADS_1
''Ha ... ha ... ha ... Apa selama ini aku terlihat seperti seorang laki-laki yang suka bermain-main dengan perempuan?''
Ayu menggelangkan kepalanya.
''Nah, 'kan, kamu juga tau hal itu.''
''Aku rindu banget sama kamu, Luck. Rasanya jiwaku seperti sudah tertidur cukup lama, hingga rasa rindu ini benar-benar memenuhi hatiku saat ini,'' lirih Ayu, mengusap wajah tampan sang kekasih.
''Aku juga sama, sayang. Aku kangen banget sama kamu,'' Lucky pun melakukan hal yang sama.
Tatapan mata mereka semakin intens dalam memandang wajah satu sama lain, hingga akhirnya bibir mereka tidak tahan lagi untuk saling mendaratkan kecupan. Kecupan kecil yang berhasil membuat keduanya menumpahkan kerinduan yang selama ini mereka pendam.
''*I Love You, Ayu ..."
"I Love You, too, Lucky Pratama* ..."
Ayu kembali mendaratkan bibirnya di bibir kekasihnya itu, kali ini kecupan yang lebih intens dan lebih dalam, dan Lucky pun menyambut bibir manis Ayu dengan mata terpejam, melu*atnya lembut dan menye*apnya pelan.
Kini, keduanya saling melepas rasa rindu dengan ciu*an panas yang benar-benar membuat hati mereka terasa menyatu seiring dengan lum*tan yang semakin dalam dan semakin membuat keduanya terasa ber*irah.
Ayu meletakan tangannya di kedua sisi rahang Lucky, sementara Lucky melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih, mendekapnya erat. Sampai akhirnya sepasang kekasih itu saling melepaskan tautan bibir masing, saling menatap satu sama lain dan saling melayangkan senyuman.
''Kabar baik apa?''
''Untuk sementara, kamu boleh tinggal di rumah aku, karena kamu masih belum bisa mengingat kedua orang tua kamu. Papi mengijinkan aku untuk membawa kamu pulang, sayang.''
''Tinggal rumah kamu?'' tanya Ayu mengerutkan keningnya.
''Kenapa? apa kamu gak senang?''
''Bukan begitu, hanya saja, bagaimana aku bisa mengingat ayah sama ibu aku jika aku tinggal terpisah sama mereka?''
Lucky terdiam. Lagi-lagi hatinya diliputi dilema, dan tidak tau harus menjelaskan apa kepada kekasihnya itu. Apa mungkin dia harus menjelaskan semuanya? mengatakan bahwa kedua orang tuanya itu sebenernya adalah orang yang jahat? orang yang telah menyebabkan dia seperti? Akh ... rasanya tidak mungkin kalau dia harus mengatakan semua hal itu.
''Sayang ...?'' Ayu meletakkan telapak tangannya di kedua sisi rahang kekasihnya itu.
__ADS_1
''Aku tau pasti ada yang kamu sembunyikan dari aku, ya ...?''
Lucky hanya terdiam.
''Katakan ...! Apa yang kamu sembunyikan itu? kenapa harus ditutupi?''
Lucky masih terdiam menatap mata Ayu yang terlihat mulai memerah.
''Apa mereka orang tua yang buruk? atau jangan-jangan mereka hanya orang tua angkat aku? jawab Lucky ...?'' Ayu mulai terisak.
''Sayang ... Cintaku ... Aku sudah mengatakannya tadi, pelan-pelan saja, aku tidak mau hati kamu merasakan sakit lagi,'' jawab Lucky pelan.
''Berarti, salah satu tebakan aku itu benar 'kan? me-re-ka ja-hat ...?'' Ayu dengan sedikit terbata-bata.
''Bukan seperti itu, sayang ... Aku mohon jangan banyak bertanya dulu, untuk saat ini aku ingin kamu hanya fokus pada kesehatan kamu. Aku janji kalau kondisi kamu sudah pulih benar, jika Dokter sudah memastikan bahwa kamu baik-baik saja dan sudah diperbolehkan pulang, aku akan menjelaskan semuanya sama kamu, aku janji, sayang.''
''Janji ...?''
''Iya, aku janji.''
Lucky kembali memeluk tubuh Ayu, mendekapnya erat dan menenangkannya, seketika, Ayu pun kembali tenang, aroma tubuh Lucky benar-benar membuat gadis itu merasa bahagia.
''Sekarang kamu istirahat ya, aku akan di sini sampai kamu tidur.''
Ayu mengangguk lalu melepaskan pelukan, berbaring dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya, dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Ayu pun terlelap seketika.
'Maafkan aku, sayang. Aku terpaksa menyembunyikan semua ini, aku tidak ingin kamu terluka, dan sepertinya apa yang dikatakan oleh ayahmu ada benarnya juga, lebih baik kamu tidak mengingat mereka, karena aku lebih suka melihat kamu seperti ini, wajah kamu terlihat tanpa beban, dan aku tidak melihat ketakutan dari mata kamu,' ( Batin Lucky menatap lekat wajah kekasihnya itu.)
Semakin lekat Lucky menatap wajah Ayu, maka semakin Lucky merasakan bahwa rasa cintanya kepada gadis yang bernama lengkap Ayu Puspita itu semakin dalam dan sulit lagi di kendalikan.
''I Love You, Ayu ... Some Much ..."
Lucky mengecup punggung tangan kekasihnya itu, dengan mata yang menatap lekat wajah Ayu, memperhatikan setiap lekuk bentuk wajah kekasihnya itu, pipi tirus, lingkaran hitam di bawah matanya, serta kulitnya yang semakin putih, masih terlihat sama, tidak ada yang berubah sama sekali.
Hanya satu yang berubah dari wajah kekasihnya itu, yaitu, sorot mata yang penuh ketakutan yang dulu selalu ditunjukan oleh gadis ini, sekarang sudah tidak terlihat lagi, semua itu sudah benar-benar menghilang seiring dengan hilangnya semua ingatan akan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Entah apa Lucky harus bersyukur atau bersedih, tapi yang pasti, dia bahagia melihat kekasihnya itu bahagia, karena untuk saat ini gadis ini adalah sumber kebahagiaan bagi pria tampan yang bernama lengkap Lucky Pratama ini.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀