Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Cara Halus


__ADS_3

''Kamu...'' Leo membulatkan bola matanya, terkejut seketika, merasa tidak percaya dengan siapa yang sekarang dilihatnya.


''Kenapa kamu terkejut?'' jawab Pria yang saat ini duduk di atas kursi roda, di dorong masuk ke dalam ruangan oleh Asistennya.


Leo pun diam membisu, matanya di bulatkan sempurna dengan mulut yang sedikit menganga, dia bahkan mengepalkan kedua tangannya.


''Alex...?''


''Apa kamu pikir aku sudah mati?'' Alex sudah berada di dalam ruangan, duduk di depan meja yang sudah tersaji banyak makanan.


Angel yang tentu saja mengenali Alex sebagai kakak dari Jimmy, selingkuhan'nya yang telah meninggal akibat ulah dirinya pun merasa terkejut bukan kepalang, dia memundurkan langkah kakinya ke belakang.


''Silahkan duduk kembali, kenapa kalian semua seperti sedang melihat hantu? kamu juga Angelina, kenapa reaksi'mu berlebihan begitu? apa karena sekarang aku lumpuh, dan tidak segagah dulu lagi?''


''Kenapa kamu bisa jadi seperti ini? bang Alex?'' Angel menutup mulut dengan satu tangannya.


''Ya, begitulah. Ini akibat ulah seseorang yang tidak bertanggung jawab, dan karena kesombongan aku yang dengan percaya dirinya melawan dan ingin membalaskan dendam, sampai akhirnya kakiku harus di amputasi,'' jawab Alex menatap wajah Angel lalu melirik ke arah Leonardo.


''Silahkan duduk kembali, mari kita mulai transaksinya, bukankah kalian sangat menunggu hari ini tiba?''


''Kalian berdua silahkan menunggu di luar, aku ingin berbicara berdua saja dengan dia,'' pinta Leo kepada Sekertaris dan juga Asistennya, Ryan.


''Baik, bos.''


Jawab keduanya lalu melangkah keluar dari dalam ruangan.


Kini tinggal Alex dan Leo berada di sana. Keduanya melayangkan tatapan tajam namun dengan raut wajah yang berbeda, Leo masih menatap dengan penuh rasa tidak percaya, sedangkan Alex menatap dengan wajah yang sedikit tersenyum, seperti merasa puas karena melihat raut wajah Leo terkejut melihat kedatangan dirinya.


''Duduklah...'' Pinta Alex.


''Apa maksud'mu melakukan ini, hah?'' Leo sedikit menaikan suaranya.


''Kenapa kamu tidak meminta maaf terlebih dahulu, karena telah membuat aku lumpuh seperti ini?''


''Minta maaf? minta maaf katamu, hah? semua ini karena ulah'mu sendiri, bajingan...''


''Sudah-sudah, jangan membahas yang sudah berlalu, sekarang aku hanya pria lumpuh yang tidak bisa melakukan apa-apa, aku juga sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan'mu, aku mengaku kalah sekarang, dulu saja saat aku masih normal, kalah melawan'mu, apa lagi sekarang? seperti katamu waktu itu, mari kita melupakan dendam kita masing-masing dan hidup dengan tenang,'' jawab Alex santai.


Akhirnya Leo duduk saling berhadapan dengan mantan sahabat'nya tersebut, meski ada sedikit rasa iba, namun dia tetap harus waspada, karena Alex bukanlah tipe orang yang mudah berubah, apalagi melupakan dendam.

__ADS_1


''Bagaimana? apakah meeting kita sudah bisa di mulai?'' tanya Alex.


''Meeting apa? aku tidak membutuhkan uang'mu, kamu pikir aku bodoh? hah...? aku punya cukup banyak uang, dan tidak akan tergiur dengan uang yang kau miliki itu,'' Alex berdiri dan hendak pergi.


''Bagaimana keadaan putra'mu? si kembar? kalau tidak salah namanya, Axel dan Axela? betul...?''


Leo menghentikan langkah kakinya, mengepalkan tangan lalu kembali berbalik dan menatap wajah Alex dengan tatapan mata yang terlihat geram.


''Jangan bawa-bawa kedua putra-putriku dalam perselisihan kita, kalau kau tidak ingin kaki'mu yang satunya lagi aku patahkan,'' jawab Leo menatap kaki Alex.


''Ampun... Ampun, bos Alex... ha... ha... ha...!'' Alex tersenyum mengejek.


''Kurang ajar...'' Leo hendak mencengkram kerah baju Alex merasa geram.


''Apakah kamu tidak malu, melawan pria lumpuh seperti aku?''


''Brengsek...!'' Leo mengurungkan niatnya, kembali mengepalkan tangannya menahan rasa geram.


''Sudahlah, cepat duduk dan lanjutkan kesepakatan kita, bukankah itu tujuan pertemuan kita di sini?''


''Tidak akan, aku tidak akan pernah bekerja sama dengan'mu.''


''Apa maksud'mu?''


Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja ponsel Leo pun berdering, istrinya Adelia, menelpon dirinya. Leo segera mengangkat telpon dengan nada suara yang tergesa-gesa.


''Halo... sayang, apa kamu baik-baik saja? si kembar mana?'' tanya Leo merasa khawatir.


''Iya, aku baik-baik saja, kenapa suaramu terdengar seperti itu, ada apa, sayang?'' tanya Adelia di dalam telepon.


''Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja, jika ada orang yang tidak di kenal datang, jangan bukakan pintu, bilang sama ibu juga, ya...''


''Justru aku menelpon kamu karena ingin mengabarkan, bahwa ada tamu seorang Laki-laki, katanya dia saudara jauh kamu.''


''Apa...?'' Leo terkejut dan menatap penuh rasa geram ke arah Alex, yang saat ini sedang tersenyum licik memandang wajah dirinya.


''Tunggu, tutup dulu sebentar, kita video call saja, agar kamu bisa melihat wajah pria ini,'' Adel menutup telpon dan kembali menghubungi suaminya melalui panggilan video call.


''Halo, sayang...'' Leo mengangkat telpon dan melihat wajah istrinya lewat sambungan video call, seorang laki-laki sedang menggendong baby El, tepat di belakangnya tubuh Adelia yang sedang melakukan panggilan dengan dirinya.

__ADS_1


''Sayang, kamu sedang dimana? sepertinya kamu sedang tidak berada di kantor?''


''Eu... anu, aku sedang meeting dengan klien di luar,'' jawab Leo lemas.


Pria yang sedang menggendong baby El adalah anak buah Alex yang tidak lain adalah orang kepercayaan Alex sendiri, menggendong baby El, lalu menatap layar ponsel Adel, dan tersenyum licik ke arah ponsel tersebut.


Dan entah mengapa, sambungan video call pun tiba-tiba terputus, Leo panik seketika, dia mencoba kembali menghubungi Adel namun nomor nya pun tidak aktif.


''Apa yang kamu inginkan?'' tanya Leo menatap wajah Alex dengan tatapan menahan rasa geram.


''Mudah saja, aku ingin kamu, menanda tangani surat perjanjian investasi kita, seperti tujuan awal kita datang ke sini,'' Alex mengeluarkan map berwarna coklat, membuka'nya, lalu menyimpan ballpoint di atasnya.


''Kalau kamu ingin keluarga kecil'mu itu selamat, cepat tanda tangani ini, lagi pula, aku hanya ingin berinvestasi di perusahaan'mu, apa salahnya, aku juga harus mencari nafkah dan hanya ini yang bisa aku lakukan,'' jawab Alex tersenyum licik.


Tanpa berfikir panjang, Leo pun meraih ballpoint dan langsung membubuhkan tanda tangannya di lembaran kertas tersebut, dia bahkan tidak membaca terlebih dahulu isi dari perjanjian yang di tanda tangani'nya.


Setelah melakukan hal tersebut, Leo segera berlari keluar, dia ingin segera pulang, untuk menemui istrinya dan juga si kembar.


Sementara Alex, dia tersenyum senang, dia bahkan tertawa dengan suara yang renyah di dengar, ternyata, niatnya untuk membalaskan dendam, belumlah padam, namun kali ini, dia akan melakukan cara yang berbeda, tidak lagi dengan kekerasan, namun dengan cara yang lebih halus, perlahan, yang akan menjatuhkan Leonardo perlahan tersungkur ke dasar, sampai akhirnya tidak punya apa-apa lagi.


__________-----------___________


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Hadiah


Agar Author semangat berkarya ❤️


___________-----------___________


Rekomendasi hari ini, saya akan memperkenalkan novel terbaik milik sahabat saya, silahkan baca ceritanya, karena di jamin akan membuat kalian ketagihan.


__ADS_1


*****


__ADS_2