
''Kalian sedang apa?'' tanya Al.
Karena merasa penasaran, dia pun turun dari dalam mobil dan masuk kedalam Pos Satpam.
''Ini, sayang. Papi lagi liat rekaman CCTV waktu kejadian malam itu, saat Papi tertembak. Papi baru sempat mengecek ini, padahal jika kita mengeceknya dari dulu, mungkin kita bisa tahu siapa pelakunya,'' jawab Leo tanpa menoleh. Matanya fokus menatap layar laptop yang berada tepat di hadapannya di atas meja.
''O ya ...?'' Al mendekatkan wajahnya ke arah layar, menatap dengan seksama cuplikan video yang kini sedang di putar.
Dia pun mengerutkan keningnya, tatkala melihat sosok yang terekam CCTV tersebut seperti familiar di matanya, postur tubuhnya, bahkan jaket dan topi yang dikenakan oleh pelaku tersebut serasa tidak asing lagi di matanya.
Tapi dia sama sekali tidak tahu siapa dia, wajah pelaku yang tertutup Masker membuat Al dan semua yang ada di sana merasa kesulitan mengenali pria yang menjadi pelaku utama penembakan ayah mereka. Di tambah, kondisi tubuh Al yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, membuat otaknya tidak dapat berkerja dengan baik, dia pun belum menyadari bahwa, pria tersebut sebenarnya adalah Gabriel, kekasih hatinya, ayah dari bayi yang saat ini sedang dikandungnya.
''Kalian ...? Kenapa jam segini sudah ada di rumah? bukannya sekarang masih jam sekolah ya?'' tanya sang ayah menatap wajah anak kembarnya secara bergantian.
''Ini Pap, aku gak enak badan, makannya aku izin pulang, sedangkan Abang, dia cuma nganterin aku doang kok, nanti juga balik lagi di sekolah,'' jawab Al, dengan sedikit terbata-bata.
''Kamu sakit, sayang ...? apa perlu kita ke Dokter?''
''Nggak usah, Pap. Aku cuma masuk angin biasa, nanti juga sembuh sendiri, beneran ...''
''Kamu serius?''
Al mengangguk seraya tersenyum.
''Ya sudah, kamu masuk sana, istirahat, kayaknya kamu kecapean waktu jagain Papi di Rumah Sakit,'' sang ayah mengusap rambut putri kesayangannya.
''Iya Pap, aku masuk dulu, ya ...''
Al hendak melangkah keluar dari dalam Pos Satpam, namun, sebelumnya dia pun menoleh terlebih dahulu ke arah layar laptop, kembali menatap sosok yang tertangkap kamera CCTV, mengerutkan keningnya, masih merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya.
''Pap, Al juga masuk ke dalam dulu sebentar, ya. Mau minum, haus ...!'' Al membuat alasan agar bisa mengejar saudara kembarnya.
''Bukannya kamu harus kembali ke sekolah, Al ...?''
__ADS_1
''Iya, nanti aku balik lagi ke sekolah ko, gak lama, cuma minum doang, Pap,'' ucap El seraya berjalan keluar dari dalam Pos tersebut.
Leo pun menggelengkan kepalanya, menatap kedua anak kembarnya yang kini berjalan saling beriringan, merasa bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk hidup dan melihat tumbuh kembang ketiga putra putrinya.
🌹🌹
Ceklek ...
Al membuka pintu kamar, masuk kedalamnya lalu membantingkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia berbaring dengan mata yang menatap langit-langit kamar, melayangkan tatapan kosong, dengan telapak tangan yang mengusap perutnya.
Tidak lama kemudian, El sang kakak pun masuk kedalam kamar, dia membuka pintu lalu kembali menutup serta mengunci pintu kamar tersebut. Axel berjalan mendekati tempat tidur, lalu duduk tepat di samping adik kesayangannya itu.
''Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Al?'' tanya El pelan.
''Aku gak tau?'' Al dengan suara datar.
''Hmm ...!'' El pun menarik napas panjang lalu berbaring tepat di samping saudaranya itu, menatap langit-langit kamar, melayangkan tatapan kosong sama seperti yang dilakukan oleh Axela.
Mendengar hal tersebut, Al pun memutar badan, meringkuk membelakangi tubuh saudara kembarnya, dan mulai kembali terisak
''Apapun yang terjadi, kamu harus kuat, ingat, kamu punya aku, saudara kembar mu, apapun yang terjadi dengan hidupmu, aku Abang mu, tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri, Al. meskipun aku gak tahu apa yang akan terjadi dengan Papi dan juga Mommy, kalau mereka sampai tahu tentang hal ini,'' ucap El, masih tanpa menoleh.
''Apa lebih baik aku gugurkan aja kandungan ini?'' lirih Al pelan, akhirnya mengeluarkan suaranya.
''Apa ...? Nggak ...! Kamu gak boleh melakukan itu, Al. Mengugurkan kandungan itu hukumnya dosa, itu sama saja dengan kamu membunuh anak kamu sendiri,'' jawab Axel. Dia pun bangkit lalu duduk, menatap sang adik.
''Terus aku harus bagaimana, El? Aku masih sekolah, masih ada cita-cita yang ingin aku gapai, mana mungkin aku nikah muda, terus aku juga gak sanggup buat bilang sama Papi dan Mommy tentang hal ini, aku takut, El ..."
Axel pun terdiam lalu menunduk.
"Gak, pokok'nya jangan sampai kamu melakukan hal terkutuk itu, kamu sudah berani berbuat, maka kamu pun harus berani menanggung resikonya. Dari awal kamu tahu kan, kalau berhubungan suami-istri itu bisa menyebabkan hamil?''
Kali ini Al yang terdiam.
__ADS_1
''Pokoknya, aku akan segera memberitahu pacarmu itu, dia harus bertanggung jawab dan segera menikahi kamu, meski sebenarnya, aku masih kurang setuju kamu menikah dengan dia, tapi mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, dan siap tidak siap, kamu harus menanggung resiko atas apa yang telah kalian lakukan, oke ...?''
Al masih terdiam.
''Aku balik ke sekolah dulu. Ingat, jangan melakukan hal yang tidak-tidak, apalagi sampai nekad menyakiti diri sendiri.'' El dengan penuh ke penekanan.
Dia pun bangkit lalu turun dari atas tempat tidur dan berjalan keluar dari dalam kamar, meninggalkan saudaranya sendirian.
🌹🌹
Sore hari.
Al berjalan menuju Pos Satpam, dia masih penasaran dengan rekaman CCTV yang tadi sempat dia lihat. Entah mengapa ada rasa yang mengganjal di dalam hatinya, penasaran dengan sosok pelaku penembakan yang seperti seseorang yang dia kenal.
Dia pun masuk kedalam Pos, dan meminta Pak Satpam untuk menunjukan kembali rekaman CCTV tersebut.
''Pak, aku mau lihat rekaman yang tadi di lihat sama Papi dong,'' pinta Al kepada Pak Satpam.
''Baik, Non. Sebentar ya.''
Bapak Satpam itu pun membuka laptop, lalu kembali memutar rekaman, dan menyerahkan laptop tersebut kepada majikannya.
Al segera menerima dan menatap rekaman tersebut, dengan sedikit mengerutkan keningnya, dia menatap dengan seksama sosok pria yang saat ini sedang berjalan di halaman, Al pun menekan tombol pause, dan memperbesar gambar pria tersebut, menatap setiap detail pakaian yang dikenakan oleh pelaku.
'Gabriel...?' ( Lirihnya pelan )
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan Lupa tinggalkan jejak ya Reader ...♥️♥️
promosi
__ADS_1