Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Sembilu


__ADS_3

Hujan turun dengan begitu derasnya, di iringi suara petir yang terdengar saling bersautan, suara rintikan air hujan yang bergemuruh pun, membuat suasana malam terasa semakin mencekam.


Di saat orang-orang sedang berbaring dengan berbalut selimut tebal, menghangatkan badan mereka masing-masing, karena udara malam ini yang terasa begitu dingin, lain halnya dengan pemuda yang bernama Gabriel.


Dia berlutut di bawah guyuran hujan, menatap ke arah jendela kamar milik Axela kekasihnya yang terletak di lantai dua, dinginnya air hujan tidak membuat niatnya surut, derasnya rintikan air hujan tidak membuat ambisinya hilang, untuk bisa mendapatkan maaf dari wanita yang bernama Axela, dan suara petir yang terus menggelegar pun tidak membuatnya takut akan kegelapan malam, yang terasa semakin mencekam bagi kebanyakan orang.


Gabriel pun membulatkan niatnya, dia akan terus berada di sana, sampai sang kekasih menerima permintaan maaf serta memberinya kesempatan untuk menjelaskan semua yang sedang terjadi di antara mereka.


Meski tubuhnya membeku kini, dan matanya terasa begitu berat dengan bibir yang bergetar menahan rasa dingin, tidak serta merta membuat Gabriel menyerah begitu saja.


''Al, maafkan aku, aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan duduk persoalannya, aku mengerti kamu marah dan juga kecewa kepadaku, tapi izinkan aku berubah dan memulai hidup baru denganmu,'' lirih Gabriel dengan suara yang bergetar.


Dia terus mengulangi ucapan yang sama, sampai suara lantangnya perlahan tertelan oleh suara gemuruh air hujan.


Sementara itu, di atas sana, di dalam kamar, Al masih menangis sesenggukan, menyandarkan punggungnya di pintu balkon, merasakan kesakitan yang teramat dalam, dia memang sangat mencintai kekasihnya itu, namun, dirinya sulit menerima kenyataan bahwa, kekasih yang dicintainya itu adalah pria jahat, yang telah menodongkan senjata api kepada dirinya.


Dia pun mencoba berdiri, dengan tubuh yang terasa begitu lemas sebenarnya, sedikit membuka tirai gorden dan menatap sang kekasih yang masih dengan setia berlutut di sana, seraya menundukkan kepalanya.


Sebenarnya, ada rasa iba yang terselip di lubuk hati seorang Axela, namun rasa sakit yang telah di terimanya membuat hatinya benar-benar tertutup, bahkan permohonan maaf yang terucap dari mulut kekasihnya tersebut seperti tidak dapat menyentuh hatinya sama sekali.

__ADS_1


Dia pun terus berada di sana, terus menatap tubuh sang kekasih yang sudah hampir roboh karena terus tertimpa air hujan yang kini kian turun semakin deras, seolah ikut menemani kesedihan yang sedang mereka rasakan.


Termenung memandangi tubuh sang kekasih, sampai dirinya tidak menyadari bahwa, Ayah serta Ibunya sudah berada di dalam kamar, begitu pun dengan Axel, yang mendengar kegaduhan yang di sebabkan oleh Gabriel.


''Al, putriku sayang. Ada apa sebenarnya? mengapa dia sampai berlutut seperti itu?'' tanya Adelia sang ibu. Dia menghampiri putrinya dan memeluk tubuh sang putri.


Al yang baru tersadar akan kehadiran kedua orangtuanya serta saudara kembarnya, segera mengusap buliran air mata yang sedari tadi membasahi pipinya, dia pun menoleh ke arah sang ibu lalu memeluk tubuhnya.


Al pun menangis di pelukan sang ibu, menumpahkan kesedihan yang sedari tadi dia emban sendirian.


''Sayang, cerita sama Papi, ada apa ini? kalau kalian ada masalah, bisa di bicarakan baik-baik, bukan seperti ini caranya, kasian pacar kamu, kalau dia sampai mati di sana gimana?'' ucap sang ayah.


Bukankah seharusnya, Al menuntut pertanggungjawaban dari Gabriel? bukan malah mengabaikan dia seperti ini. Apa yang akan terjadi dengan janin yang sedang di kandung oleh saudaranya itu, jika hubungan keduanya sampai berakhir. Batin El penuh dengan tanda tanya.


''Aku akan menyuruh dia masuk,'' ucap El hendak melangkah.


''Jangan, El. Aku nggak ingin bertemu dengan dia.''


''Tapi Al, kasian dia, sudah lebih dari tiga jam dia berada di sana? kalau dia sampai mati kedinginan gimana? apa yang akan terjadi dengan ba--'' El tidak meneruskan ucapannya, hampir saja dia keceplosan.

__ADS_1


''Iya, sayang. Bukankah kamu mencintai dia? kekasih'mu. Mommy mohon, pikirkan lagi, dan bicarakan baik-baik permasalahan yang sedang kalian hadapi,'' ucap Adelia sang ibu.


Sementara Al hanya terdiam, menatap ke arah jendela. Dan pandangan'nya terkejut seketika, saat melihat tubuh kekasihnya itu roboh, dan tidak sadarkan diri di bawah guyuran air hujan.


Al pun segera berlari keluar dari dalam kamar, di ikuti oleh kedua orangtuanya dan juga Axel. Al berlari menuruni tangga lalu mempercepat langkahnya membuka pintu dan segera menghampiri tubuh Gabriel.


Dia sama sekali tidak mempedulikan suara kedua orangtuanya yang terus memanggil namanya, dan berteriak memintanya berhenti, Axela, meraih kepala sang kekasih dan meletakkannya di atas pangkuannya.


''Briel, bangun, hiks hiks hiks ...!'' lirih Al dengan suara yang terdengar bergetar.


Tidak lama kemudian, Axel serta Leo sang ayah menghampiri dengan membawa dua buah payung besar dan melindungi tubuh Al dari guyuran air hujan.


''Al, cepat masuk, nanti kamu sakit. Gabriel biar Papi dan El yang akan bawa dia kedalam.'' Pinta Leo.


Al mengabaikan ucapan sang ayah, dia terus membangunkan Gabriel, dengan masih menangis sesenggukan, sampai akhirnya, El meraih tubuh Axela dan memapahnya ke teras rumah, yang sudah terdapat Adelia sang ibu di sana.


Kemudian, Axel dan sang ayah segera membawa tubuh Briel, yang sudah tidak sadarkan diri ke dalam rumah, sekujur tubuh Briel seperti membeku, dengan wajah yang terlihat sedikit membiru.


___________-----------____________

__ADS_1


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️


__ADS_2