
''Nah, sudah selesai,'' ucap ibu sesaat setelah mengobati luka Axel dan menutupnya dengan plester.
''Makasih ya Bu.''
''Sama-sama,'' jawab ibu dengan suara lembut.
''Istirahat gih, pasti kamu capek, dari pagi bantuin ibu sama Adel jualan,'' ucap ibu masih dengan suara lembutnya.
''Nggak ko, aku tidak capek sama sekali, malahan aku merasa senang. Tapi ngomong-ngomong, mereka tadi itu siapa bu? apa mereka rentenir?'' tanya Axel merasa penasaran.
''Dulu, Almarhum suami ibu pernah berhutang kepada mereka, dan hutangnya lumayan banyak, mencapai jutaan, karena tiap hari di tambah dengan bunganya, tapi satu bulan yang lalu sebelum kami menemukanmu, ibu dan Adel sudah melunasi hutang itu, dan entah mengapa mereka kembali lagi kemari, padahal setahu kami, semua hutangnya sudah di bayar semua,'' ibu menjelaskan.
''Apa ibu punya kwitansi pembayaran nya? biasanya ada bukti pembayaran yang di berikan oleh pihak rentenir?''
Ibu menggelengkan kepalanya.
''Wah, jika seperti itu mereka bisa datang lagi kemari dengan berdalih menagih hutang itu, gimana ya? kita harus mencari jalan keluar agar para rentenir itu tidak kembali lagi ke sini,'' ujar Alex sambil berfikir.
Ibu hanya terdiam merasa menyesal, karena tidak sempat meminta bukti pembayaran dari mereka.
''Tapi ibu gak usah takut, aku akan selalu ada di sini, menjaga ibu dan juga Adel, jika mereka kembali kemari, maka aku akan menghajar mereka.lagi seperti tadi,'' ujar Axel dengan percaya diri.
''Iya, ibu gak akan takut, kan sekarang ada kamu yang melindungi kami berdua,'' ucap ibu sambil tersenyum dan mengusap punggung pria yang sudah selama satu bulan itu tinggal di rumahnya.
Axel merasa begitu senang, meski luka di pelipis wajahnya terasa perih. Dia menatap wajah sayu ibu Sarah, wajah anggun dengan kulit yang sudah sedikit keriput dengan rambut di ikat di pucuk kepalanya yang sudah terlihat sedikit memutih karena usianya sudah paruh baya.
Sesaat ia merasakan rasa rindu kepada ibu kandungnya, yang ia sendiri tak tahu siapa dan dimana dia berada, ada rasa sedih yang menyusup di relung hatinya, matanya tiba-tiba berkaca kaca sembari terus menatap wajah anggun ibu Sarah.
''Kamu kenapa nak? wajahmu tiba-tiba muram?'' tanya ibu menatap wajah Axel.
''Oh...! tidak Bu, tiba tiba saja hatiku merasa sedih, entah mengapa aku merindukan ibu kandungku, padahal aku sama sekali tidak tahu dan dimana dia berada,'' jawab Axel lalu mengusap air mata yang perlahan memenuhi kelopak matanya.
__ADS_1
''Sabar, nak. Ibu yakin tak lama lagi ingatan mu akan segera pulih, kamu sabat ya,'' jawab lalu lalu memeluk Alex, pria ceria dan baik hati yang sudah dia anggap seperti anak sendiri.
__________------------___________
Di sebuah rumah besar dengan pagar tinggi berwarna coklat, halaman luas terlihat membentang dengan di tumbuhi bunga serta pepohonan kecil yang membuatnya terlihat asri dan indah untuk di pandang.
Seorang Ibu sedang duduk sendiri di dalam rumah, di ruangan televisi, matanya tampak memandangi televisi yang menyala di depannya, namun sebenarnya tatapannya terlihat kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Rambut yang panjang di biarkan terurai begitu saja, wajah cantiknya seperti sedang memendam kesedihan, dia adalah ibu Leonardo alis Axel. Hatinya sedang di rundung pilu karena putra sulungnya sudah satu bulan lebih tidak pulang ke rumahnya.
Sang putra memang sudah terbiasa tak pulang, namun tidak sampai berbulan bulan, dan lagi biasanya jika Leonardo tidak pulang, dia selalu mengirim kabar dengan telpon ataupun sekedar mengirim pesan.
Tapi kali ini, putra nya itu tidak menelpon ataupun mengirim pesan, membuat hati sang ibu sangat khawatir dan risau.
Tak lama kemudian, terlihat pembantu rumah tangga nya berjalan menghampiri dengan membawa secangkir teh hangat lengkap dengan cemilan yang di taruh di atas nampan.
''Di minum teh nya Nyonya,'' ucap bi Inah, menaruh nampan yang di bawanya di atas meja.
''Saya permisi ke belakang lagi, Nyonya,'' bi Inah hendak pamit kembali ke dapur.
''Tunggu, bi,'' Nyonya Liana menghentikan.
''Ada apa lagi Nyonya? apa masih ada sesuatu yang Nyonya butuhkan?'' tanya bi Inah menghentikan langkahnya.
''Aku mau bertanya. Apa Leonardo menelpon ke rumah?''
''Tidak, Nyonya, tuan Leonardo sama sekali tidak pernah menelpon,'' jawab bibi dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
''Ya, sudah kau boleh pergi.''
''Baik, Nyonya. Saya permisi,'' bi inah pun melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Nyonya Liana meraih cangkir teh hangat dengan tangan kanannya, meniup lalu menyeruputnya perlahan, sementara itu, tangan kirinya terlihat meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk, memeriksa, apakah ada pesan masuk ke dalam ponsel canggihnya.
''Hmmm...!'' Nyonya Liana menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan, merasa kecewa, karena putra sulungnya sama sekali tidak mengirimkan pesan.
Dia pun kembali meletakan ponsel di tempat semula, merasa kesal. Dan tak lama kemudian, ponsel pun berbunyi, Nyonya Liana langsung meraih ponsel dan mengangkat telpon tanpa melihat terlebih dahulu, siapa yang menelpon dirinya.
''Halo...! Leonardo...?'' ucapnya, meletakan ponsel di telinganya.
''Bukan, tante. Ini aku, Angelina, kekasih Leonardo,'' terdengar suara sayup sayup dari dalam telpon.
''Oh, Angel...! maaf saya kira yang menelpon adalah Leonardo,'' jawab ibu merasa kecewa.
''Apakah Leon masih belum pulang?'' tanya Angel.
''Belum, sampai saat ini dia belum ke rumah sama sekali, apakah dia mengabarimu? kamu kan kekasihnya, siapa tahu dia menelpon atau mengirimkan pesan?'' tanya Nyonya Liana dengan penuh harap.
''Tidak, tante, Leon sama sekali tidak menelpon ku, aku juga sangat cemas, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada dia, mengingat pekerjaannya yang memang sangat berbahaya,'' jawab Angel keceplosan.
''Apa maksud kamu Angel? memangnya pekerjaan berbahaya apa yang di lakukan oleh putraku? bukankah dia CEO di sebuah perusahaan besar?'' tanya Nyonya Liana yang sama sekali tidak mengetahui pekerjaan yang sebenarnya dari putra sulungnya tersebut.
''Eu... tidak Tante, saya hanya salah berbicara, ya sudah, jika nanti Leon menghubungi ku, aku akan segera mengabari Tante, Tante tidak usah terlalu khawatir, ya. Karena aku juga sudah menyuruh orang untuk mencari dia,'' ujar Angel menghibur, ibu dari kekasihnya tersebut.
''Baiklah...!'' Nyonya Liana menutup telpon dan meletakan kembali ponsel di kursi tempatnya duduk saat ini.
Sementara itu, di kediaman Wanita yang tadi menelpon Nyonya Liana, Angelina duduk dengan masih menggenggam handphone di tangannya.
Wajahnya tampak terlihat cemas dengan mengigit bibir bawahnya dengan kencang, hatinya sungguh sedang di rundung kesedihan yang mendalam, karena, Leonardo kekasih tercintanya sudah lama belum juga kembali.
Angel yang saat ini memakai gaun pendek nan seksi dengan belahan dada sedikit terbuka, terlihat kembali menatap ponselnya lalu berusaha menghubungi nomor ponsel kekasihnya.
_____________---------_____________
__ADS_1