
''Pap, apa tidak sebaiknya Papi pulang saja, kasian Mommy, aku juga takut si Revan akan mendatangi rumah dan mengira bahwa Ayu di bawa ke sana,'' ucap Lucky kepada sang ayah yang saat ini sedang menemani dirinya di ruangan ICU.
''Kamu benar juga, Dek. Tapi kamu tenang aja, Papi sudah menyuruh anak buah Papi buat berjaga di rumah. Dan sepertinya, Papi juga mau pulang, kamu gak apa-apa 'kan di tinggal sendirian?'' tanya Leo menatap wajah sayu sang putra.
''Adek biar aku yang nemenin, Pap.'' Tiba-tiba terdengar suara Axel, berjalan masuk ke dalam ruangan.
''Iya, Pap. Abang biar temenin aku di sini.''
''Ya udah kalau begitu, Papi juga sudah menugaskan dua orang yang akan menjaga kalian di sini, jadi kalian gak usah khawatir, dan kalau terjadi sesuatu, segera hubungi Papi, Oke ...?''
Axel dan Lucky menganggukkan kepalanya.
Sebelum keluar dari dalam ruangan ICU, Leo terlebih dahulu memeluk putra bungsunya, mengusap punggungnya lembut, memberinya dukungan.
''Kamu yang sabar ya, Dek. Papi yakin, Ayu akan cepat bangun ...''
''Iya, Pap ...''
Leo mengurai pelukan, lalu menatap putra sulungnya, dan menepuk pundaknya lembut.
''Axel ... Papi titip adikmu ya, jangan tinggalkan dia sendirian ...''
''Baik, Pap.''
Leo pun mulai berjalan keluar dari dalam ruangan.
Sepeninggal sang Ayah, kini tinggallah Lucky bersama sang Kaka di dalam sana, Lucky nampak menatap wajah Ayu dengan tatapan nanar. Wajah kekasihnya itu terlihat begitu pucat dengan berbagai macam alat bantu terpasang di tubuhnya.
Pipinya yang memang sudah tirus, terlihat semakin tirus, lingkaran hitam di matanya semakin terlihat jelas, dan hal yang membuat Lucky semakin sedih adalah, luka sobek di ujung bibirnya.
Kenapa si Revan tega sekali melakukan hal itu kepada putrinya sendiri? sang putri yang seharusnya dia jaga dan dihujani dengan kasih sayang malah diperlakukan sebaliknya.
' Malang sekali nasibmu Ayu, sayang ...' ( Batin Lucky )
Axel yang juga berada di sana sekarang, hanya bisa mengusap lembut punggung Adik kesayangannya itu, dirinya tidak tau lagi harus berkata apa.
__ADS_1
''Kamu harus makan dulu, Dek.'' Lirih El.
''Nggak, bang. Aku gak lapar.''
''Tapi kamu harus makan meskipun kamu gak lapar. Ingat ... kalau kamu mau jagain orang yang lagi sakit, hal pertama yang harus kamu perhatikan adalah kesehatan kamu sendiri, gimana mau jagain orang sakit kalau kamu sendiri gak bisa jaga badan kamu? Kalau nanti kamu sakit, siapa yang akan menjaga Ayu? dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Dek,'' ucap Axel panjang lebar.
''Abang benar juga, baiklah, aku akan makan ...''
''Nah gitu dong, tunggu Abang mau minta penjaga di depan beliin makanan, sekalian Abang juga mau minta mereka membeli makanan untuk mereka sendiri,'' jawab El, yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Lucky.
Lucky kembali menatap wajah kekasihnya yang terlihat begitu mengenaskan, mengusap punggung tangannya lembut, dia pun akan berusaha untuk kuat meski hatinya merasakan sakit, air matanya pun sudah tidak terlihat lagi di gantikan dengan pancaran mata penuh percaya diri dan benar-benar menunjukkan kalau dia kuat dalam menghadapi semua cobaan ini.
''Bangun, Yu. Aku akan selalu ada di sini menemani kamu, dan aku gak akan membiarkan ayahmu itu membawamu lagi, pria jahat itu seharusnya di hukum seberat-beratnya,'' lirih Lucky, mengusap kepala sang kekasih.
🍀🍀
Akhirnya Leo dan Gabriel sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, entah mengapa perasaan Leo benar-benar merasa tidak enak, dan ingin segera sampai di rumah dengan cepat.
Sepertinya apa yang dikatakan oleh putra bungsunya, sedikit mengusik hati seorang Leo. Kenapa dia bisa bodoh, tidak memikirkan sama sekali tentang keselamatan istri dan putrinya di rumah. Kalau sampai yang dikatakan oleh Lucky itu sampai terbukti benar, gimana?
Apa yang akan terjadi jika si Revan benar-benar mendatangi rumahnya di saat dirinya sedang tidak berada di rumah? batin Leo merasa menyesal.
Leo menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar, membuat Gabriel yang saat ini duduk bersamanya di dalam mobil menoleh dan menatap wajah cemas mertuanya itu.
''Papi kenapa?'' tanya Briel, bisa merasakan kekhwatiran Leo.
''Entah kenapa, perasaan Papi gak enak. Seharusnya Papi tidak berlama-lama si Rumah Sakit, Papi sampai lupa ada Mommy dan juga istrimu yang harus Papi jaga,'' jawab Leo, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan tatapan mata menatap ke arah luar jendela.
''Jangan khawatir, Pap. Bukankah Papi sudah menugaskan beberapa orang untuk berjaga di rumah? aku yakin jika terjadi sesuatu di sana, mereka pasti akan segera menelpon,'' Briel mencoba menenangkan.
''Iya ... Tapi tetap saja, perasaan Papi gak enak, gimana kalau si Revan itu mendatangi rumah, karena mengira Ayu ada di sana?''
Briel menghela napas panjang, apa yang dikatakan oleh ayah mertuanya itu memanglah benar, apa yang akan terjadi kepada istrinya, kalau sampai si Revan itu benar-benar datang ke rumah seperti yang baru saja dikatakan oleh ayah mertuanya?
Hati seorang Briel pun mendadak dilanda rasa gundah, dia yang awalnya ingin menenangkan sang ayah, kini berbanding terbalik, malah hatinya yang dipenuhi rasa khawatir.
__ADS_1
''Mobilnya bisa lebih cepat tidak ...?'' tanya Leo menatap supir pribadinya.
''Baik, Bos.'' Jawab sang supir langsung menginjak pedal gas, dan mobil pun semakin melesat di jalanan.
''Briel, apa kamu punya pistol?'' tanya Leo, tanpa menoleh.
''Apa ...? Eu ... untuk apa, Pap?'' Briel terlihat heran.
''Untuk jaga-jaga aja, Papi takut apa yang Papi pikirkan beneran terjadi, dan Papi akan langsung memb*nuh si brengsek itu kalau dia sampai menyentuh Mommy kalian,'' jawab Leo penuh penekanan.
''Sebenarnya, aku memang membawanya dari tadi sore,'' jawab Briel mengeluarkan satu pucuk senjata api dari belakang punggungnya.
''Waah ... Papi gak nyangka kalau kamu punya senjata seperti ini,'' Leo meraih pistol tersebut dan memeriksa isinya.
''He ... he ... he ...! hanya untuk berjaga-jaga saja, Pap.''
''Oke, ini Papi pinjam, ya ...?'' pinta Leo menyembunyikannya pistol tersebut di balik punggungnya.
Akhirnya mereka pun hampir sampai di rumah, Pak supir nampak memperlambat laju mobil dan hendak memasuki pintu pagar yang perlahan mulai dibuka oleh Pak Satpam.
''Tunggu, jangan masuk dulu ...!'' pinta Leo, saat dia melihat dua mobil yang perlahan mendekati rumahnya.
''Pap, bukankah itu ...?'' tanya Briel mengenali bahwa mobil itu adalah mobil Revan.
''Betul ... Ternyata dugaan kita benar, si brengsek itu benar-benar datang kemari,'' Leo menarik senjata api dari punggungnya, kembali memeriksa peluru yang ada di dalamnya, setelah itu dia pun menarik pelatuk pistol.
''Apa kamu siap?'' tanya Leo, dan langsung di jawab dengan anggukan penuh percaya diri oleh Gabriel.
Perlahan mobil yang dikendarai oleh Revan pun mulai melambat, dan melipir ke pinggir jalan, berhenti tidak jauh dari pintu pagar. Dan Leo segera meminta Pak satpam untuk menutup pintu pagar yang perlahan mulai terbuka sempurna. Setelah itu ...
Ceklek ...
Leo dan Gabriel keluar dari dalam mobil dengan masing-masing memegang satu pucuk pistol.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Promosi Novel lagi ya Reader, mudah-mudahan kalian suka.🥰