
Lucky berjalan gontai masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan hancur, begini ternyata yang namanya patah hati? sakit yang tidak berdarah yang seolah menggerogoti bagian dalam tubuhnya, hingga membuat tubuhnya itu terasa lemas.
Dia pun langsung masuk ke kamar miliknya yang ada di lantai dua, mengabaikan sang kakak yang saat ini menatap dirinya dengan tatapan tajam dan kening yang dikerutkan merasa heran dengan apa yang terjadi dengan adik bungsunya tersebut.
Al pun mengekor di belakang tanpa Lucky sadari karena pikirannya sedang melayang entah kemana. Sesampainya di kamar, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur berbaring terlentang menatap langit-langit kamar.
Tidak lama kemudian, sang kakak pun masuk ke dalam kamar, berjalan pelan lalu duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah adik kesayangannya yang terlihat begitu muram.
''Kamu kenapa, Dek? bukannya hari ini adalah hari kelulusan kamu, ya? seharusnya kamu senang, dong ...?'' tanya Al, masih menatap wajah Lucky.
Yang ditanya tidak menjawab, dia hanya membalik tubuhnya, hingga kini dalam posisi meringkuk membelakangi sang Kaka.
''Dek, ko diam aja? apa kamu sakit ...?'' tanya Al semakin heran.
Lucky pun masih diam membisu.
''Apa kamu lagi patah hati?''
Lucky akhirnya mengangguk pelan.
''Serius ...? kamu putus beneran sama pacar kamu ...?''
Lucky kembali menganggukkan kepalanya.
''Sayang sekali, padahal dia wanita yang baik, meskipun umur kalian terpaut cukup jauh tapi sebenernya kalian cocok, Kaka juga suka sama Emillia, baik, ramah, sopan dan-'' Al tidak meneruskan ucapannya, karena Lucky menyela.
''Sudah cukup, kak. Jangan diteruskan ...'' pinta Lucky akhirnya mengeluarkan suaranya.
''Sorry ... Apakah rasanya sakit sekali, patah hati ...?"
Lucky hanya mengangguk.
"Ya, udah. Kakak doain semoga kamu cepat move on, dan dapatin cewek yang lebih baik dari dia."
"Udah ..." jawab Lucky singkat.
"Apa, Udah? udah punya pacar baru maksudnya?"
Lucky kembali menganggukkan kepalanya.
Puk
Puk
__ADS_1
Puk
Al tepuk tangan diiringi dengan suara tawa yang terdengar renyah di dengar.
"Hebat, kalau udah dapat pacar baru, kenapa malah sedih? udah sekarang lupain pacar kamu yang lama ... ha ... ha ... ha ...!"
"Kaka ...!" Lucky berteriak kesal.
"Apa ... Apa ...? emang benar 'kan?''
''Iya, tapi tetap aja, cuma dia yang ada di hati aku ...'' rengek Lucky dengan suara manja.
''Ya udah si, Dek. Yang namanya pacaran harus siap patah hati, kalau gak mau sakit hati jangan pacaran, itu resiko yang harus kamu ambil, kecuali jika kamu langsung menikah kaya Kaka, ha ... ha ... ha ...'' ucap Al sedikit tertawa.
Lucky kembali terdiam, kali ini dia memeluk bantal nguling, dan menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal.
''Adikmu kenapa, Al ...?'' Adelia sang ibu masuk ke dalam kamar.
''Patah hati, Mom. Tapi katanya dia udah punya pacar baru ...'' jawab El sedikit terkekeh.
''Apa ...? benar seperti itu, sayang ...?'' tanya Adelia duduk di tepi ranjang, mengusap rambut putra bungsunya.
''Mom ...?'' Lucky mengangkat kepalanya, merengek menatap sang ibu.
''Sini sayang, dengerin Mommy, ya. Yang namanya pacaran, putus hubungan itu biasa, sakit hati, pasti. Kecewa, juga pasti. Tapi jangan terlalu larut dalam perasaan sakit dan kecewa yang sedang kamu rasakan ini, kamu harus tetap menatap ke depan, dan lupakan rasa sakit dalam hati kamu ini. Apalagi Mommy dengar kamu sudah punya pacar baru, padahal Mommy sudah suka sama Emillia, baik dan sopan lagi ...'' ucap sang ibu menenangkan.
''Tapi, Mom. Aku sangat menyayangi dia, rasanya aku gak siap jika harus kehilangan dia kayak gini, rasanya sakit banget, dia satu-satunya wanita yang membuatku nyaman,'' lirih Lucky pelan.
''Iya, Mommy tahu, sayang. Tapi kamu harus tetap melupakan dia, dan kamu juga masih remaja, perjalanan hidup kamu masih panjang, kamu jalani saja hari-hari kamu seperti biasanya, lambat laut kamu akan melupakan dia nantinya, dan kalau kalian memang berjodoh, yakin, takdir pasti akan mempertemukan kalian kembali, percaya deh sama Mommy ...''
''Apa begitu?''
Adelia mengangguk menatap wajah tampan putra bungsunya.
''Nah, dengerin tuh, Dek. O iya, kapan-kapan kenalin pacar baru kamu sama kita, bawa ke sini, kakak ingin tahu seperti apa dia, apa kalian beda usia juga?'' pinta Axela.
''Nggak, aku terpaksa menerima dia, aku sama sekali gak suka sama dia,'' jawab Lucky kesal.
''Lho, kok gitu? kalau kamu gak suka sama dia kenapa kamu nerima dia?''
''Ya, pokoknya terpaksa. Nanti juga aku putusin lagi.''
''Lho, kok kamu jadi bad boy gitu, sih? gak baik lho nyakitin perasaan perempuan, apa kamu lupa Kaka juga perempuan, Mommy juga perempuan, ingat, Dek.''
__ADS_1
Lucky terdiam, dia terpaksa menerima Ayu sebagai kekasihnya karena tidak ingin mempermalukan dia, dan sekarang dirinya berniat ingin segera memutuskan gadis itu takut menyakiti hatinya juga. Lalu, apa yang harus dia lakukan? apa dia harus benar-benar berpacaran dengan Ayu? sementara dia sama sekali tidak menyukai gadis itu, bahkan cenderung membenci Ayu. Akh ... Lucky benar-benar di buat pusing karenanya.
''Mom ... Libur panjang ini, boleh nggak aku ngabisin waktu liburan di rumah Nenek? sekalian nenangin diri ...'' pinta Lucky, bangkit dan duduk di depan sang ibu.
''Hmmm ... Boleh, ajak Abang mu juga, biar kamu gak sendirian di sana.'' Jawab sang ibu.
''Aku juga mau, Mom ...''
''Al, kamu lagi hamil muda, gak baik kalau harus menempuh perjalanan jauh, Mommy takut kandungan kamu kenapa-napa nantinya,'' jawab sang ibu memberi pengertian.
''Yaaah ... Padahal aku ingin banget ke sana, udah lama aku gak pergi ke desa nenek, rasanya rindu sekali berada di sana, merasakan udara segar pedesaan ...'' jawab Al mengerucutkan bibirnya.
''Nanti, kalau kandungan kamu sudah menginjak trimester ke dua, kandungan kamu sudah kuat, dan sudah boleh di bawa bepergian jauh.''
''Ya udah, nunggu beberapa bulan lagi gak apa-apa deh ...'' jawab Al tersenyum, lalu mengelus perutnya.
🌹🌹
Akhirnya, rencana Lucky untuk berlibur ke rumah sang nenek terwujudkan, dia berangkat bersama sang Kaka, Axel yang juga membawa serta Amora kekasihnya.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama 6 jam, akhirnya mereka pun sampai di di desa kecil tempat tanah kelahiran sang ibu, sebuah desa asri dengan pemandangan hamparan sawah hijau membentang.
Axel yang menyetir mobil nampak membuka kaca jendela mobilnya, membiarkan udara pedesaan yang segar masuk ke dalam mobil, diiringi angin sepoi-sepoi yang kian menyapu wajah tampannya.
''Wah udaranya segar sekali,'' ucap Amora melakukan hal yang sama.
Axel tersenyum melirik ke arah sang kekasih, lalu menatap kaca spion depan, menatap sang adik yang tertidur di kursi belakang.
Sepuluh menit kemudian, mereka pun sampai di depan gang dimana rumah sang nenek berada, Axel memarkir mobil tepat di depan gang, lalu membangunkan Lucky yang masih tertidur.
''Dek, bangun. Sudah sampai ...!'' Axel Sengah sedikit berteriak, membuat Lucky langsung membuka mata.
''Apa sudah sampai?'' tanya Lucky menatap sekeliling.
''Cepat turun, nanti tidurnya di sambung di rumah Nenek ...'' ucap Axel membuka pintu mobil.
Lucky pun merentangkan kedua tangannya lebar, setelah itu dia nampak mengusap kedua mata secara menguap masih menahan rasa kantuknya.
Perlahan dia mulai membuka pintu mobil, lalu keluar dengan mata yang terlihat masih menahan rasa kantuk, berjalan di belakang sang Kaka, menuju rumah nenek Sarah.
''Nenek ...! kami datang ...'' teriak Axel berjalan di halaman.
''Kalian sudah datang ...'' sambut nenek dengan tersenyum menghampiri cucu-cucunya.
__ADS_1
Ternyata, Nenek Sarah tidak sendirian, dia ditemani wanita muda yang saat ini sedang berdiri mematung menatap ke arah tiga orang yang saat ini sedang berjalan di halaman, matanya nampak menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
______________----------_____________