Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Terjerat Cinta Mafia Tampan


__ADS_3

Gabriel menatap wajah Axela yang kini dalam keadaan terpejam sempurna, tertidur dalam posisi miring ke kanan, karena punggung sebelah kirinya terdapat luka goresan pisau, meski luka tersebut tidak terlalu dalam namun cukup untuk membuat kulitnya robek dan mengeluarkan banyak darah segar.


Gabriel meluruskan posisi tidur sang gadis menjadi terlentang dengan bantal yang menyanggah punggung kirinya, dia pun merapikan rambut panjang Al yang sedikit menutupi wajah cantiknya.


Setelah wajahnya bersih dari rambut panjang yang tadi menutupi hampir separuh wajah, kini Gabriel dapat melihat seluruh wajah cantik nan eksotik Axela, dia pun tersenyum tipis tatkala menyadari bahwa gadis yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas itu terlihat cantik sempurna seolah tanpa cela.


'Dasar gadis bodoh, pake so so an ngelawan para penjahat itu, gayamu sudah kayak wonder woman dunia nyata.'


Gabriel bergumam pelan, masih dengan mata yang tidak luput dalam memandang wajah Axela yang kini mengerutkan kening meski matanya masih terpejam sempurna.


''Mom... Papi... Sakit... tolong...!'' Al berbicara di dalam tidurnya.


Merasa panik, Briel pun meraba kening Al, yang sepertinya dalam keadaan demam.


'Tubuhmu panas sekali, Al? sepertinya kamu demam...'


Briel kembali bergumam pelan, meraba seluruh bagian tubuh Axela yang terasa panas. Dalam tidurnya Al terus mengigau, menyebut Ayah serta ibunya seolah meminta tolong.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang...'


Panik, itulah yang di rasakan pemuda berusia 25 tahun itu, dia pun segera mengambil ambil air hangat di sebuah mangkuk lengkap dengan kain untuk mengompres tubuh Al yang terasa semakin panas.


Gabriel mengompres kening Al dengan sebuah kain yang sudah di basahi dengan air hangat yang tadi dia bawa, terus melakukan hal tersebut sampai suhu tubuh Al perlahan berangsur normal, dia bahkan mengompres bagian tubuh lainnya yang di rasanya memiliki suhu tubuh yang terasa panas.


Hari pun mulai gelap, malam pun tiba, Briel masih melakukan hal sama, sampai kini tubuh Al benar-benar terbebas dari demam, merasa lelah, Briel pun tertidur di samping tubuh Al namun dalam keadaan duduk, dia menyandarkan kepalanya di tembok dengan kaki yang terlentang dan tangan di lipat di dadanya.


Axela, dia mulai membuka mata, sedikit demi sedikit, mengedipkan mata indahnya perlahan sampai kedua mata bulatnya terbuka sempurna.


Dia pun menatap ke sekeliling ruangan sempit dimana tempatnya sekarang berada, mencoba bangkit dan duduk meski lukanya masih terasa sakit dan perih dirasa.


Setelah dia dalam keadaan duduk, dia pun terkejut seketika karena ternyata di keningnya terdapat kain kompres yang kini jatuh tepat di pangkuannya, namun ada hal lain yang membuatnya lebih terkejut lagi, yaitu saat melihat wajah seorang pria yang sedang terlelap, seraya duduk tepat di samping dirinya sekarang.


Al menatap wajah pria yang tadi di tolongnya tersebut, wajahnya terlihat teduh dengan alis yang sedikit tebal di sertai hidung mancung dan bibir tipis, kulitnya tidak terlalu putih, namun raut wajahnya memancarkan keteduhan.


'Wajahmu tampan sekali...'


Lirih Al pelan, memperhatikan satu persatu Indra yang terdapat di wajah Gabriel, tersenyum tipis tatkala dia menyadari bahwa pria bernama Gabriel itu ternyata terlihat begitu tampan di matanya sekarang.

__ADS_1


Saat matanya masih lekat dalam memandangi wajah tampan Gabriel, pria itu pun membuka mata, membuat Axela terkejut seketika itu pula.


''Kamu sudah bangun?'' Briel menatap wajah Al, yang kini berada tepat di hadapannya.


''Eu... iya, seperti'nya kamu lelah sekali, seharian merawat aku, kamu boleh lanjutin tidur'mu lagi, maaf karena aku mengganggu,'' Al sedikit memundurkan posisi duduknya, hingga kini ada jarak di antara mereka.


''Bagaimana keadaan kamu? apa masih sakit? tadi kamu sempat demam.''


''Lukaku masih lumayan sakit, tubuhku juga terasa lemas. O ya jam berapa sekarang? orangtuaku pasti cemas, karena aku belum pulang sampai larut malam begini, aku harus segera pulang.''


''Tapi luka'mu bagaimana?''


Al terdiam, sebenarnya dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya cemas, dan juga kembaran serta adik bungsunya pasti akan merasa khawatir apabila tahu dia dalam keadaan terluka.


''Bisa ambilkan ponselku?'' pinta Al.


''Aku tidak melihat ponsel'mu dari tadi.''


''Ya ampun aku lupa, pasti tertinggal di mobil.''


Al mengangguk pelan.


''Bisa tolong ambilkan tas sekolah serta ponselku di mobil? mobilku aku parkir di tempat yang tidak jauh dari tempat kita berkelahi tadi.''


''Mana kuncinya, aku ambilkan.''


''Kunci mobilku ada di jaket yang tadi aku pakai.''


''Jaket ini?'' Briel menunjuk jaket yang masih tergeletak begitu saja di atas lantai.


''Iya, ambil saja kuncinya, di saku bagian depan.''


Briel pun merogok satu persatu saku jaket jeans berwarna hitam milik Axela tersebut, sampai akhirnya kunci yang dimaksud pun di temukan.


''Mobilmu berwarna apa?''


''Mobil sport berwarna merah, tekan saja kuncinya, nanti mobilku akan mengeluarkan suara.''

__ADS_1


''Baiklah, aku ke sana sekarang.''


Al mengangguk pelan.


Gabriel pun keluar dari dalam rumah'nya, berjalan menyusuri gang menuju tempat dimana mobil milik Axela berada, setelah keluar dari gang dia pun menatap ke sekitar, mencari keberadaan mobil tersebut, sampai akhirnya pandangan matanya tertuju pada sebuah mobil yang di parkir di pinggir jalan, dengan ciri-ciri yang tadi di sebutkan oleh pemilik mobil.


Untuk lebih memastikan, dia pun memijit kunci mobil yang dia bawa, dan benar saja, mobil tersebut menyala dan mengeluarkan suara.


'Mobilnya mewah sekali, apa dia anak orang kaya?'


Batin Briel.


Lalu dia pun berjalan ke arah mobil, sesampainya di sana, dia segera membuka pintu mobil dan mengambil tas dan juga ponsel milik Axela. Setelah itu dia segera berjalan kembali ke tempat tinggalnya.


**


Ceklek


Briel membuka pintu kontrakan dan masuk kedalam'nya. Axela pun tersenyum begitu manisnya saat Briel mulai berjalan mendekat seraya membawa tas dan ponsel miliknya.


''Terima kasih, Gabriel...!'' ucap Al seraya tersenyum.


''Ko kamu bisa meminta aku mengambil barang-barang berharga kamu gitu aja? kalau sampai aku bawa kabur barang-barang ini serta mobil kamu juga, gimana?'' tanya Briel mengerutkan keningnya.


''Entahlah, aku juga tidak mengerti, kayaknya aku percaya gitu aja deh sama kamu, lagian mana mungkin kamu bawa kabur barang milik orang yang sudah menyelamatkan kamu, kan?''


''Kamu polos banget, jangan mudah percaya dengan orang yang baru saja kamu kenal, Al...''


''Iya... iya...! Sebentar ya, aku harus menelpon orang tua aku dulu, biar mereka nggak khawatir."


''Baiklah...! tapi tunggu? apa kamu benar-benar akan pulang dalam keadaan seperti ini?''


''Entahlah, aku juga bingung,'' Al termenung sejenak, memikirkan langkah apa yang akan dia ambil.


''Hmmm... bolehkah aku menginap beberapa hari saja di sini? sampai luka aku benar-benar pulih, ya...?''


_________-----------_________

__ADS_1


__ADS_2