
''Sabar sayang, kata Dokter kamu akan segera menjalani operasi Caesar,'' Leo kembali menghampiri Adelia setelah berbincang dengan Dokter.
''Aku sudah tidak kuat suami'ku, rasanya sakit sekali, tulang'ku seperti remuk, tubuhku pun serasa sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit ini, Argh...! Tapi kenapa bayinya tidak juga keluar, ada apa ini? hiks hiks hiks...!'' Adelia menangis sesenggukan.
''Iya, sayang. Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan, sebentar lagi rasa sakit'nya akan hilang, sebentar lagi, sayang.''
Leo menitikkan air mata, tidak kuasa melihat sang istri dalam keadaan kesakitan yang tidak terkira. Dirinya pun mengecup keningnya tiada henti, seraya mengusap buliran air mata yang terus membanjiri, sampai sang Dokter pun datang dan membawa Adel ke ruangan Operasi untuk segera di beri tindakan.
''Dokter, bolehkan saya ikut ke ruang operasi?'' tanya Leo menatap penuh rasa harap.
''Mohon maaf, untuk tindakan operasi Caesar tidak bisa di dampingi, anda bisa menunggu luar saja, lagi pula waktu operasi tidak akan lama, hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, Tuan,'' jawab sang Dokter, menolak permintaan.
Akhirnya Leo pun hanya mengantar istri'nya hanya sampai di depan pintu ruang operasi, Leo menatap tubuh sang istri yang perlahan masuk ke dalam ruangan dengan tatapan pilu dan perasaan penuh kesedihan, sampai pintu pun di tutup.
Leo menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas, lalu tak lama kemudian ibu pun datang setelah mendengar kabar, semula ibu tidak berniat pergi ke Rumah Sakit karena harus menjaga si kembar, namun karena keadaan Adelia yang mengkhawatirkan ibu pun memutuskan untuk datang dan memberi dukungan kepada anak dan juga menantunya.
__ADS_1
Leo duduk dengan bersandar kursi, matanya menatap kosong ke arah depan, dengan air mata yang perlahan memenuhi pelupuknya merasakan kecemasan yang teramat dalam.
''Sabar, Leo. Ibu yakin Adel akan baik-baik saja, hal seperti itu memang sering terjadi pada bayi yang akan di lahir'kan, kita berdoa saja, semoga Adel dan bayinya selamat tanpa kurang satu apapun, ya...'' Ibu memeluk tubuh menantu kesayangan'nya.
''Aku sungguh khawatir, Bu. Takut Adelia, istriku kenapa-napa,'' Leo menumpahkan sesedih di dalam pelukan ibu.
''Kita berdoa saja, semoga Adelia tidak apa-apa, ibu mengerti bagaimana perasaan'mu, sayang...'' ibu mengelus punggung Leo dengan pelan dengan penuh kasih sayang.
Leo pun mengangguk pelan.
Sudah lebih dari satu jam Adelia berada di dalam sana, melebihi waktu yang di perkirakan oleh Dokter yang mengatakan bahwa hanya membutuhkan waktu selama 30 menit saja.
''Bu, kenapa lama sekali? katanya hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, tapi ini sudah satu jam lebih,'' ucap Leo kepada ibu yang duduk di samping'nya.
''Ibu juga khawatir, mungkin Dokter membutuhkan waktu yang lebih lama, kamu tenang ya, sayang...'' ucap ibu menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
Waktu pun kian bergulir, jarum jam pun berdetak serasa semakin cepat, hingga akhirnya suara tangis bayi pun terdengar, memecah keheningan, Leo dan ibu pun berdiri serentak, menatap pintu ruangan operasi dengan tatapan lega.
Keduanya menghampiri pintu ruangan yang perlahan terbuka dan Dokter'pun keluar dari dalam sana.
''Bagaimana keadaan anak dan istri saya , Dokter?''
''Selamat, Tuan Leonardo, bayi anda Laki-laki, lahir dengan selamat dan tidak kurang satu apapun,'' jawab Dokter memberitahukan.
''Syukurlah...'' Leo menarik napas panjang, merasa lega.
''Lalu bagiamana keadaan putri saya, Adelia, Dokter. Apakan dia baik-baik?'' Ibu bertanya dengan perasaan cemas.
Entah mengapa sang Dokter tidak langsung menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh ibu, dia menunduk seperti merasa menyesal, Leo dan ibu pun menunggu Dokter tersebut memberi jawaban.
Dokter mengangkat kepalanya, menatap wajah Leo dan juga ibu secara bergantian, setelah itu barulah dia memberikan jawaban.
__ADS_1
______________---------_______________
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️❤️