Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Selamat Tinggal Revan


__ADS_3

Sebenarnya Alex sungguh terpukul dengan kepergian Revan, laki-laki yang selama ini telah setia mendampingi dirinya sebelum keduanya berselisih paham.


Revan juga yang selalu menguatkan dirinya saat dia kehilangan Jimmy dulu. Dan sekarang, kepergian pria itu benar-benar membuat Alex merasakan kesakitan yang sama seperti yang dia rasakan waktu, saat dirinya kehilangan Jimmy, adik kesayangannya.


Alex lebih memilih melipir di lorong sepi yang tidak ada siapapun di sana, melihat Revan di tutup kain seperti itu seakan membawanya pada kenangan lama yang sangat menyakitkan dahulu.


Dia pun terlihat duduk bersandar tembok di lantai dengan berselonjor kaki menetap ke lurus ke depan melayangkan tatapan kosong.


Leo yang mencari keberadaan Alex akhirnya menemukan dia di sana, dan segera menghampiri lalu duduk di samping sahabatnya itu dengan posisi yang sama.


''Apa kamu sedih?'' tanya Leo tanpa menoleh.


''Nggak ... Aku bahagiaaaa sekali ...! Sungguh pertanyaan yang konyol, tentu saja aku sedih,'' jawab Alex tersenyum dipaksakan.


''Heuh ... Aku cuma bertanya, gitu aja marah.''


''Siapa yang marah? pertanyaan kamunya aja yang gak masuk akal.''


''Aku gak nyangka kalau Revan akan pergi mendahului kita, umur benar-benar sebuah misteri, bisa jadi sebentar lagi kita menyusul dia ke sana.''


''Kita ...? kamu kali, enak aja kita. Aku belum mau mati cepat, sebentar lagi istriku melahirkan, aku ingin merasakan gimana rasanya menggendong bayi, menjadi ayah seutuhnya. Lha ... kamu enak, anak udah pada gede, udah punya cucu juga.'' Jawab Alex membulatkan bola matanya.


''Oh iya, aku lupa. 'Ya Tuhan panjangkan'lah umur sahabat aku yang satu ini, biarkan dia merasakan bahagianya memiliki putra, bahkan memiliki cucu sama seperti aku, aku tau dia iri sama aku, Tuhan. Amiiiin ...'' ujar Leo menengadahkan kedua tangannya seolah sedang berdoa, membuat Alex yang sedang bersedih tersenyum seketika.


''Sebagian dari doa kamu, aku amin'kan.''


''Lho ko cuma sebagian? kenapa gak di amin'kan semuanya?''


''Ada yang salah dengan doa kamu itu. Aku gak merasa iri sama sekali sama kamu, fitnah itu ...'' jawab Alex sedikit mengerucutkan bibirnya.


''Ha ... ha ... ha ...! Yakin gak iri?''


''Kagak ...!''


''Yakin ...?''


''Ish ... kamu ini. Maksa banget si ...?''


Keduanya pun tertawa bersama kini, sejenak melupakan kesedihan yang sedang mereka rasakan.


''Papi ...? Om Alex ...? sedang apa kalian di sini? ya Tuhan, bukannya kalian urus kepulangan Om Revan, malah pada mojok berdua ...'' Axel yang baru datang sedikit kesal dengan kelakuan ayah dan calon ayah mertuanya itu.

__ADS_1


Alex dan Leo menoleh menatap wajah Axel, yang saat ini membulatkan bola matanya kesal.


''Putramu kalau lagi marah seram juga, persis seperti dirimu,'' ucap Alex berdiri.


''Iya, 'kan? tentu saja, putra siapa lagi ...''


''Papi ... Om Alex ... Kalian tahan dulu perdebatan kalian ini. Cepat bantu aku selesaikan administrasi agar kita bisa langsung membawa jenazah pulang, dan segera di kebumikan, kasian Ayu, Pap ...'' tegas Axel penuh penekanan.


''Iya-iya, Papi sama om Alex beresin semuanya, kamu temani Ayu sama Lucky di dalam.''


Axel mengangguk mengerti.


🍀🍀🍀


Akhirnya, pemakaman pun selesai diadakan. Ayu nampak masih terkulai duduk lemas di samping pusara sang ayah yang masih merah dan basah, lengkap dengan kelopak bunga yang memenuhi tanah makam.


Ayu nampak mengusap papan bertuliskan nama Revan, dengan buliran air mata yang terus saja berjatuhan membasahi wajah cantiknya. Mata Ayu pun terlihat sembab dan bengkak, dengan hidung memerah semerah buah tomat.


''Ayah ...! Ayah yang tenang di alam sana. Sekarang ayah sudah tidak kesakitan lagi, aku yakin ayah bahagia karena pergi di saat ayah sudah benar-benar bertaubat dan menyadari kesalahan yang pernah ayah lakukan di masa lalu, hiks hiks hiks ...'' lirih Ayu terisak.


Lucky yang juga berjongkok di samping kekasihnya itu, hanya bisa mengusap lembut punggung Ayu dengan mata yang juga terlihat sembab.


Perlahan, satu-persatu pelayat yang ikut mengantarkan jenazah Revan ke peristirahatan terakhir pun mulai pergi, menyisakan keluarga dan sahabat inti saja.


''Lucky, antar Ayu pulang, dan temani dulu dia di rumah, Papi sama om Alex ingin di sini sebentar. Kamu juga, sayang. Temani Ayu di rumahnya,'' pinta Leo menatap wajah Lucky dan sang istri secara bergantian.


''Baik, Pap.''


''Aku pulang dulu, sayang.'' Ucap Adelia, lalu berjalan beriringan dengan Ayu dan juga Lucky.


Sementara itu, Axel yang datang bersama Amora pun berpamitan dan berjalan meninggalkan pemakaman.


Kini di tempat itu, hanya menyisakan Leo, Alex, dan juga Gabriel yang merupakan mantan anak buah Revan. Mereka bertiga masih berdiri di samping pusara yang masih merah itu.


''Revan ... Semoga kamu tenang di alam sana. Aku titip salam untuk adikku Jimmy jika kalian bertemu di sana,'' lirih Alex sedikit terisak.


''Kamu gak usah mengkhawatirkan putrimu, aku berjanji akan menjaganya, membiayai hidupnya, dan tentu saja setelah mereka lulus sekolah aku akan segera menikahkan dia dengan putra bungsuku, agar mereka tidak melakukan hal-hal yang akan mengecewakan kita sebagai orang tua,'' ucap Leonardo menatap lekat papan nisan.


''Om Revan, aku minta maaf, karena belum sempat mengucapkan kata maaf itu kepadamu. Aku harap kamu melupakan dendam kita di masa lalu,'' giliran Gabriel yang berucap lembut.


''Selamat jalan Revan, sahabat terbaik aku, terima kasih karena telah menemani hari-hariku saat aku terpuruk dahulu.'' Alex berucap untuk berakhir kalinya.

__ADS_1


Ketiganya menatap lekat papan nisan, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.


🍀🍀


Tiga bulan kemudian.


Pagi hari, dikediaman Alex. Emillia nampak sedang membantu suaminya memakaikan kaki palsu, hal itu memang menjadi aktivitas rutin yang selalu di lakukan oleh Emil sebelum suaminya itu berangkat ke kantor.


Meskipun perutnya kini sudah membesar dan Alex sudah melarangnya untuk melakukan hal itu, namun, sebagai seorang istri, Emil merasa bahwa itu adalah salah satu bentuk pengabdiannya kepada suami yang sangat dicintainya itu.


''Sayang ... Sudah cukup, aku bisa melakukannya sendiri, kasian 'kan perut kamu pasti sakit di tekuk kayak gitu,'' ucap Alex membujuk.


''Gak apa-apa, mas. Aku senang melakukannya, lagipula sebentar lagi aku melahirkan dan aku gak akan bisa lagi melakukan hal ini jika aku sudah punya bayi, mungkin ini yang terakhir aku melakukannya,'' jawab Emill tersenyum.


''Hmm ... Kamu memang istri yang baik dan Sholehah, aku makin mencintaimu, sayang ...'' lirih Alex.


''Pagi-pagi udah gombal aja si.''


''Ya gak apa-apa dong, lagian itu bukan gombal ko, aku sungguh-sungguh mengatakan semua itu.''


Emillia tersenyum sekaligus tersanjung sebenarnya.


''Nah sudah selesai,'' ucap Emill merapikan celana panjang suaminya, menutup kaki palsu itu dengan celana bahan berwarna hitam yang dikenakan oleh suaminya.


''Makasih, sayangku.''


Emill mengangguk seraya mengerutkan kening.


''Kamu kenapa sayang? ko muka kamu mendadak kayak gitu?''


''Mas, perut aku tiba-tiba sakit. Argh ... sakit banget,'' ringis Emillia duduk di tepi ranjang dengan memegangi perutnya.


''Ya Tuhan, apa kamu akan melahirkan?'' Alex panik seketika.


''Sepertinya begitu, mas.''


''Apa yang harus aku lakukan sekarang. Mas bingung harus gimana, apa kita langsung ke Rumah Sakit aja, tunggu Mas panggil Amora dulu.''


Alex berlari keluar dari dalam kamar, dengan tubuh gemetar, perasaannya pun terasa berdebar dan tentu saja merasa senang karena istrinya itu akan segera melahirkan.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2