Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Selamat Jalan Ibu


__ADS_3

Kring ...


Kring ...


Kring ...


Ponsel Lucky yang diletakan sembarang di atas meja tiba-tiba saja berdering, Lucky yang sedang tertidur lelap pun terbangun seketika, dia nampak mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel, dengan mata yang setengah terpejam dia pun menatap layar ponsel tersebut lalu mengangkat telepon.


📞 ''Halo, Abang. Ada apa?'' tanya Lucky dengan suara yang terdengar berat.


📞 ''Dek, kamu harus segera kembali ke Rumah Nenek, sama Mommy dan Papi juga, ya ... hiks hiks hiks ...'' terdengar lirih suara Axel, menangis di dalam telpon.


📞 ''Abang kenapa menangis?''


📞 ''Nenek, Dek. Nenek ... Me-ning-gal ... hiks hiks hiks ...''


📞 ''Apa ...? jangan bercanda, bang. Gak lucu ...''


📞 ''Apa Abang terdengar seperti sedang bercanda, hah ...''


Lucky terdiam sejenak, perasaannya mendadak berkecamuk, tatapan matanya nampak menatap lurus ke arah depan melayangkan tatapan kosong dengan mata yang mulai berair, tangannya yang memegang ponsel pun terasa bergetar seketika.


📞 ''Dek ...? kamu masih di sana 'kan?''


📞 ''iya, Bang. Aku akan ke sana sekarang juga,'' jawab Lucky langsung menutup telpon.


Dia pun segera bangkit lalu menghampiri Ayu yang perlahan mulai membuka mata.


''Ada apa? tadi siapa yang nelpon?'' tanya Ayu dengan suara yang terdengar berat.


''Maaf, Yu. Aku harus segera pergi, Nenek aku meninggal ...'' jawab Lucky dengan lelehan air mata membasahi pipinya kini dan tubuh yang masih gemetar.

__ADS_1


''O ya ...?''


''Aku pergi dulu, ya. Mungkin dalam beberapa hari ini, aku gak bisa ke sini,'' jawab Lucky tergesa-gesa.


Dia pun berbalik lalu hendak pergi, namun sebelumnya, secara tiba-tiba Lucky mengecup kening Ayu terlebih dahulu membuat gadis itu benar-benar terkejut dan mematung menatap kepergian kekasihnya itu.


Ayu meraba keningnya, dia tersenyum senang mendapatkan kecupan singkat yang seolah menjadi suntikan penyemangat baginya, meski kekasihnya itu mengatakan tidak akan kembali dalam waktu beberapa hari, namun, kecupan yang diterimanya cukup membuat seorang Ayu tidak merasa kecewa sedikitpun.


🌹🌹


Bendera berwarna kuning nampak bergoyang karena tersapu angin, meliuk-liuk dengan bambu yang berdiri tepat di depan gang dimana tempat tinggal Nenek Sarah berada, bendera yang menandakan bahwa di gang sempit itu sedang ada satu rumah yang sedang berduka.


Leo nampak memarkirkan mobilnya tepat di depan gang, dia bersama Adelia sang istri segera turun dengan tergesa-gesa menuju rumah duka.


Adel yang sudah menangis selama di perjalanan pun, nampak menunjukan raut wajah yang sangat muram, matanya terlihat sembab dengan buliran air mata yang terus berjatuhan, dengan mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan kerudung yang di gantungkan sembarang di kepalanya.


Leo berjalan beriringan dengan sang istri, dia memapah tubuh Adelia yang terlihat lemas. Leo mencoba bersikap tegar meski sebenarnya dia sendiri merasa hancur, mengingat sosok ibu Sarah yang baik hati dan telah memperlakukan dirinya layaknya anak kandung.


Dari kejauhan rumah duka nampak sudah ramai dengan para tetangga yang memang segera berdatangan setelah mendengar kabar duka tersebut.


Akhirnya, Adelia tiba di rumah sang ibu, jenazah ibunya tersebut sudah terlihat berada di tengah rumah tertutup kain di temani beberapa orang tetangga yang sedang mengaji di samping tubuh sang ibu yang sudah terbujur kaku.


Tangis Adelia pun pecah seketika, dia berlari menghampiri lalu duduk di samping jasad sang ibu, tidak ada kata yang dapat menggambarkan kesedihan yang sedang dirasakan oleh seorang Adelia, tangisnya terdengar begitu pilu sehingga membuat siapapun yang mendengar dan melihatnya ikut merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh wanita bernama lengkap Adelia Pasha tersebut.


''Maafkan Adel, Bu. Karena Adel gak bisa berada di samping ibu di saat-saat terakhir ibu, hiks hiks hiks ...'' lirih Adelia, membuka penutup wajah sang ibu lalu menatap wajah mendiang.


Leo hanya bisa duduk di samping istrinya, mengusap punggung Adelia menenangkan, sebisa mungkin dia mencoba menekan kesedihan yang sebenarnya memenuhi hatinya, hingga dada ayah dari empat orang anak itu terasa sesak sebenarnya.


Sebagai kepala keluarga, tentu saja dia harus menjadi pilar paling tinggi yang akan menjadi tumpuan bagi istri dan juga anak-anaknya, wajahnya terlihat tegar, tidak sedikitpun air mata yang keluar dari mata seorang Leo, bukan karena dia tidak bersedih tapi karena dia tidak ingin terlihat rapuh meski sebenarnya hatinya hancur.


Tidak hanya Adelia. Axel, Axela dan Lucky ikut menangis melepaskan kepergian Nenek mereka, semuanya merasakan kesedihan yang sama. Axela, dia nampak menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, menangis sesenggukan dengan tangan yang memegangi perutnya yang sudah mulai membesar.

__ADS_1


Leo kembali mengusap punggung sang istri, sebisa mungkin dia harus bisa menenangkan perasaan istrinya tersebut.


''Sayang, sabar ya. Aku yakin ibu sudah tenang di alam sana, kamu harus kuat, ibu pasti pergi dengan perasaan bahagia,'' lirih Leo memeluk tubuh sang istri, membiarkan istrinya tersebut menangis di dalam pelukannya.


''Ibu, Mas. Ibu telah tiada, aku gak akan pernah bisa melihat dia lagi, hiks hiks hiks ...'' lirih Adelia di dalam pelukan.


''Iya, sayang. Aku ngerti, aku juga sedih sekali, tapi kamu harus kuat dan ikhlas, kamu lihat wajah ibu, dia terlihat bahagia, aku yakin kamu pasti kuat, sayang ...'' lirih Leo, semakin mendekap erat tubuh istrinya.


Bukannya semakin tenang, tangis Adelia malah semakin pecah kini, di membenamkan kepalanya di dada sang suami dan menangis sejadi-jadinya.


''Ibu ...! Ibu ...! Maafkan Adel, Bu ... hiks hiks hiks ...!'' tangis Adelia sesenggukan.


Akhirnya, Leo tidak dapat berbuat apa-apa lagi, dia hanya mendekap erat tubuh sang istri dengan menahan air mata, membiarkan istrinya tersebut menumpahkan seluruh kesedihan di dalam pelukannya.


Tiga jam kemudian.


Pemakaman pun selesai diadakan, seluruh keluarga sudah kembali berkumpul di rumah, para tetangga pun perlahan mulai kembali ke rumah masing-masing.


Adelia nampak duduk lemas di temani ketiga putra putrinya, begitupun dengan Gabriel, Amora dan juga Emillia, semuanya berkumpul ruang tamu yang luas beralaskan karpet tebal.


Tapi sepertinya, Leo tidak terlihat berada di sana, dia melipir ke sendirian di dapur, duduk dengan bersandar tembok, meratapi kepergian ibu Sarah wanita yang sangat dia sayangi kayaknya ibu kandung sendiri.


Bayangan masa lalu pun kini memenuhi otaknya, saat pertama kali dia di bawa ke rumah ini dalam keadaan hilang ingatan, dengan sabar dan tidak pernah mengeluh sedikitpun, mendiang sang ibu merawatnya dengan penuh kasih sayang.


Dia pun kembali mengingat saat ibu Sarah membuatkan gorengan yang merupakan makanan kegemaran dirinya, tersenyum begitu manisnya di dalam otaknya kini, sungguh membuat hati seorang Leo benar-benar merasa kehilangan.


Kini, Leo menangis sesenggukan, menumpahkan seluruh kesedihan yang sedari tadi dia tahan, tangis yang membuat dadanya terasa sesak dan tubuhnya bagai lemas tidak bertenaga.


Dia menangis sendirian, tidak di dengar dan tidak diketahui oleh siapapun, berada di ruangan paling belakang kediaman mendiang Ibu Sarah, ruangan dapur yang merupakan ruangan penuh kenangan bagi Leo bersama sang ibu, yang kini telah berpulang.


''Maafkan aku, Bu. Maaf karena belum bisa membalas semua kebaikan ibu, semoga ibu tenang di alam sana, putri ibu akan aku jaga dan gak akan pernah aku tinggalkan, kami akan saling menjaga satu sama lain sampai kami berdua menyusul ibu ke alam sana,'' lirih Leo di sela-sela tangisnya.

__ADS_1


____________-------------_______________


__ADS_2