
Adelia menghentikan langkahnya, di merogoh saku celana yang di pakainya, ternyata dompetnya ketinggalan di dalam kamar.
''Bu, dompet'ku tertinggal. Tunggu sebentar di sini, aku kembali dulu ke kamar ya,'' ucap Adelia yang langsung di jawab dengan anggukan oleh sang ibu.
Adelia pun memutar badan dan berjalan kembali ke kamar dimana suaminya berada, dia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa meninggalkan ibu yang kini duduk di sebuah bangku.
Sesampainya di depan kamar, Adel tidak langsung membuka pintu, langkahnya terhenti di depan pintu saat mendengar sang suami berbicara dengan nada serius di dalam sana.
Meski hanya terdengar samar-samar, namun Adel dapat menangkap inti dari ucapan yang baru saja di lontarkan oleh suaminya tersebut. Karena merasa penasaran, dia pun membuka pintu dengan sedikit kasar dan masuk ke dalam kamar.
Brak
''Apa maksud dari ucapanmu itu?'' Adelia berdiri di depan pintu, berjalan lalu menatap wajah Leo dengan tatapan tajam.
Leo pun terkejut, wajahnya berubah pucat pasi, tangannya bahkan sedikit gemetar, apa mungkin istrinya tersebut mendengar semua yang dia ucapkan barusan?
''Jawab, kenapa diam saja?'' Adelia sedikit menaikan suaranya.
''Eu... Anu... kenapa kamu balik lagi?'' Leo berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
''Seharusnya aku yang bertanya? kenapa jadi malah sebaliknya? siapa kamu sebenarnya? mengapa tadi berucap seolah kamu bukan orang yang baik? dan ingin menjalani hidup dengan baik sekarang?'' Adel berdiri tepat di samping tempat tidur.
Leo hanya terdiam.
''Aku tahu, aku pernah mengatakan bahwa aku akan menunggu sampai kamu siap untuk menceritakan semuanya, namun sekarang aku berubah pikiran, aku ingin kamu bercerita sekarang juga, aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi, dan menjalani hidupku seperti wanita bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang suaminya sendiri.''
Ryan yang tidak ingin berada di tengah-tengah sepasang suami-istri yang siap untuk bertengkar pun segera memundurkan langkahnya, berbalik lalu keluar dari dalam kamar.
''Saya permisi, bos,'' ucap Ryan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
''Leonardo...'' Adel menatap wajah sang suami dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
''Tidak bisakah kamu menunggu sebentar lagi, sampai aku benar-benar siap menceritakannya?'' Leo menatap wajah sang istri.
''Tapi aku sedang sakit lho, kakiku sakit sekali,'' jawab Leo dengan sedikit meringis, dan mengusap kaki yang di balut dengan perban.
''Yang sakit itu kaki kamu, bukan mulut kamu,'' jawab Adel datar.
Leo terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan, apakah ini waktu yang tepat untuk dirinya menceritakan semua kepada istrinya tersebut.
__ADS_1
''Kenapa masih diam? kalau kamu tidak mau bicara juga, aku akan pergi dari sini,'' Adel hendak melangkah.
''Tunggu...'' Leo meraih pergelangan tangan Adelia, menahannya lalu menggenggam jemarinya.
''Adelia... istriku sayang,'' ucap Leo, menunduk sebentar, lalu kembali menatap wajah sang istri yang masih saja menatap dirinya dengan tatapan tajam dan raut wajah yang penuh dengan kesedihan.
''Apapun yang akan aku katakan ini, aku harap itu tidak akan merubah perasaan'mu kepadaku, karena aku sangat mencintaimu, dan aku tidak ingin kamu meninggalkan aku begitu saja, hidupku akan sangat hancur jika kamu sampai melakukan hal itu,'' ucap Leo mencoba mengulur waktu.
''Jangan bertele-tele, cepat ceritakan sekarang juga, atau aku akan benar-benar meninggalkan mu,'' Adelia mengancam.
''Sebenarnya... sebenarnya...'' Leo menunduk, tidak kuasa untuk berbicara.
Adelia pun menepis lengan Leo yang sedari tadi menggenggam erat jemari'nya, dia merasa kesal karena suaminya tersebut seperti tidak berniat sama sekali untuk menceritakan semuanya.
''Sudahlah...! sepertinya kamu memang tidak ingin menceritakan semua dan ingin terus membodohi'ku,'' Adelia memutar badan dan hendak kembali melangkah.
''Sebenarnya, aku adalah seorang mafia, lebih tepatnya lagi bos mafia...'' ucap Leo memberanikan diri.
''Apa...? Ma-mafia...?''
__ADS_1
Adelia membulatkan bola matanya, kembali memutar badan dan menatap wajah sang suami dengan lelehan air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipinya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar'nya.
_____________---------_______________