Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Hilang


__ADS_3

Mobil Axel melaju kencang di jalanan, dengan Amora yang duduk si kursi sebelah'nya, wajah gadis itu terlihat muram, dan juga masam, tidak ceria seperti biasanya, kepalanya nampak di sandarkan di sandaran kursi dengan mata yang menatap ke arah luar jendela.


Axel sedikit melirik dengan tatapan penuh rasa bersalah, seharusnya semalam dia kembali lagi ke tempat itu untuk mengambil motor Amora, namun bodohnya dia, dia tidak melakukan hal tersebut karena terlalu panik dengan kondisi Amora yang tiba-tiba pingsan di pinggir jalan.


Akhirnya keduanya sampai di tempat dimana Axel meninggalkan motor tersebut semalam, dan benar saja, motor tersebut sudah tidak berada di sana, Amora pun keluar dari dalam mobil dan menatap ke sekeliling dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


''Where's my motorbike El? there isn't it?"


(Motor gue kemana El? tidak ada kan?)


Amora, berjalan ke sana kemari, merasa panik.


''Maafin gue, Ra. Gue janji bakalan ganti motor Lo dengan yang baru.''


''Apa...? yang baru? nggak... Pokoknya Lo harus cari motor gue sampai ketemu, hiks hiks hiks...''


Amora berjongkok dan menangis tersedu-sedu di pinggir jalan.


Axel menghampiri dan berjongkok tepat di depan Amora, dia menatap wajah gadis itu yang kini telah basah dengan air mata, bahunya pun terlihat naik turun karena menangis sesenggukan.


''Gue minta maaf, Ra. Sungguh...! Gue janji bakalan cari motor Lo sampai dapat, dan sebagai gantinya, gue bakalan jadi supir pribadi Lo, yang akan mengantarkan Lo kemana pun Lo pergi,'' Axel masih merasa bersalah.


Amora mengangkat kepalanya, mengusap buliran air mata yang membasahi pipinya, wajahnya terlihat kesal.


''Semenjak ketemu sama Lo, gue selalu sial, kenapa si gue harus kenal sama lo? hah...? kenapa juga Lo harus nolongin gue semalam? kalau saja Lo biarin gue pingsan di pinggir jalan, mungkin motor gue gak akan hilang,'' Amora menaikan suaranya.


''Iya, gue minta maaf.''


''Maaf Lo gak ada gunanya, tau.''


''Ko, Lo jadi marah sama gue gitu, yang semalam hampir nabrak gue kan elo? lihat mobil gue aja masih lecet, Lo tau gak berapa harga mobil ini, hah? harganya gak sebanding dengan harga motor elo yang hilang itu, enak aja nyalahin semuanya sama gue,'' Axel sedikit kesal karena terus di pojokan.


Amora pun menatap wajah Axel dengan tatapan geram.


''Iya, gue emang salah, tapi gak seharusnya Lo ngehilangin motor gue, hiks... hiks... hiks...''


''Bukan gue yang ngilangin motor Lo, Ra.''


''Terus siapa? hantu? hah?''

__ADS_1


Perdebatan pun semakin sengit, Axel dan Amora berdiri saling berhadapan sangat dekat, dengan mata yang saling menatap tajam, dan wajah yang terlihat geram.


''Terus mau Lo apa? gua bakalan gantiin motor Lo, ganti yang baru dan yang lebih bagus pula, orang tua gue punya banyak uang, kalau Lo mau gue bisa beliin dua atau tiga motor sekaligus...'' Axel membulatkan bola mata'nya.


''Dasar sombong, gue gak butuh harta Lo, gue juga perduli dengan orang tua lo yang punya banyak uang, gue hanya ingin motor gue balik, ngerti lo? pokoknya gue mau Lo cari motor gue sampai ketemu,'' Amora memutar badan lalu berjalan menjauh meninggalkan Axel yang masih berdiri dengan perasaan geram.


Axel yang juga sedang dalam keadaan kesal, tidak perduli dengan Amora yang berjalan kaki menyusuri jalan, hendak pulang. Dia pun masuk kembali ke dalam mobil mewahnya, lalu mulai berjalan perlahan dan melaju kencang di jalanan, melintas tepat di depan Amora yang sedang berjalan.


''Dasar manusia sombong, gue benci sama Lo...!'' Amora berteriak kencang seraya melayangkan kakinya ke udara seolah sedang menendang.


Dia pun meneruskan langkah'nya, langkah yang sebenarnya tidak tahu akan kemana, jujur saja, dia sendiri tidak tahu sedang dimana, dan arah ke tempat tinggalnya juga tidak tahu harus mengarah ke arah mana, Amora hanya terus melangkah dengan langkah gontai, di temani sinar matahari yang sinarnya perlahan mulai naik ke permukaan.


Tut


Tut


Tut


Tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil dari arah belakang, dan tanpa di sangka Axel kembali dengan mengendarai mobilnya seraya berjalan pelan, beriringan dengan langkah Amora.


''Cepat naik, gue anterin Lo pulang,'' Axel membuka lebar kaca jendela mobil dan berbicara dengan sedikit berteriak.


Ckit...


Axel menginjak rem dan dan berhenti tepat di depan Amora, dia pun keluar dari dalam mobil, berjalan menghampiri dan tanpa basa basi dia menggendong tubuh Amora untuk di bawa ke dalam mobil.


Amora pun berontak dengan menggerakkan suruh tubuhnya, seraya berteriak, namun usahanya sia-sia karena tangan kokoh Axel melingkar begitu kuatnya.


''Gue gak suka menerima penolakan, Lo wanita pertama yang menolak ajakan gue, dan gue gak terima itu, paham?'' Axel seraya berjalan dengan Amora di dalam gendongannya.


''Turunin gue, Axel!''


Axel tidak menjawab, dia membuka pintu mobil dan memasukan tubuh Amora di kursi depan.


''Apa-apa Lo?'' teriak Amora sesaat setelah tubuhnya di dudukan dengan sedikit kasar di kursi mobil.


Axel tidak menjawab, dia kembali menutup pintu mobil dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang sangat nyaring. Dia pun masuk kedalam mobil mewah miliknya, duduk di kursi depan dan memegang kemudi siap untuk menyetir.


''Kenapa diam aja, Axel. Gue benci sama Lo, cowok sombong,'' Amora hendak keluar kembali dalam mobil.

__ADS_1


''Lo bisa nggak si tenang sedikit, hah?''


Amora terdiam, menatap wajah Axel yang kini menatap wajahnya dengan tatapan tajam, dan raut wajah yang terlihat geram.


''Gue tahu Lo marah sama gue, gue minta maaf, gue salah, tapi bisa gak kita bicarakan ini baik-baik, setidaknya biarkan gue anterin Lo pulang dulu, gue tau Lo gak tau jalan pulang, kan?''


Amora masih terdiam.


''Gue janji, gue bakalan nyari motor Lo yang hilang itu, dan sebagai permintaan maaf gue, gue akan antar jemput Lo ke sekolah, gimana?''


Amora masih terdiam, kali ini dia menatap bola mata Axel yang entah mengapa seperti memancarkan ketulusan.


Axel memalingkan wajahnya seketika saat mata keduanya bertemu di satu titik, saling melayangkan tatapan, merasa grogi dan gugup, kemudian dia pun menyalakan mobil, dan mulai melaju di jalanan.


Keduanya pun hanya terdiam tanpa sepatah katapun selama di perjalanan, seperti'nya merasakan getaran yang berbeda di hati masing-masing.


''Alamat tempat tinggal Lo dimana?'' tanya Axel memecah keheningan.


''Di Apartemen ******.'' jawab Amora datar.


Axel hanya mengangguk tanpa menoleh.


Akhirnya mereka pun sampai si apartemen yang dimaksudkan oleh Amora.


''Udah, gak usah nganterin gue ke dalam, Lo langsung balik aja,'' pinta Amora, membuka pintu mobil hendak keluar.


''Tunggu... Amora.''


Axel meraih pergelangan tangan Amora.


''Ada apa lagi?''


''Gue janji akan mencari motor Lo sampai ketemu, jadi Lo gak usah khawatir, ya. Mulai besok gue bakalan antar jemput Lo ke sekolah, sampai motor Lo ketemu, oke...'' Axel menatap dengan tatapan sayu dan penuh dengan ketulusan, membuat hati Amora luluh seketika.


''Aku masuk dulu ya.''


Ucap Amora, tidak menjawab ucapan Axel, dirinya hanya tersenyum dengan begitu manisnya, membuat hati Axel kembali bergetar.


__________----------___________

__ADS_1


__ADS_2