
Tujuh bulan kemudian.
Leonardo nampak masih berada di kantornya, dan sudah bersiap untuk pulang, dirinya sedang membereskan berkas-berkas yang masih memenuhi meja kantornya secara sembarang.
Wajah Leo nampak kelelahan, karena selain mengurus pekerjaan yang menumpuk dia pun harus ikut menjaga ketiga cucunya yang kini sudah berusia 7 bulan.
Setelah selesai membereskan berkas di atas meja, dia pun bangkit dan hendak memakai jas yang dia lingkarkan sembarang di belakang kursi, namun, seketika dia mengurungkan niatnya saat ponsel miliknya itu berdering.
Leo pun menatap layar ponsel yang bertuliskan nama Alex.
📞 ''Halo ... Ada apa nelpon? ganggu orang aja si,'' Leo mengangkat telpon malas.
📞 ''Kamu ini, udah tua juga masih aja sibuk kerja, mendingan kamu banyak-banyak istirahat, dan serahkan urusan kantor sama putra sulung kamu si Axel.''
📞 ''Dih, dia masih kuliah, masih butuh banyak belajar agar bisa mengurus perusahaan nantinya. Lagian kenapa kamu menyuruh aku buru-buru menyerahkan perusahaan sama dia? jangan-jangan ada udang di balik batu, mentang-mentang dia calon menantu kamu, lalu kamu ingin dia segera memegang perusahaan agar kamu bisa menggerogoti dia, begitu?''
📞 ''Ish ... Kamu ini, aku tersinggung dengan ucapan kamu. Aku punya banyak uang tau, aku gak perlu menggerogoti menantuku untuk mendapatkan uang, sembarangan ...''
📞 ''Ha ... ha ... ha ...! Syukurlah kalau kamu tersinggung, memang aku bermaksud begitu.''
📞 ''Kurang ajar, ha ... ha ... ha ...!''
📞 ''Kenapa kita jadi ngelantur gini sih? cepat katakan, ada perlu apa kamu nelpon? apa kamu kangen sama aku, Alex?''
📞 ''Cuih ... Mana Sudi aku kangen sama kamu, Leo. Aku nelpon, karena ingin memberi kabar kalau Revan sakit, apa kamu sudah tau?''
📞 ''Revan mana? maksud kamu Revan calon besan aku? Eu ... Maksudnya, Revan ayahnya Ayu?''
📞 ''Memangnya kamu punya berapa banyak teman yang bernama Revan, hah? tentu saja Revan teman kita, ayahnya gadis yang bernama Ayu, calon besan kamu.''
📞 ''Iya-iya ... Aku mengerti, memangnya dia sakit apa?''
📞 ''Sepertinya dia terkena stroke ... Aku juga belum tau dengan pasti, gimana kalau sekarang kita jenguk dia ke rumahnya?''
📞 ''Hmm ... sebenarnya badan aku lelah banget, tapi kalau kamu memaksa terpaksa aku ikut.''
📞 ''Dih ... siapa yang memaksa, aku cuma nawarin kamu, kalau kamu mau ke sana, kita barengan ...''
📞 ''Akh ... bilang aja kalau kamu memang maksa.''
📞 ''Terserah kamu aja deh. Jadi intinya kamu mau ke sana atau tidak?''
__ADS_1
📞 ''Iya aku mau. Kita ketemu di sana ya, aku berangkat sekarang.''
📞 ''Oke ...''
Leonardo pun segera menutup telpon dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
🍀🍀
Di waktu yang bersamaan.
Lucky sedang berada di rumah kekasihnya, pulang sekolah dia sengaja berkunjung ke sana, selain karena dia hendak melihat keadaan ayah dari kekasihnya, dia pun rindu sekali ingin berduaan dengan Ayu.
Karena mereka baru selesai menjalani ujian kenaikan kelas, membuat Ayu dan Lucky sepakat menjaga jarak dan fokus dalam belajar.
Kini, setelah ujian selesai, Lucky merasa tidak sabar untuk meluapkan kerinduan yang selama ini dia pendam.
Lucky duduk di ruang tamu, menunggu kedatangan Ayu yang saat ini sedang mengambil minuman dingin untuk dirinya.
''Maaf ya, harus nunggu lama. Tadi aku ke atas dulu, habis liat keadaan ayah ...'' Ayu berjalan mendekat dengan tangan yang membawa dua botol minuman soda dingin.
''O iya, gimana keadaan Om Revan?'' tanya Lucky penasaran.
''Beliau masih sama, sejak terkena stroke dia hanya bisa berbaring tanpa bisa melakukan apapun,'' jawab Ayu sedih.
''Aku gak yakin, aku dengar orang yang terkena stroke gak akan sembuh lagi, meskipun ada, kemungkinannya sangat kecil,'' Ayu duduk di samping Lucky.
''Jangan pesimis gitu dong, kamu harus yakin bahwa ayah kamu pasti akan sembuh lagi, sayang.''
''Entahlah, aku hanya tidak ingin terlalu berharap, takut akan kecewa nantinya.''
''Hmm ... Sini sayang, aku peluk.'' Lucky meraih tubuh Ayu dan membawa dalam dekapannya.
''Aku kangen sekali nama kamu, Luck.'' Ayu membenamkan kepalanya di dada bidang Lucky.
''Aku pun sama, sayang. Aku kangen banget sama kamu.'' Jawab Lucky, mengecup pucuk kepala Ayu.
Perlahan Ayu mendongakkan kepalanya lalu mengecup leher Lucky, dan hal itu sukses membuat bulu kuduk Lucky berdiri serentak.
Lucky pun segera menundukkan kepalanya menc*um bibir mungil Ayu lembut. Ayu pun menyambut sentuhan hangat bibir kenyal kekasihnya itu dan melu*atnya mesra.
Entah apa yang merasuki jiwa keduanya, dua Minggu tidak bertemu membuat jiwa mereka seolah haus akan kasih sayang dan belaian.
__ADS_1
Lucky semakin membenamkan ciu*annya, mel*mat dengan begitu lahapnya, bahkan tangannya kini mulai aktif menjelajahi gunungan kembar kekasihnya itu, sesuatu yang baru pertama kali dia lakukan dari semenjak mereka berpacaran.
''Akh ... Luck ...'' Ayu mend*sah pelan, saat benda kenyal miliknya itu di remas meski hanya dari luar.
''Maaf, aku melewati batas ...'' Lucky melepaskan tautan bibirnya sekaligus melepaskan cengkraman tangannya di benda bulat dan ranum itu.
Keduanya pun merasa gugup seketika, Ayu nampak merapikan seragam sekolah yang masih dipakainya itu dengan wajah yang memerah.
Sementara itu, Lucky mengusap wajahnya kasar, menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, mencoba mengatur helaan nafasnya yang sempat berhembus tidak beraturan.
Keheningan pun seketika tercipta, sampai bunyi bel rumah terdengar memecah keheningan.
''Ada tamu ...'' ucap Lucky.
''Sebentar, aku liat dulu siapa yang datang.''
Ayu bangkit lalu berjalan ke arah pintu.
Ceklek ...
Ayu membuka pintu lalu terkejut seketika karena yang datang adalah Leonardo, calon mertuanya yang saat ini berdiri tepat di depan pintu.
''Om Leo, Om Alex ...?'' Sapa Ayu segera menyalami keduanya.
Lucky yang terkejut segera berdiri dengan wajah pucat pasi, mengingat bahwa mereka baru saja melakukan hal yang di luar batas.
''Papi ...'' sapa Lucky gugup.
''Kamu, Dek. Sedang apa kamu di sini?'' tanya Leo terkejut.
''Eu ... Anu ... Pap ... Biasa ... he ... he ... he ...'' jawab Lucky semakin gugup.
''Dasar anak muda.'' Alex menggelengkan kepalanya.
''Mari masuk, Om.'' Pinta Ayu.
''Terima kasih, Ayu. Kami datang ke sini untuk melihat keadaan ayahmu, apa dia baik-baik saja?'' tanya Alex, berjalan masuk ke dalam rumah.
''Hmm ... beliau ada di kamarnya, mari saya antar Om-Om ke sana.''
Alex dan Leo pun berjalan mengikuti dari arah belakang. Tatapan mata Leo nampak mengarah tajam ke arah Lucky membuat putra bungsunya itu menggaruk kepala yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
__ADS_1
'*Mudah-mudahan Papi gak ngeliat apa yang baru saja aku lakukan, tatapan matanya serem banget,' ( Batin Lucky, balas menatap wajah ayahnya )
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀*