
''Apa yang terjadi dengan kak Al, bang...?'' tanya Lucky menangis sesenggukan seperti anak kecil.
Amora yang juga berada di sana terkejut melihat adik bungsu dari sahabat'nya bisa menangis seperti itu.
''Abang juga tidak tahu, kita tanya nanti saat Al sudah bangun, ya...!''
''Kenapa wajahnya pucat seperti ini? apa dia sudah mati, hiks... hiks... hiks...''
''Adek...? kenapa bilang seperti itu? bikin Abang merinding saja.''
''Habisnya, kenapa wajah kak Al pucat sekali, bang?''
''Dia baru saja menjalani perawatan serius dari Dokter, punggung'nya terluka, Abang juga tidak tahu luka bekas apa?''
''Apa terluka? luka bekas apa?''
''Abang juga tidak tahu...''
''Ya ampun Kaka... hiks hiks hiks...''
''Berisik banget si kamu, dek. Ganggu tidur Kaka saja,'' Axela membuka mata lalu menatap kedua saudaranya.
''Kaka...? kamu sudah bangun? kamu kenapa, kak? mengapa jadi seperti ini? wajah'mu pucat sekali seperti zombie...'' lirih Lucky, tersenyum seraya menangis secara bersamaan.
''Gak usah lebai, dek. Kamu pikir Kaka mayat hidup,'' Al memaksakan diri tersenyum.
''Apa Kaka baik-baik saja? katanya Kaka terluka? mana yang sakit? bilang sama aku,'' tanya Lucky masih dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
''Ra, bisakah kamu bantu aku untuk duduk?'' pinta Axela menatap wajah Amora.
''Tentu saja, Al.''
Amora pun membantu sahabat'nya tersebut untuk duduk, dengan di bantu pula oleh Axel, duduk di atas ranjang dengan bersandar bantal di belakang punggungnya.
Setelah Al duduk, Lucky segera memeluk Kaka perempuannya, sesuatu yang sedari tadi ingin dia lakukan sebenarnya, melihat hal tersebut, Axel pun melakukan hal sama, hingga ketiga Kaka beradik itu saling berpelukan, mendekap erat tubuh Axela, seraya terisak sebenarnya.
''Aw... ! sakit...!'' Al meringis kesakitan, saat tangan Lucky tidak sengaja menyentuh luka di punggung Axela.
__ADS_1
''Maaf, kak. Aku tidak sengaja...'' ucap Lucky, segera menarik tangan'nya.
Ketiga nya segera melepaskan pelukan lalu tertawa bersama, meski sebenarnya pelupuk mata mereka penuh dengan air mata, menahan kesedihan.
''Dimana, mommy sama papi?'' tanya Al.
''Mereka belum di beri tahu, aku menunggu keadaan'mu membaik, aku takut mom syok melihat'mu seperti ini, Al.''
Axela menunduk, hatinya terasa sedih apabila mengingat kedua orangtuanya, karena dirinya sudah mengecewakan mereka, melanggar janji, dan tentunya telah berbohong kepada mereka, sampai akhirnya dia pun tiba-tiba saja terisak, mengingat apa yang telah terjadi antara dirinya bersama pria yang bernama Gabriel.
''Bisakah, kalian berdua keluar dulu? aku ingin bicara berdua dengan Axela.'' Pinta El kepada Adik bungsunya dan juga Amora.
''Baiklah, kalian bicara saja dulu, aku dan Lucky menunggu di luar,'' jawab Amora.
''Kenapa aku di usir juga?'' Lucky terlihat heran.
''Bukan di usir, dek. Abang cuma ingin bicara empat mata dengan kakakmu ini, sesuatu yang pribadi.''
''Tapi, Abang?'' Lucky merajuk.
''Sudah, beri mereka waktu sebentar saja, nanti kamu bisa kembali setelah mereka selesai bicara, oke?'' Amora mendorong tubuh Lucky keluar dari dalam ruangan.
''Ada apa sebenarnya, Al?''
''Bisakah kamu nggak usah bertanggung dulu sekarang? perasaan'ku sedang benar-benar tidak enak,'' jawab Al, memandang wajah kembarannya dengan tatapan mata sayu, di sertai buliran air mata yang perlahan turun membasahi pipinya.
''Siapa pria itu? apakah dia telah berbuat macam-macam dengan'mu?''
Axela hanya terdiam, menunduk dengan air mata yang masih berjatuhan.
''Jawab, Al...?''
Axela pun mengangkat kepalanya, menatap wajah Axel, matanya yang sayu semakin terlihat kuyu, keceriaan yang selama ini selalu di tunjukan dari raut wajahnya seolah hilang, dan sifat periang disertai dengan senyuman manis yang biasa terlihat dari wajah cantik'nya, kini berubah murung, dengan sejuta kesedihan yang seolah memenuhi relung jiwanya sekarang.
''Axel, aku akan menjawab semua pertanyaan'mu, tapi nanti, biarkan perasaan'ku tenang dulu sekarang, saat ini aku hanya ingin bertemu mommy dan papi, aku ingin bertemu dengan mereka, ya...! bisakah kamu panggilkan mereka berdua, aku ingin meminta maaf karena telah berbohong...'' pinta Al dengan mata yang masih terlihat berkaca-kaca.
''Hmm...''
__ADS_1
El menarik napas panjang, dia pun memeluk tubuh kembarannya, mengusap rambut panjangnya, memberikan dukungan.
''Baiklah, jika memang itu yang kamu mau, aku akan memanggil mereka kemari, tapi kamu harus janji tidak boleh menunjukkan kesedihan seperti ini di depan mereka, aku tidak ingin membuat mereka bersedih juga, ya?'' ucap Axel mendekap erat tubuh Axela.
''Iya, aku janji.''
Al melepaskan pelukan kembarannya, kembali menatap wajah Axel dengan tatapan nanar, dengan tatapan mata yang penuh dengan kesediaan.
Axel, dia sedikit tersenyum, dengan senyum yang di paksakan sebenarnya, mengusap setiap buliran air mata yang kini membasahi pipinya mulus Axela.
''Al, apapun yang sedang kamu hadapi sekarang, dan apapun yang telah menimpamu sebenarnya, kamu harus ingat, ada aku, Axel, kembaran'mu yang akan selalu mendukungmu, dan membantu'mu menyelesaikan setiap masalah yang sedang kamu hadapi, juga ingat, ada adikmu yang sangat menyayangi dirimu, dan juga kedua orang tua kita, mereka pasti akan sangat bersedih apabila melihat kamu seperti ini.''
''Jadi, kamu harus kuat, jangan terpuruk seperti ini, kamu tidak sendirian, aku, Lucky dan kedua orang tua kita akan selalu ada di samping'mu, ya...''
Axel kembali mengusap pipi Axela yang semakin basah dengan air mata, dia bahkan kembali memeluk kembarannya menangis di dalam dekapannya seolah menumpahkan setiap kesedihan yang tentunya akan dia sembunyikan nanti, apabila kedua orang tua nya sudah berada di sana.
''Aku akan memberi kabar mommy dan juga papi, ingat kamu harus kuat.''
Al mengangguk lalu melepaskan pelukan kembarannya, mengusap pipi putihnya dengan tangannya sendiri.
Belum juga Axel menelpon kedua orang tuanya, tiba-tiba saja pintu kamar pun di buka, Adelia sang ibu masuk kedalamnya berjalan cepat dengan terisak menghampiri Axela lalu segera memeluknya, Leonardo yang berjalan di belakangnya pun melakukan hal yang sama, memeluk putri kesayangannya.
''Sayang, apa yang terjadi? mengapa kamu bisa berakhir di sini?'' tanya sang ibu dengan terisak di dalam pelukan sang Putri.
''Siapa yang membuat'mu seperti ini, hah...? katakan sama papi, papi akan mencari mereka sampai ke ujung dunia sekali pun, katakan Al...!''
Leo tidak kuasa menahan emosinya, melihat putri kesayangan'nya yang sedang dalam keadaan terluka.
Rupanya, Lucky sengaja menjemput sang ibu dan segera memberi kabar kepada ayahnya, juga menceritakan bahwa kakak perempuan'nya dalam keadaan terluka.
Leo melepaskan pelukan sang putri, begitu pun dengan Adelia, si menatap wajah Axela dengan tatapan tajam.
''Papi berjanji, papi akan mencari orang yang telah membuat'mu terluka seperti ini, papi akan seret dia dan membunuhnya dengan tangan papi sendiri.''
Ucap Leo dengan pancaran mata penuh dendam, membuat sang istri, dan si kembar membulatkan bola matanya, merasa terkejut dengan ucapan ayahnya tersebut.
________---------_________
__ADS_1