Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menatap Ke Depan


__ADS_3

Akhirnya Adel sudah di perbolehkan pulang dari Rumah sakit, namun meskipun begitu, dia masih belum di perbolehkan untuk terlalu banyak bergerak, karena kondisi kandungan'nya masih sangat lemah dan berjalan pun masih harus menggunakan kursi roda.


Ucapan semangat dari Dokter dan limpahan kasih sayang yang di berikan oleh suaminya kepada dirinya, di tambah dengan kehadiran ibu yang memberinya kekuatan, membuat hati Adel sudah semakin tenang sekarang.


Dia pun pasrah, dan akan menyerahkan semua yang sedang di hadapi'nya kepada Tuhan, saat ini dia hanya akan pokus menjaga kandungannya dan memberikan kasih sayang kepada si kembar.


Wajahnya sudah sedikit ceria, bibirnya pun sudah terlihat tersenyum, meski kadang guratan kesedihan itu kadang masih sedikit terlihat, apabila mengingat hal yang pernah menimpanya.


Sebenarnya, dia juga tidak menginginkan hal itu terjadi, dia terpaksa melakukannya karena desakan keadaan, dan tentunya karena, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat laki-laki itu melakukan hal tersebut kepada dirinya.


Dia pun tahu, banyak orang yang akan mengecam perbuatan dirinya apabila mereka tahu apa yang telah dia lakukan, tanpa mengerti dan bertanya alasan di balik perbuatannya tersebut.


Tapi dia berjanji, suatu saat nanti, dia akan meminta maaf kepada suaminya tersebut, meski diapun tidak tahu kapan dia akan siap untuk melakukannya, karena apabila dia meminta maaf, sudah pasti dia pun harus menceritakan semuanya, dan dia tidak siap kalau sampai suami yang sangat di cintai'nya itu sampai meninggalkan dirinya.


Setelah menempuh perjalanan, selama kurang lebih satu jam, akhirnya dia pun sampai di rumah, di kelilingi semua orang yang mencintai dan menyayangi nya dengan sepenuh hati diapun mulai menapaki rumah dengan rasa penuh percaya diri dan tekad yang kuat, mulai saat ini dia hanya akan pokus menatap ke depan.


Melupakan semua hal pahit di belakang, masalah anak siapa yang saat ini berada di dalam kandungan'nya, dia pun menyerahkan hal itu kepada Tuhan, toh hanya dia yang maha mengetahui, hal yang tidak di ketahui oleh manusia di muka bumi ini.


''Sayang, aku antar kamu ke kamar ya, kamu harus lebih banyak beristirahat,'' ucap Leo mendorong kursi roda masuk kedalam rumah, lalu dia pun menggendong istri'nya ke dalam kamar.


''Iya, sayang...!'' jawab Adel tersenyum.


Dengan hati-hati dan perasaan penuh dengan kasih sayang, Leo pun menggendong tubuh istrinya, rasa lelah yang saat ini dia rasakan pun dia abaikan, beberapa hari menunggu istrinya di Rumah sakit, bekerja di kantor pula, belum lagi bergantian mengurus si kembar, membuat tubuhnya terasa sangat lelah.


''Wajahmu pucat sekali? kamu pasti lelah? kan?'' tanya Adel di dalam gendongan sang suami.


''Iya, aku memang lelah, tapi tak apa, aku masih bisa menahannya, setelah beristirahat nanti, rasa lelahku pasti hilang,'' jawab Leo, menatap wajah istrinya, lalu mengecup kening sang istri.

__ADS_1


''Terima kasih, sayang. Aku sungguh mencintaimu,'' jawab Adelia melingkarkan kedua lengannya di leher, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


''Aku pun, aku juga sangat mencintai dirimu, istri'ku...'' jawab Leo, menatap ke depan.


Ceklek


Pintu kamar pun di buka, dan Leo masuk kedalamnya, berjalan dan membaringkan tubuh sang istri di atas pembaringan, lalu menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


Leo pun berbaring di samping tubuh sang istri, melingkarkan lengannya dia perut Adelia, seraya menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh rasa cinta.


''Kamu tahu? aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kemarin kamu sampai kehilangan nyawa'mu?'' Leo menatap pilu wajah sang istri.


''Aku minta maaf, mulai kini, aku akan lebih berhati-hati, dan menjaga bayi kita ini dengan sepenuh hati, aku pun minta maaf, karena telah mengatakan sesuatu yang mustahil, kepadamu, mana mungkin aku yang merupakan seorang ibu, mengatakan bahwa aku ingin mengugurkan kandungan, sungguh aku menyesal telah mengatakan hal tersebut,'' Adel memeluk tubuh suaminya.


''Iya, aku memaafkan'mu, dan akan selalu memaafkan setiap kesalahan yang pernah kamu lakukan, karena aku mencintaimu, dan tentu saja karena manusia tidak luput dari rasa khilaf dalam berbuat kesalahan.''


''Sama-sama sayang, aku juga berterima kasih padamu, karena masih bisa bertahan sampai sekarang, memiliki istri seperti'mu adalah sebuah anugrah terindah yang pernah aku dapatkan,'' Leo menatap wajah sang istri, lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


***


Di kediaman Angel.


Malam ini, Angel sama sekali tidak bisa tertidur, matanya berulang kali mencoba di pejamkan, namun dia sulit untuk terlelap.


Hatinya masih diselimuti rasa gundah, mengingat pernyataan cinta Ryan dan memikirkan permintaan pria itu yang meminta dirinya untuk menjadi istri'nya.


Apakah dia sudah siap untuk menikah? usianya memang sudah tidak muda lagi, dan sudah pantas untuk berumah tangga, namun apakah dia layak untuk bersanding dengan pria baik seperti Ryan?

__ADS_1


Angel, wanita yang biasanya memiliki sifat percaya diri yang tinggi mendadak rendah diri, kecantikan dan kemolekan tubuh yang biasa dia banggakan mendadak tidak ada apa-apanya.


Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? dia pun tidak mengerti. Apa ini karena dia pun mempunyai rasa yang sama kepada pria bernama Ryan tersebut?


Akh entahlah... Wanita itu pun di buat pusing seketika. Angel menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, bahkan kepalanya pun ikut di tenggelamkan di dalamnya, masih berusaha untuk terpejam.


Sampai akhirnya ponselnya pun berdering. Dia pun meraih ponsel dan menatap layar ponselnya, ternyata pria yang sedang dia pikirkan menelpon dirinya, entah itu sebuah kebetulan, atau memang takdir, di saat dia sedang memikirkan pria tersebut, di saat itu pula pria yang sedang dia pikirkan menghubungi dirinya.


''Halo... Ryan. Ada apa malam-malam begini nelpon?'' Angel menyangka telpon.


''Coba tengok ke keluar jendela,'' pinta Ryan tanpa basa basi.


Angel pun membuka selimut lalu turun dari atas ranjang, berjalan ke jendela seraya menatap ke bawahnya.


Dan benar saja, di bawah sana, Ryan sedang menatap ke atas, dimana Apartemen'nya berada, dengan lengan di letakkan di telinga, sementara tangan lainnya memegang bunga mawar berwarna merah.


Dia pun melambaikan bunga tersebut ke arahnya, dan memintanya turun seketika itu juga. Tanpa basa-basi lagi, Angel pun turun dari dalam Apartemen'nya, dengan wajah yang terlihat senang dan senyum yang mengembang.


''Hai...'' Ryan menyapa, sesaat setelah Angel sampai di sana.


''Ada apa kemari?''


''Sebelum aku menjawab, bisa terima dulu bunga ini? aku spesial membawa ini untuk menghibur'mu, karena aku tahu kau pasti tidak bisa tidur, kan?''


_____________----------______________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️💓💓

__ADS_1


__ADS_2