
''Axel, bawa saudaramu keluar?'' pinta Leo sesaat setelah dia masuk ke dalam ruangan ICU.
''Pap, ada apa? Papi gak bakal ngapa-ngapain Briel, kan?'' Al terlihat panik.
Briel menatap wajah Leo, lalu dia memaksakan diri membuka alat bantu pernapasan yang menempel diwajahnya, dan mencoba untuk berbicara.
''A-l, ke-luar, se-ben-tar ...'' lirih Gabriel mengumpulkan semua kekuatan yang dia punya untuk berbicara.
''Al, kita keluar dulu, ya. Sebentar lagi Dokter pasti datang ke ruangan kamu, ingat, kamu juga harus menjaga tubuh kamu, dan juga ini ...'' Axel meraba perut Axela, dengan sedikit tersenyum.
Akhirnya Al pun mengangguk pelan.
''Sayang, aku ke kamar aku dulu, ya. Nanti, aku pasti balik lagi ke sini,'' lirih Al, sebelum dirinya keluar, yang di jawab dengan anggukan oleh Gabriel.
Bukan hanya Al saja yang keluar, yang lainnya pun melakukan hal yang sama, meninggalkan ruangan itu secara beriringan.
Kini, tinggallah mereka bertiga yang berada di sana, Leo berdiri tepat dia samping ranjang, menatap Gabriel dengan tatapan tajam, sementara Alex, dia berdiri tepat di samping Leo.
__ADS_1
''Sialan, kenapa kamu ninggalin aku, tadi. Dasar ...!'' gerutu Alex masih merasa kesal.
''Kamu nya aja yang jalannya lambat, dasar pria tua.''
''Hei, jangan sembarangan, emangnya aku aja yang tua, kamu juga sama, kan? kita sama-sama tua, kawan ... ha ... ha ... ha ...!''
''Enak saja, biarpun aku tua, tapi aku tetap tampan, gak kayak kamu, sudah tua jelek lagi, ha ... ha ... ha ...''
Tanpa mereka sadari, pertengkaran kecil mereka pun di saksikan oleh kedua putra mereka, Amora dan juga Axel, keduanya menatap wajah sang ayah secara bergantian, menggelengkan kepalanya serta tersenyum geli.
''Dih, gara-gara kamu, sih. Jadi malu kan dilihat oleh anak-anak kita,'' ujar Leo, dengan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
''Sudah cukup, Dad. Kalau dilihat sama aku sih gak perlu malu, tapi, tuh ... dari tadi dia ngeliatin kalian terus, baru juga siuman, sudah di kasih pemandangan yang kurang mengenakkan,'' Axel melirik ke arah Gabriel.
''O iya, kita sampai lupa tujuan utama kita ke sini?'' jawab Alex menepuk keningnya sendiri.
''Axel, bukan maksud Papi mau ngusir kamu, tapi memang ada sesuatu yang harus Papi tanyakan sama si Gabriel ini, jadi Papi minta kamu dan Amora keluar dulu ya.''
__ADS_1
''Emangnya apa yang ingin Papi bicarakan dengan dia? sampai-sampai aku tidak boleh tahu?'' El mengerutkan keningnya.
''Sekali lagi Papi mohon maaf, kamu masih kecil, belum saatnya kamu mengetahui tentang hal ini, Papi janji, nanti, kalau kamu sudah cukup umur, kamu boleh tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.''
''Tapi, Pap-''
''Sudahlah, El. Biarkan orang tua kita menyelesaikan masalah ini, kita keluar saja, ya ...'' Amora mendorong tubuh Axel.
Mau tidak mau, akhirnya Axel pun menurut, dan membiarkan begitu saja saat tubuhnya didorong oleh kekasihnya, Amora.
Kini tinggallah mereka bertiga, Alex dan juga Leo telah siap untuk mengorek informasi dari Gabriel, tidak peduli jika pemuda itu baru saja bangun dari koma.
''Katakan yang sejujurnya, semua yang kamu tahu tentang bos kamu, jika kamu masih ingin aku nikahkan dengan putriku, jika tidak? aku tidak akan pernah membiarkan kamu mendekati apalagi menjadikanmu menantuku, tidak peduli meskipun kamu ayah dari cucuku,'' ucap Leo dengan nada suara yang penuh dengan penekanan.
________________------------_____________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1