Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Anak Buah


__ADS_3

Alex menatap wajah Axela, yang kini nampak sedang menangis sesenggukan dengan tangan yang menggenggam erat jemari Gabriel yang saat ini sedang terbaring dalam keadaan koma.


Tangisnya terdengar pilu, hingga membuat siapapun akan merasa iba saat mendengar dan melihatnya, Amora pun nampak mengusap punggung sahabatnya tersebut, mencoba untuk menenangkan dengan matanya yang juga ikut berkaca-kaca.


''Briel, bangun sayang. Ini aku, hiks hiks hiks ...'' Lirih Al, mengusap punggung tangan kekasihnya.


''Sabar, Al. Aku yakin dia akan baik-baik saja dan segera bangun, kamu harus ingat, kamu gak boleh terlalu stres, kasian bayi yang ada di dalam kandungan kamu ini,'' ucap Amora pelan.


Alex pun terkejut bukan kepalang.


'Apa ...? Hamil ...?' (Batin Alex, seraya membulatkan bola matanya)


Sungguh sesuatu yang mengejutkan hatinya, bukan hanya berpacaran dengan salah satu anak buah Revan, putri dari sahabatnya tersebut kini bahkan hamil oleh pria itu? lantas apa yang akan terjadi nantinya? kalau sampai ternyata semua dugaannya benar? pria bernama Gabriel ini adalah pelaku utama penembakan? Dia pun mengusap wajahnya secara kasar, mencoba untuk bersikap tenang.


''Axela, sebaiknya kamu kembali ke ruangan kamu, ingat lho, kamu juga sedang sakit ...'' pinta Alex.


''Nggak, Om. Aku ingin di sini, aku mau menemani dia sampai dia bangun, hiks hiks hiks ...!''


''Tapi, Al. Gimana kalau sampai keadaan kamu memburuk nantinya? ingat, kata Dokter, kamu harus banyak istirahat,'' ucap Amora pelan.


''Nggak, Ra. Aku ingin di sini, kalian berdua bisa tinggalkan aku, aku ingin di sini dengan dia.''


Alex dan putrinya pun tidak bisa berbuat apapun lagi, keduanya kini berjalan keluar dari dalam ruangan.


''Dad, apa yang terjadi? kenapa pacarnya si Al bisa ada di sini? bersama Daddy pula?'' tanya Amora, sesaat setelah keduanya berada di luar.


''Ceritanya panjang, sayang. Gak mungkin Daddy jelaskan juga, kamu gak akan mengerti?''


''Aku kasian sama dia, di saat dia harus menerima kenyataan bahwa dia mengandung di usia muda, sekarang, dia pun harus merasakan rasa sakit, bahwa ternyata kekasihnya itu sedang berada di antara hidup dan mati,'' lirih Amora, merasa iba.


''Itulah Takdir, susah di tebak. O ya, sayang, Daddy keluar dulu ya, Daddy mau nelpon ayahnya Axela.''


Amora menganggukkan kepalanya.


Alex pun melipir ke lorong rumah sakit, ke tempat yang lebih sepi. Dia pun menelpon Leo, dan menanyakan keberadaan'nya, dan setelah dia tahu bahwa Leo ada di kantor'nya sekarang, Alex pun segera membuat janji, dan akan segera ke sana.


🌹🌹


Di kantor.


Trok

__ADS_1


Trok


Trok


Alex mengetuk pintu, lalu masuk kedalam ruangan, dia pun menatap Leo yang terlihat sedang sibuk dengan tumpukan kertas yang kini hampir memenuhi mejanya.


Leo pun menghentikan aktivitas yang sedang dilakukannya saat melihat kedatangan Alex sahabatnya, dia pun berdiri lalu berjalan menuju kursi.


''Silahkan duduk, Lex ...?'' pinta Leo.


''Apa kamu sibuk?''


''Lumayan, beberapa hari gak masuk kantor, membuat pekerjaan aku menumpuk, tapi it's oke, aku akan meluangkan waktu sedikit untuk berbincang dengan kamu, karena sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan, sampai kamu jauh-jauh datang kemari.''


''Betul, memang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, sesuatu yang sangat penting sekali, tap, sebelumnya aku minta maaf terlebih dahulu, karena aku baru sempat mengatakannya sekarang, dan aku gak bermaksud menutupi semua ini.''


''Lho ...! Ada apa ini? kenapa kedengarannya serius sekali?'' Leo mengerutkan keningnya.


''Leo, sebenarnya aku tahu siapa pelaku penembakan yang menimpa kamu beberapa waktu yang lalu.''


''Apa ...?'' Leo terkejut dan membulatkan bola matanya.


''Iya ...! Aku tahu, dan aku gak langsung memberi tahu'mu, aku pikir dia akan berhenti mengusik keluargamu saat aku memperingatkan dan mengancam dia.'' Alex menunduk merasa menyesal.


''Revan ...? Kamu kenal dia, kan? mantan anak buah'ku dan sahabat almarhum adikku?''


Leo mengangguk.


''Dia pelakunya. Tapi dia hanya memberi perintah kepada anak buahnya, intinya, dia dalang dari peristiwa itu.''


''Kamu serius?''


Alex menganggukkan kepalanya.


''Apa kamu terkejut?'' tanya Alex.


''Tentu saja aku terkejut, aku merasa tidak punya masalah apapun dengan dia, dan sekarang, dia mengusik ketenangan aku, itu sama aja dia telah membangunkan singa yang sedang tertidur lelap, apa dia tidak tahu aku ini siapa? kurang ajar ...'' jawab Leo dengan rahang yang mengeras seketika, merasa geram, di pun bangkit lalu berdiri dan menatap ke arah luar jendela dengan tangan yang di kepalkan.


''Ada hal lain lagi yang akan membuatmu semakin terkejut, Leo.''


Leo menoleh ke arah Alex, penasaran dengan apa yang akan dia katakan.

__ADS_1


''Kamu tahu kekasih dari putri kamu?''


''Iya, aku tahu dan kenal dia tentu saja.''


''Kamu gak tahu kan, kalau sebenarnya si Gabriel itu adalah salah satu anak buah Revan ...?''


Deg ...


Jantung Leo bagai berhenti berdetak, dia berdiri mematung dengan mulut yang sedikit menganga, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari sahabatnya, Leo pun tersenyum getir, mencoba untuk tidak percaya dengan ucapan Alex.


''Ha ... ha ... ha ...! Kamu pasti bercanda, kan Alex ...?''


''Tidak, aku tidak bercanda, apa wajahku ini terlihat seperti sedang bercanda?''


Leo menghentikan suara tawanya, lalu kembali duduk, dia mengusap wajahnya secara kasar, lalu menunduk merasakan kekecewaan yang teramat dalam.


''Brengsek, berani-beraninya dia mendekati bahkan memacari putriku, dan bahkan ... bahkan ... putriku sekarang sedang---'' Leo tidak kuasa meneruskan ucapannya, kembali mengusap wajahnya secara kasar.


''Kamu tenang dulu, Leo.''


''Tidak, aku akan mencari dan membunuh dia sekarang juga, dasar Brengsek. Tunggu, Alex. Apa mungkin si Gabriel itu juga yang menembak aku waktu itu?'' Leo membulatkan bola matanya, rahangnya semakin mengeras sekarang.


''Baru dugaan, kita bisa bertanya saat dia sudah bangun nanti.''


''Apa ...? bangun ...? Maksud kamu apa ...''


''Dia koma di Rumah Sakit.''


''Koma ...? Maksud kamu, koma, tidak sadarkan diri, antara hidup dan mati?''


''Apa perlu aku jelaskan sampai mendetail seperti itu, dasar bodoh, sepertinya semakin tua kamu semakin bodoh, otakmu itu harus di stel ulang, masa koma saja tidak tahu.?''


''Sorry, otakku benar-benar sedang tidak dapat berkerja dengan baik saat ini.''


''Dasar Leonardo, si bos Mafia yang sudah pensiun lalu menjadi pria tua yang bodoh ...'' Alex sedikit bercanda agar suasana tidak terlalu tegang.


''Akh ... entahlah, aku benar-benar pusing sekarang. O iya, kenapa kita jadi bicara ngelantur begini sih? dasar bodoh, bukan hanya aku saja yang bodoh, tapi kamu juga bodoh, orang lagi bicara serius malah bercanda begini. Sekarang coba jelaskan secara mendetail tentang semua yang kamu tahu tentang si Revan dan juga Gabriel, apa yang terjadi dengan dengan dia dari A sampai Z jangan sampai ada satupun yang terlewat.''


''Ingat ya, dari A sampai Z, aku tidak ingin lagi ada yang kamu sembunyikan dari aku, hanya karena dia mantan anak buahmu, kamu jadi melindungi dia dan menutupi kejadian yang sebenarnya, mengerti ...?''


______________--------------______________

__ADS_1


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️


__ADS_2