Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Misi Terakhir


__ADS_3

Alex menatap kepergian Revan yang perlahan keluar dari dalam Apartemen'nya, dia melayangkan tatapan penuh penyesalan karena telah menyeret pemuda itu ke dalam pusaran penuh dendam dulu.


Andai saja dia mengakhiri dendamnya lebih awal, mungkin saja dendam itu tidak akan mendarah daging di dalam jiwa pemuda bernama lengkap Revan Aditama tersebut.


''Dia siapa Dad? apa dia kawan lama Daddy juga?'' Amora tiba-tiba sudah berada di belakang ayahnya.


''Kamu...? ngagetin aja. Dia anak buah Daddy tadinya, dan Daddy sudah menganggap dia seperti adik Daddy sendiri.''


''O ya ...? aku gak suka sama dia?''


''Lho, kenapa? dia orangnya baik?''


''Daddy yakin dia orang baik? tatapan matanya membuat aku takut.''


''Ha ... ha ... ha ...! itu hanya perasaan kamu aja kali, kita masuk, istirahat, sudah malam, besok kamu sekolah, oke ...!''


''Oke, Dad ...''


***


"Kurang ajar, berani-beraninya dia menyuruh aku bertaubat, emangnya dia orang baik? apa dia lupa kalau dia sendiri yang menyuruh aku menghabisi nyawa ibunya Leo, dahulu ...'' Gerutu Revan masuk ke dalam rumahnya.


Revan Aditama, dia adalah sahabat Almarhum Jimmy, keduanya sudah bersahabat semenjak Jimmy duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, kepergian Jimmy membaut pria yang sekarang berusia 35 tahun itu, sangat kehilangan dan terpukul.


Sampai akhirnya dia memutuskan untuk terus mengikuti Alex Kaka dari sahabatnya tersebut untuk membalaskan dendam, dia bahkan menjadi anjing setia yang selalu mengikuti semua perintah dari pria yang bernama Alex.


Dan sekarang, di saat pria yang selalu dia layani dengan setia dahulu, telah memilih jalan yang berbeda dengan dirinya, dan memilih untuk memaafkan pria yang bernama Leonardo yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang telah membuat nyawa sahabat'nya melayang.


Hal tersebut sungguh membuat hati Revan merasa di khianati, padahal selama ini dia selalu dengan setia menunggu Alex untuk meneruskan Dendam yang masih belum usai.


Dia pun meraih ponsel lalu, menelpon seseorang.


Tut


Tut


Tut


📞 ''Halo, kamu dimana?''


📞''Iya, halo, bos. Aku di perjalanan ke tempat'mu, bos.''

__ADS_1


📞"Baiklah, aku tunggu kedatangan'mu sekarang juga...''


📞" Baik, bos."


Revan pun mengakhiri panggilan, lalu dia duduk dengan mengangkat kedua kakinya di atas meja, dia pun meraih satu batang rokok, menyalakan'nya lalu menghisapnya perlahan.


Tidak lama kemudian, pria yang tadi dia telpon pun datang, pria tinggi, menggunakan pakaian serba hitam, di tambah topi dengan warna yang sama, dia masuk kedalam rumah setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.


''Aku di sini, bos...!'' ucap pria tersebut, berdiri tepat di depan Revan.


''Apa kamu siap untuk menjalankan misi penting ini, aku tidak ingin kalau kau sampai gagal, Gabriel...''


''Tentu saja, bos. Aku janji tidak akan gagal, bos tahu sendiri, selama ini, aku tidak pernah gagal dalam menjalankan misi, tapi, bos. Bolehkah aku meminta imbalannya bukan berupa uang? aku menginginkan sesuatu yang lain.''


''Apa itu, katakan saja, apapun akan aku berikan.''


''Eu ... Anu ... bolehkan ini menjadi misi terakhir'ku?''


''Maksud kamu?'' Revan mengerutkan keningnya.


''Ada seorang wanita yang sedang menunggu kedatangan'ku, dan aku telah berjanji akan segera datang kepada'nya setelah menyelesaikan misi dari'mu, mengingat bahwa misi ini sangat penting bagimu, jadi aku memutuskan untuk menyelesaikan ini terlebih dahulu.''


''Hmmm...! ternyata kau juga ingin meninggalkan aku, maksudmu, kamu ingin bertaubat, dan menjalani hidup dengan benar bersama wanita yang kau cintai, begitu?''


Briel mengangguk penuh keyakinan.


''Baiklah, aku akan memikirkan'nya, tapi ingat, kamu tidak boleh gagal, kalau kamu sampai gagal, aku tidak akan pernah mengijinkan mu untuk keluar dari dunia mafia ini,'' Revan dengan penuh penekanan.


''Baik, bos. Aku janji, aku tidak akan gagal.''


''Aku percaya padamu, Gabriel. Minggu depan, aku ingin misi ini di jalankan Minggu depan, mengerti...?''


''Baik, bos. Aku mengerti, kalau tidak ada lagi yang ingin di sampaikan, aku permisi dulu sekarang. Biasanya sebelum memulai misi besar, aku suka menyepi dulu di suatu tempat, agar otak dan pikiranku tenang.''


''Baiklah, lakukan apapun yang kamu inginkan.''


Gabriel pun membungkukkan kepalanya terlebih dahulu sebelum dia mulai berbalik dan berjalan meninggalkan kediaman Revan, yang merupakan bos'nya sekarang.


***


Tiga hari kemudian.

__ADS_1


''Al, kita pulang bareng ya, sekalian aku pengen nyobain mobil baru kamu, boleh ya?'' El, masuk kedalam kelas adik kembarnya, duduk di atas meja.


''Nggak, Lo pulang sendiri saja, gue mau ke suatu tempat dulu, lagian Lo juga kan bawa mobil?'' jawab Al menolak.


''Mobil gue mah gampang, nanti biar gue ambil lagi ke sini?''


''Nggak ...! titik...'' Al tetap bersikukuh.


''Jangan bilang, Lo mau ngedatengi rumah pria brengsek itu, kan?''


''Axel ...! Apaan si? ngeselin banget...!'' Al bangkit dan berdiri, dia pun melayangkan tatapan tajam lalu keluar dari dalam kelas, membawa serta tas sekolahnya.


''Al, tunggu ...!'' Axel mengejar.


Axela tidak menghiraukan panggilan saudara kembarnya, dia terus berjalan tanpa menoleh ke arah belakang, dimana Axel masih saja berjalan mengejar dirinya.


''Axela ...'' Akhirnya El tiba di belakang saudaranya, dia menarik tangan Al, hingga gadis itu menghentikan langkahnya.


''Tunggu, gue belum selesai ngomong, Al ...?''


''Gue gak suka ya, Lo bilang Gabriel pria brengsek?'' ucap Al menatap tajam wajah Axel.


''Kenapa? bukankah kenyataannya begitu?''


''Lo gak tahu apa-apa tentang dia, jangan nilai orang sembarangan ya, gue cinta sama dia, asal lo tahu itu...?'' Al melepaskan tangan Axel dengan sedikit kasar.


''Gue gak suka Lo berhubungan dengan dia, ya. Al... masih banyak Laki-laki lain di luaran sana, yang lebih baik dari dia, dan tentunya akan menerima kamu apa adanya,'' ucap El, lirih di dengar namun terasa menusuk di hati gadis yang baru saja sembuh dari sakit'nya tersebut.


''Apa maksud Lo? katakan...? apa Lo tahu sesuatu tentang gue, yang seharusnya tidak Lo, hah...'' Al menaikan suara'nya merasa geram, sekaligus merasa malu sebenarnya,


''Al ...! Maafin gue ...! gue gak bermaksud untuk---'' El tidak meneruskan ucapannya.


''Gue benci sama Lo...'' Axela berlari, dengan mata yang sudah penuh dengan air mata.


''Al ...? Axela ...?'' Axel pun kembali mengejar.


________---------________


Promosi


__ADS_1


__ADS_2