
''Sebenarnya... Sebenarnya... aku adalah...'' Axel berucap dengan terbata-bata.
''Apa...? kenapa kamu terlihat gugup seperti itu,'' tanya Adel merasa penasaran.
''Eu... Anu...'' Axel masih tak kuasa untuk mengatakannya.
Belum juga Axel meneruskan ucapannya, Angel tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia menerobos masuk begitu saja, menghampiri mereka berdua.
''Leo, kita harus bicara,'' ucap Angel menatap tajam wajah Leonardo/Axel.
''Nanti saja, aku sedang tidak mood berbicara denganmu.''
''Tidak... aku minta kita harus bicara sekarang juga,'' Angel bersikukuh.
''Kalian bicara saja dulu, selesaikan urusan kalian sampai selesai,'' Adel berdiri lalu keluar dari dalam kamar.
Setelah kepergian Adel, Angel pun duduk di samping Leonardo, menatap wajahnya dengan tatapan tajam.
''Sampai kapan kamu akan seperti ini? sampai kapan kamu akan terus berpura-pura tidak mengenaliku?''
Leonardo hanya terdiam, dia hanya menunduk seolah menatap lantai.
''Jawan aku...'' Angel menaikan suaranya.
Leonardo mengangkat kepalanya, menoleh menatap wajah Angelina.
''Dengarkan aku, Angel. Aku bukan lagi Leonardo seperti dulu yang kamu kenal, sekarang aku sudah memiliki istri, dan aku juga mencintainya.''
''Terus aku bagaimana? lagipula kamu menikah dengan dia dalam keadaan hilang ingatan.''
''Tidak... saat aku menikah dengan dia ingatanku sudah kembali, aku tahu namaku dan identitas'ku yang sebenarnya, aku juga mengingat dimana rumah dan bahkan pekerjaan ku yang sebenarnya, namun aku sudah berniat mengubur semua itu dan memulai hidup baru bersama dia, namun tiba-tiba aja kamu datang dan mengacaukan segalanya, sampai akhirnya ibuku meninggal dan aku harus kembali ke sini,'' Leonardo menjelaskan panjang lebar.
''Jadi kemarin itu kamu hanya pura-pura tidak mengenali aku? Hah...''
Leonardo mengangguk.
''Kamu sungguh keterlaluan, kamu anggap apa aku ini? waktu yang telah kita jalani selama dua tahun, apa tidak berarti sedikitpun untukmu?'' mata Angel mulai berkaca-kaca.
'Maafkan aku, tapi hatiku sudah berubah, begitupun dengan perasaan'ku, aku minta mulai saat ini kamu mulai belajar melupakanku, dan mencari Laki-laki lain, karena sekarang aku sudah beristri,'' Leonardo menatap wajah Angel.
''Tidak... aku tidak akan semudah itu melepaskan dirimu, aku sangat mencintaimu, dan aku bukan tipe wanita yang akan menyerah begitu saja dalam menginginkan sesuatu, jika aku tak bisa memilikimu, maka wanita itu juga tidak,'' Angel mulai meneteskan air mata, dia berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Leonardo mengusap kasar wajah tampannya, dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, keadaanya akan semakin rumit karena Angel sama sekali tidak akan pernah menyerah untuk bisa kembali mendapatkan dirinya.
Dia pun berdiri lalu berjalan keluar dari kamar mendiang sang ibu. Leonardo mencari keberadaan Adelia istrinya, dia bahkan bertanya kepada bi Inah yang merupakan Asisten Rumah Tangga di kediamannya.
''Bi, lihat istriku tidak?''
''Istri...?'' bi Inah termenung sejenak.
'kapan tuan Leonardo menikah'
Batin bi Inah berucap.
''Oh... maksudnya non Angel, tadi dia keluar tuan, sepertinya dia sudah mau pulang,'' ucap bibi yang mengira jika yang sedang di cari oleh majikannya adalah Angelina, karena selama ini yang dia tahu wanita itu adalah kekasih dari majikannya.
''Bukan... bukan dia, maksud saya Adelia, wanita yang datang bersama saya, yang rambutnya pendek sebahu itu.''
''Oh... dia, tadi saya lihat dia di belakang tuan, di kolam renang,'' jawab bibi akhirnya mengerti.
Tanpa menjawab lagi Leonardo berlari ke kolam renang yang terletak di belakang rumah besarnya. Dan benar saja, Adelia sedang duduk di tepi kolam, dengan separuh kakinya di masukan ke dalam kolam.
Leonardo menghampiri dan duduk di sampingnya.
''Sedang apa? mau berenang?'' tanya Leonardo, duduk dan menatap wajah Adelia.
''Jika kamu mau berenang juga nggak apa-apa, rumah ini rumahku, dan kamu istriku, jadi semua ini juga milik mu, tidak usah sungkan,'' jawab Leonardo.
Adel tersenyum mantap air yang memenuhi kolam.
''Oh iya, tadi kamu mau bicara apa? kamu belum sempat mengatakannya?''
''Eu... tidak ko, nanti saja, sekarang mood ku lagi tidak baik.''
''Gara-gara pacar kamu itu?'' Adel menoleh, menatap wajah suaminya.
''Apa...? tidak ko, aku sudah memutuskan hubunganku dengan dia, satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku hanya kamu, istri kau tercinta,'' jawab Leonardo merangkul pundak sang istri.
''Akh...gombal.''
''Serius Adelia...''
''Memangnya kamu sudah bisa mengingat dia? apakah ingatanmu sudah benar-benar kembali?''
__ADS_1
Leonardo mengangguk.
''Benarkah...?'' Adel tersenyum merasa senang.
''Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri menjadi istri dari Leonardo, seorang pengusaha kaya raya bergelimang harta, kamu sudah tidak usah lagi cape-cape berjualan gorengan, karena aku mempunyai banyak uang yang tak terhitung jumlahnya,'' Leonardo menjelaskan dengan penuh percaya diri.
''Diih... dasar, sombong sama rasa percaya dirimu itu memang sifat Aslimu ya? ingat... harta tidak akan di bawa mati, dia akan di tinggalkan di dunia saat kita masuk ke dalam tanah.''
''Iya... iya... ibu Adelia Pasha,'' Leonardo mendekap pundak sang istri lalu mengecup kepalanya.
''Oh iya, cepat bangun, kita harus pergi ke suatu tempat,'' Leonardo menarik lengan istrinya.
''Mau kemana?''
''Sudah ikut saja.''
Setengah jam kemudian Adelia sudah siap, dia memakai baju yang paling bagus dan jarang dia kenakan, setelan jeans berwana biru yang terlihat kampungan di matanya.
Leonardo menatap istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki, dia hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata apapun.
''Tas ini jangan di bawa, sudah jelek,'' ucap Leonardo meraih tas milik Adel lalu meletakkannya begitu saja.
''Tapi...'' Adel hendak meraih tas miliknya, namun sang suami segera meraih lengannya untuk segera mengikuti dirinya.
Leonardo membawa Adel ke garasi mobil, di mana di sana sudah berjajar beberapa mobil mewah kepunyaan dirinya, bahkan terdapat pula mobil keluaran terbaru yang harganya selangit, membuat Adel membelalakan matanya seketika merasa terkejut.
''Ini semua milikmu?'' tanya Adel menatap dan menghitung satu persatu mobil yang berada di dalam sana.
Setelah di hitung menggunakan satu jarinya, mobil yang berjejer ada sekitar 6 buah mobil.
''Ini semua milikmu sekarang, apa yang aku punya maka menjadi milikmu juga.''
''Waah... apa sekarang aku menjadi Cinderella yang menikahi pangeran tampan yang kaya raya,'' ucap Adel mengelus lembut mobil sport berwarna merah.
''Yap... kamu tidak salah, aku memang pangeran berwajah tampan, kaya raya pula, kamu sungguh beruntung bisa menikah dengan aku,'' Leonardo merentang kedua tangannya dengan wajah sedikit di angkat berbicara dengan penuh rasa percaya diri.
''Dih... dasar, sifat percaya dirimu itu tidak berkurang sedikit pun,'' Adel melepaskan tangannya, berdiri tegak lalu menatap wajah sang suami dengan sedikit tersenyum.
''Bolehkan kita pergi mengendari mobil yang ini? aku sangat suka warna merah,'' Adelia bertanya sambil menunjuk mobil yang tadi dia usap menggunakan tangannya.
''Tentu saja, bidadari ku tersayang.''
__ADS_1
____________----------___________