
Adelia terkejut seketika saat melihat jari Ayu bergerak, meski gerakannya lemah, namun, hal itu cukup untuk membuat Adel senang dan segera memanggil putranya.
''Dek, lihat tangan Ayu bergerak ...'' teriak Adel, sontak membuat Lucky segera menghampiri.
Perlahan mata Ayu pun mulai terbuka, sedikit demi sedikit, lemah dan tidak bertenaga. Pandangan gadis itu pun terlihat buram, bahkan hampir memudar saat pertama kali dia membuka matanya secara sempurna, sampai akhirnya, dia menangkap sosok laki-laki tampan yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
Ayu pun kembali mengedipkan pelupuk matanya, kali ini dengan lebih bertenaga, berharap bahwa jika dia melakukan hal itu Ayu bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas.
''Ayu, sayang ... Syukurlah kamu sudah bangun, aku senang banget ...'' lirih Lucky dengan mata yang berkaca-kaca, menahan rasa haru.
''Lu-cky ...'' lirih Ayu lemah.
''Iya, sayang. Aku di sini.''
Ayu hanya menyunggingkan senyuman, sepertinya bibirnya masih terasa berat untuk digerakkan. Hanya nama Lucky saja yang bisa dia ucapkan, karena Ayu memang memendam kerinduan yang teramat dalam kepada kekasihnya itu.
''Dek, Mommy panggilkan Dokter, ya ...''
Lucky mengangguk seraya tersenyum.
Tidak lama kemudian, Adelia sang ibu kembali bersama Dokter dan dua perawat, Lucky pun segera melangkah mundur dan memberi ruang kepada Dokter tersebut agar bisa memeriksa keadaan kekasihnya yang baru saja siuman.
''Bagaimana keadaan Ayu, Dok ...?'' tanya Lucky.
''Syukurlah, keadaan pasien sudah mulai stabil, besok, apabila keadaan dia semakin membaik, maka seluruh alat bantu yang terpasang ditubuhnya akan dilepaskan,'' jawab Dokter tersenyum senang.
''Syukurlah, Dok. Kami senang sekali mendengarnya,'' ucap Lucky bernafas lega.
''Baiklah kalau begitu saya pamit dulu.''
Dokter pun berjalan keluar dari dalam ruangan.
Kini Ayu terlihat menatap sekeliling kamar dengan tatapan sayu, kelopak matanya pun mengedip lemah, sekujur tubuhnya masih belum bisa digerakkan, bahkan mulutnya pun sulit bicara hanya untuk mengatakan satu katapun.
__ADS_1
Lucky, sang ibu, dan juga Axela nampak berdiri di samping ranjang, menatap wajah Ayu yang menatap langit-langit kamar, melayangkan tatapan kosong.
''Ayu, sayang. Gimana perasaan kamu?'' tanya Lucky menatap dengan tatapan sayu.
Ayu hanya melirik Lucky, mulutnya terlihat ingin mengatakan sesuatu.
''Gak apa-apa, sayang. Kalau kamu memang masih merasa lemas, kamu gak perlu menjawab pertanyaan aku. Melihat kamu bangun saja sudah cukup membuat hati aku senang.''
Ayu mengedipkan mata tanda kalau dia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kekasih itu.
''Sayang, sebaiknya kamu telpon ayahnya Ayu, dia pasti senang mendengar putrinya telah siuman,'' ucap Adelia.
''O iya, Mom. Aku akan menelpon dia sekarang,'' jawab Lucky segera meraih ponsel, dan berjalan keluar dari dalam kamar untuk menelpon Revan.
Sepuluh menit kemudian, dia pun kembali lalu berdiri di samping ranjang, dia pun meraih jemari Ayu dan mengusap punggung tangannya lembut.
''I Love You, Sayang ..." lirih Lucky, mengecup punggung tangan kekasihnya.
Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya Revan pun datang bersama istrinya. Wajahnya nampak bahagia, dia masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping ranjang, Lucky pun nampak berdiri menjauh, memberi ruang kepada Revan untuk bisa meluapkan kerinduan.
Ayu menatap dengan tatapan penuh tanda tanya, sekuat tenaga dia pun mencoba untuk berbicara.
''Si-sia-pa ka-li-an ...'' lirih Ayu masih dengan suara yang terdengar lemas.
Sontak Revan dan istrinya terkejut seketika, hatinya kini dipenuhi tanda tanya. Mengapa putrinya tersebut sama sekali tidak mengenali dia, bahkan ibunya sendiri?
''Sayang ...? kamu kenapa? ini Ayah sayang, dan ini ibumu,'' jawab Revan, dengan buliran air mata yang mulai membasahi pipinya kini.
Ayu kembali menatap wajah sang ayah, tatapannya terlihat bingung, masih seperti tidak mengenali wajah Ayahnya. Revan yang merasa panik begitupun sang istri yang kini tengah menangis menatap wajah putrinya, segera meminta Lucky untuk memanggilkan Dokter, agar sang Dokter bisa memeriksa keadaan putrinya tersebut.
Lucky pun segera berlari keluar untuk memanggil Dokter yang tadi sempat memeriksa kekasihnya tersebut. Tidak lama kemudian, Dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Ayu.
''Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?'' tanya Revan dengan tatapan cemas.
__ADS_1
''Sepertinya putri Bapak mengalami Amnesia sementara,'' jawab Dokter.
''Tapi dia mengenali saya, Dokter. Dia bahkan menyebut nama saya.'' Ucap Lucky merasa aneh, jika Ayu Amnesia kenapa hanya kedua orangtuanya saja yang dia lupakan?
''Jika seperti itu, kami akan memeriksa pasien lebih lanjut, saya harap kalian sedikit bersabar dan jangan terlalu memaksa pasien untuk mengingat sesuatu yang memang tidak dia ingat.''
''Baik, Dokter. Tolong lakukan yang terbaik untuk putri kami,'' ucap Ibunda Ayu dengan wajah yang masih berlinang air mata.
''Kami akan membawa pasien keruangan pemerikasaan,'' jawab Dokter keluar dari dalam kamar tersebut.
''Ayu, sayang. Ini Mamah, apa kamu sama sekali tidak ingat sama Mamah, heuh ...'' tanya sang ibu.
Ayu hanya terdiam.
''Maafkan Mamah, Ayu sayang. Mamah benar-benar menyesal telah meninggalkan kamu sendirian, hiks hiks hiks ...'' lirih sang ibu menangis sesenggukan.
''Ayah juga minta maaf, sayang. Ayah berjanji akan menebus semua kesalahan yang telah ayah perbuat, ayah benar-benar minta maaf.''
Kedua orang ayu benar-benar menyesali perbuatan mereka, mereka menangis sesenggukan menatap wajah Ayu yang saat ini masih saja terlihat kebingungan.
Tidak lama kemudian, Dokter pun kembali ke dalam kamar dengan empat orang perawat, dan hendak membawa Ayu ke ruangan lain, untuk di periksa lebih lanjut.
''Kami meminta izin membawa pasien untuk di periksa, kami akan mencari penyebab utama kenapa pasien bisa mengalami Amnesia seperti ini,'' izin Dokter yang langsung di jawab dengan anggukan oleh kedua orang tua Ayu.
🍀🍀
Sudah hampir satu jam Ayu berada di dalam sana, Lucky yang menunggu di luar ruangan nampak berdiri dengan perasaan cemas, begitupun dengan Revan dan istrinya. Sementara Adelia dan Axela sudah pulang lebih dulu.
Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari dalam ruangan tersebut, Revan segera berdiri dan menghampiri dengan perasaan cemas.
''Bagaimana, Dokter? apakah putri saya baik-baik saja?'' tanya Revan berdiri di tepat di depan Dokter.
''Kami tidak menemukan masalah apapun di dalam otak pasien. Sepertinya dia telah mengalami kejadian yang sangat menyakitkan, membuat otak kecilnya tidak ingin mengingat hal itu, alhasil dia pun tidak mengingat orang-orang yang telah menyakiti atau telah membuat dirinya benar-benar terpukul.''
__ADS_1
''Maaf, bukan maksud saya untuk menuduh Bapak sama ibu telah melakukan hal seperti itu kepada pasien, tapi kebayangkan pasien yang mengalami Amnesia seperti ini, karena pikiran di alam bawah sadar pasien tidak ingin mengingat dan bahkan ingin melupakan kejadian bahkan orang-orang yang telah membuat hatinya terluka berat.'' Jawab Dokter, membuat Revan dan istrinya terkejut.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀