
Sementara itu, Axel melakukan rutinitas seperti biasanya, menjemput Amora sebelum dia berangkat ke sekolah, hal itu sudah lebih dari satu Minggu dia lakukan semenjak motor milik gadis blasteran Amerika itu hilang tanpa jejak.
Pagi ini, dia pun nampak sedang melakukan hal yang sama, duduk di depan kap mobil miliknya, dan berada di halaman Apartemen milik Amora.
Dengan seragam putih abu di tambah switer berwarna hitam, kaca mata tembus pandang berwana coklat, serta rambut yang di tata sangat rapi, membuat remaja kelas 11 itu terlihat begitu tampan sempurna.
Kali ini, dia tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu Amora, karena sebelumnya dia telah menghubungi gadis itu terlebih dahulu.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit saja untuk Axel menunggu Amora, karena tidak lama kemudian gadis itu segera datang, berjalan menghampiri dari arah pintu masuk Apartemen, berjalan dengan tersenyum begitu lebarnya, dengan rambut panjang tersapu angin, membuat Axel terpana sekaligus terpesona melihat kecantikan Amora, seolah sempura tanpa cela.
''Maaf, ya. Harus nunggu lama...''
''Nggak ko, aku baru saja sampai.''
''Ya udah, kita berangkat sekarang?''
Axel menganggukan kepalanya lalu turun dari kap mobil, dia berjalan ke arah pintu samping dan membukakan pintu mobil untuk Amora.
Ceklek
Amora pun segera masuk ke dalam mobil, masih dengan bibir yang mengembang, tersenyum.
''Terima kasih...'' ucap Amora, kemudian menutup pintu mobil.
Setelah itu, dengan setengah berlari El pun segera masuk ke dalam mobil miliknya, lalu duduk di kursi kemudi dan siap untuk menyetir.
Tidak lama kemudian, mobil'pun berjalan pelan di halaman Apartemen, hingga akhirnya melaju di jalanan.
''Apa Axela sudah ketemu, xel?'' Tanya Amora.
''Semalam dia nelpon, katanya si dia lagi ada di luar kota, nginep di rumah temannya, siangan juga pulang.''
''Oh, syukurlah. Aku sempat cemas banget, kemarin dia tiba-tiba ngilang gitu aja, padahal mobil dia tepat di belakang kita,'' jawab Amora merasa lega.
''Tapi tetap aja, gue cemas, karena seperti'nya ada yang aneh dengan tingkah Axela, tiba-tiba menginap di rumah teman, sesuatu yang nggak pernah dia lakukan,'' jawab Al dengan wajah datar.
''O ya? dia gak pernah melakukan ini sebelumnya?''
El mengangguk.
''Wah, kalau begitu, ini mesti di selidiki, gimana kalau nanti di sekolah, kita tanya-tanya sama kawan dekatnya dia, siapa tau ada yang tahu dimana keberadaan Al, jujur aja gue juga cemas.''
Pandangan Amora lurus ke depan, manatap jalanan yang padat pengendara yang akan berangkat bekerja atau pun berangkat ke sekolah sama seperti dirinya.
Namun, tiba-tiba saja, pandangan Amora tertuju pada sebuah mobil yang di parkir di pinggir jalan, mobil itu seperti mobil yang dia kenal, berwana merah, persisi seperti kepunyaan Axela, orang yang sedang mereka bicarakan.
Dia pun memutar kepala, seiring dengan mobil yang di tumpangi'nya melaju kencang, menatap mobil itu, ingin memastikan, namun tidak bisa, karena mobil yang kendarai Axel melaju dengan kencang.
'Mobil itu?' (Gumam Amora pelan).
__ADS_1
''Ada apa?'' tanya El yang merasa heran melihat tingkah Amora, yang terus melihat ke arah belakang.
''Oh, nggak ko... nggak apa-apa.''
'Kaya mobilnya si Al, akh... tapi tidak mungkin, mobil seperti itu ada banyak yang punya di kota ini' (batin Amora, mencoba menepis pikirannya)
Sebenarnya, mobil yang dilihat Amora memanglah mobil Axela yang memang di parkir di sana sejak kemarin, tidak berpindah tempat sedikit pun, selalu di sana semenjak gadis itu bertarung dengan para preman.
Di perjalanan, Amora terlihat melamun, memikirkan mobil merah yang tadi dia lihat, hatinya merasa yakin bahwa mobil itu persis dengan mobil kepunyaan temannya tersebut, sayangnya dia tidak melihat plat nomor kendaraan mobil tersebut, yang pastinya hanya itu yang dapat memastikan mobil siapa itu sebenarnya.
'Aku akan kembali lagi ke sana nanti, untuk memastikan' (batinnya kembali berujar)
Akhirnya, mereka pun sampai di sekolah, tepat sebelum bel tanda pelajaran di mulai berbunyi, Amora dan Axel segera keluar dari dalam mobil setelah memarkir mobil di halaman sekolah, berlari menuju ruangan kelas dimana mereka akan memulai belajar.
***
Jam istirahat.
''Gimana, Lo udah nanya sama teman-teman'nya Al?" tanya Amora.
''Udah, semua teman sekelasnya tidak ada yang tahu dia dimana.''
''Serius? atau salah satu temannya ada yang tidak masuk sekolah, mungkin?''
El menggelengkan kepalanya.
''Sebenarnya apa?''
''Sebenarnya tadi gue lihat mobil Al di pinggir jalan, tapi gue nggak yakin itu mobilnya dia, gue gak sempat lihat plat nomor mobilnya.''
''Serius...?''
Amora menganggukan kepalanya.
''Kenapa gak bilang dari tadi, Ra...?''
''Maaf, gue hanya---''
Belum sempat Amora menyelesaikan ucapan'nya, Axel segera meraih tas sekolah'nya lalu berlari keluar dari kelas.
''Axel, mau kemana?''
Amora melakukan hal yang sama, meraih tas lalu berlari tepat di belakang Axel.
''El, tunggu...''
''Cepat anterin gue ke sana?'' El masih dalam keadaan berlari.
''Iya... tapi tunggu gue...''
__ADS_1
Keduanya pun berlari menuju halaman sekolah dimana mobil El di parkir di sana, segera masuk ke dalamnya dengan tergesa-gesa.
Axel, hatinya diliputi rasa cemas yang berlebihan, mengingat bahwa kembarannya tersebut pasti sudah berbohong, apabila benar mobil yang dilihat Amora adalah mobil adiknya tersebut.
''Lo tunjukkan dimana mobil itu, ya...'' El menyalakan mobil.
''Iya, tempat yang tadi kita lewati, mudah-mudahan mobil itu masih ada di sana,'' jawab Amora.
Mobil'pun segera keluar dari halaman sekolah, melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan. Sepanjang jalan pun, El hanya terdiam, menatap ke sekitar jalan berharap menemukan kembarannya.
''Nah, di sana...!''
Amora menunjuk mobil yang masih terparkir di tempat yang sama. El, dia segera berjalan mendekat lalu berhenti tepat di belakang mobil sport berwarna merah milik Axela, dia segera keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa.
''Benar, ini mobil dia? kenapa ada di sini? kemana Axela...?'' El mengintip dari balik jendela mobil yang tertutup rapat.
''Benar, kan? gimana kalau kita cari di daerah sini, kamu telpon dia dulu, ya...?'' pinta Amora, seraya berjalan beriringan.
Tut
Tut
Tut
''Gak di angkat...! Al, Lo dimana sebenarnya?'' Al semakin merasa cemas.
''Ya udah, kita cari saja dia.''
Keduanya memasuki gang sempit dimana kemarin Axela dan Gabriel berkelahi. Berjalan menyusuri gang, dengan mata yang melihat kesekeliling.
Setelah keluar dari dalam gang itu, mereka pun sampai di sebuah halaman luas dengan kontrakan berjejer di depannya, menatap satu persatu kontrakan kecil tersebut.
Tanpa di sangka, Axela pun keluar dari salah satu kamar kontrakan, mengenakan kaos oblong berwarna putih yang terlihat kebesaran panjangnya sampai ke atas lutut, menutupi rok seragam abu, yang sedari kemarin dia pakai.
Merasa terkejut sekaligus lega, El pun memanggil kembarannya tersebut dengan berlari menghampiri.
''Axela...?''
El berteriak seraya berlari.
''Axel...?''
Al pun terkejut seketika, dengan wajah yang terlihat pucat pasti.
''Siapa Al?''
Gabriel keluar dari dalam kontrakan, membuat Axel menghentikan langkahnya, lalu menatap Gabriel dengan wajah yang terlihat kesal serta tangan yang di kepalkan.
___________-----------__________
__ADS_1