
''Apa yang kamu laukakun?'' tanya Al saat bibir kenyal Gabriel lembut menyentuh punggung putih'nya, membuat bulu kuduknya berdiri seketika.
''Maaf, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku sudah mencobanya dari kemarin, tapi gejolak ini tidak bisa lagi aku kendalikan,'' jawab Briel.
''Tapi, kita baru saja kenal, aku pikir kamu orang baik, mengapa kamu tega melakukan ini?'' Axela memejamkan mata.
''Aku berjanji akan menikahi'mu, kamu bisa menolaknya jika tidak mau.''
Entah iblis apa yang merasuki jiwa gadis remaja yang bernama Axela tersebut, hingga dia menerima begitu saja setiap sentuhan lembut pria yang baru saja di kenalnya itu.
Akh...! sungguh Axela bagai berada di atas awan, merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan, perasaannya bagai berada di awang-awang, terbang tinggi dengan ***** yang kini memenuhi jiwanya.
Al, pun meringis merasakan rasa sakit yang tidak terkira, dibarengi dengan air mata yang mulai mengembang di pelupuk matanya.
Akh... Akhirnya sesuatu yang selama ini dia banggakan dan dia jaga dengan segenap jiwa raga, hilang tak bersisa, direnggut oleh pria yang baru sehari di kenalnya.
''Sakit...'' lirih Al, dengan buliran air mata perlahan mulai berjatuhan.
__ADS_1
Dia mengeratkan lingkaran tangannya di punggung pria yang saat ini berada tepat di atas raga polosnya, dia bahkan mencakar punggung pria tersebut saat ***** miliknya mulai berjalan maju mundur, setelah benteng penghalangnya hilang tidak berbekas.
''Maaf, aku akan melakukan dengan lebih hati-hati,'' jawab Briel sedikit terengah-engah.
Hingga akhirnya keduanya mengeluarkan suara ******* panjang saat ke******* itu berhasil di capai secara bersamaan, di iringi larva pijar kental yang menyembur bagai bisa ular.
Briel terkulai lemas, si samping tubuh Al, di menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan, mencoba membenahi perasaan'nya serta mengatur setiap helaan nafasnya yang sempat berhembus tidak beraturan.
Sementara Axela, gadis 17 tahun yang baru saja kehilangan ********* meringkuk membelakangi Gabriel, dengan raga yang masih polos, bahkan tidak di tutup satu kain apapun, seraya terisak, menggigit ujung kuku jari telunjuknya.
Gabriel yang mendengar suara isak tangis Axela, pelan namun terdengar pilu di dengar, segera merapatkan tubuhnya dan meringkuk tepat di belakang raga Axela, dia pun menutup raga keduanya dengan selimut tebal yang di dilipat di ujung tempat tidur.
''Aku minta maaf, aku berjanji akan bertanggung jawab, besok aku akan mengantarkan'mu pulang, dan memperkenalkan diri sebagai kekasih'mu, kalau kamu ingin aku langsung melamar'mu, aku akan melakukannya, sebagai seorang pria dewasa, sudah menjadi kewajiban aku untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah aku lakukan.''
Briel mencoba menghibur dengan mengobral janji, sebenarnya dia sendiri tidak tahu apakah dia bisa menepati janji tersebut, dia tidak yakin apakah gadis cantik beserta keluarganya ini, akan bisa menerima dirinya apabila dia tahu bahwa dirinya sebenarnya adalah seorang anggota Mafia.
''Mana mungkin aku bisa percaya dengan ucapan mu, aku baru sehari mengenal dirimu, dan kita sudah berani melakukan ini, hiks hiks hiks...''
__ADS_1
''Axela, dengarkan aku, sebagai buktinya, aku akan menghadap kedua orang tuamu, dan mengatakan tentang keseriusan aku, kamu tidak usah khawatir dan bersedih lagi, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, dan akan menikahi'mu, meski membutuhkan waktu lama, dan kita terpisah pada akhirnya, tapi aku yakin takdir akan mempertemukan kita kembali, dan saat itu terjadi aku akan benar-benar menikahi'mu.''
''Janji...?'' Lirih Al, menatap dengan tatapan penuh rasa harap, dan genangan air mata memenuhi kelopak matanya.
''Iya, aku janji, hidupku jadi taruhannya,'' Briel meyakinkan.
Perasaan Axela pun berangsur tenang, dia memutar badan, hingga kini berada saling berhadapan berada di dalam selimut yang sama dengan Gabriel.
Briel, mengecup kening Al dengan mata yang di pejamkan, hingga keduanya pun merapatkan selimut, dan mulai terlelap karena kelelahan.
Di saat manusia lain mulai terbangun dan mulai beraktivitas di pagi hari yang cerah itu, lain halnya dengan sepasang insan yang kini baru akan mulai terlelap, memejamkan mata dengan tangan yang saling berpelukan, keduanya merasa kelelahan setelah melakukan pendakian panjang yang membawa mereka ke puncak *******.
Sungguh gadis polos bernama Axela benar-benar telah termakan rayuan gombal seorang pria yang bernama Gabriel, meski menyesali perbuatan yang baru saja dilakukannya, Al pun hanya bisa pasrah sekarang, berharap bahwa laki-laki yang saat ini mendekap erat raganya, tidak akan pernah meninggalkan dirinya, dan bersedia bertanggung jawab dan menepati janji-janji yang tadi diobral'kan kepada dirinya.
''Aku berjanji akan menikahi'mu Axela,'' Briel kembali berucap pelan, dengan mata yang di pejamkan seraya memeluk erat tubuh gadis cantik bernama Axela itu di dalam dekapannya.
____________-----------____________
__ADS_1