
Gabriel kian buas me*umat dan bahkan menyesap bibir manis sang istri, diiringi deruan napas yang kian terasa hangat di telinga Al, membuat ga*rah yang sempat ditahan perlahan naik kepermukaan.
Sebagai sepasang pengantin baru, tentu saja keduanya sedang merasakan manisnya biduk rumah tangga yang baru saja akan mereka mulai, apalagi keduanya sempat menjauh sebelum mereka benar-benar diikat oleh tali pernikahan.
Axela semakin mempererat lingkaran tangannya di leher sang suami, dengan memejamkan mata dia semakin menikmati setiap lu*atan dan sesapan suaminya yang benar-benar semakin membuat dirinya terbuai, hingga tanpa sadar suara de*ahan pun terdengar lirih dari sela-sela bibirnya, membuat Briel semakin berga*rah saat mendengar-nya.
Al pun semakin merasakan sesuatu yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya membuat darahnya serasa mendidih, saat tangan suaminya itu mulai aktif meraba setiap jengkal raganya hingga tibalah di gunungan kembar miliknya lalu meremasnya pelan.
Al pun semakin memejamkan mata, sentuhan hangat itu benar-benar membuatnya terasa ingin memburu sesuatu yang lain, yang akan membawanya melayang ke udara.
Perlahan Briel mulai membuka kancing atas pakaian yang dikenakannya oleh istrinya, namun, baru saja dia akan melakukan hal itu tiba-tiba saja.
Ceklek
Axel membuka pintu dan berdiri di depan pintu dengan mata yang dibulatkan sempurna, serta wajah yang memerah, membuat sepasang pengantin baru itu menghentikan aktivitas yang sedang mereka lakukan, bangkit dengan terburu-buru, membuat Axel menutup pintu seketika itu juga.
''Maaf mengganggu ...!'' teriak El, membuat Axela kesal, lalu melempar bantal ke arah pintu.
''AXEL ...?'' Al berteriak kesal memanggil kembarannya.
''SILAHKAN TERUSKAN, TAPI JANGAN LUPA PINTUNYA DI KUNCI DULU ...!'' terdengar suara El dengan sedikit terkekeh, lalu berlari menjauh.
''Dasar, ganggu aja si, sengaja emang tuh orang ...!'' Gerutu Al masih dengan wajah yang terlihat memerah.
Dia pun merapikan pakaian yang dia kenakan, lalu menggerutu kesal.
''Kita teruskan nanti malam aja, sekarang kamu istirahat, mood ku udah hilang ...'' ucap Al bangkit dan berdiri lalu keluar dari dalam kamar.
🌹🌹
__ADS_1
Keesokan harinya.
Ayu, siswi yang telah memendam perasaan kepada Lucky selama lebih dari dua tahun lamanya, bertekad untuk mendekati pria itu tidak peduli jika nantinya akan di tolak oleh pria tersebut.
Perasaan yang selama ini dia sembunyikan akan dia ungkapkan tidak peduli meskipun akan menanggung rasa malu, karena sebagai seorang wanita dirinya akan di anggap tidak pantas karena mengutarakan perasaannya terlebih dahulu, namun, dia sama sekali tidak peduli, dia akan berusaha untuk membuat pria yang bernama Lucky itu menerima cintanya.
Sore ini, di saat semua siswa sudah pulang dari sekolah, dan keadaan sekolah pun sudah mulai sepi, Ayu berniat akan mengutarakan perasaannya, dia berjalan menghampiri Lucky yang masih berada di perpustakaan yang juga sudah sepi tanpa ada siswa seorangpun.
Lucky duduk dengan membaca buku, lengkap dengan catatan yang dia simpan dia atas meja, matanya nampak fokus menatap buku tebal yang saat ini berada tepat didepan wajahnya, sampai akhirnya konsentrasinya buyar, dan matanya teralihkan saat Ayu duduk di atas meja dengan kaki yang disilangkan, hingga kaki panjangnya terekspos sempurna, putih mulus seolah tanpa cela.
''Sedang apa kamu di sini? apa kamu tahu kalau meja bukan tempat untuk duduk? kalau mau duduk, duduk di kursi,'' ucap Lucky kesal, lalu menggeser posisi duduknya sedikit menjauh.
''Ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu, Luck ...'' lirih Ayu, menatap wajah tampan Lucky.
''Aku gak ada waktu, apa kamu gak lihat aku sedang belajar, hah ...'' jawab Lucky sedikit kesal.
''Ya sudah, belajarnya nanti lagi, toh kamu sudah pintar, gak perlu belajar lagi,'' Ayu menutup buku yang sedang di baca oleh Lucky dengan sedikit kasar.
''Ya sudah, cepat katakan, sebelum aku berubah pikiran.''
''Aku suka sama kamu, dari dulu, sejak pertama kali masuk sekolah ini, aku harap kamu bisa menerima cinta aku, Lucky ...'' lirih Ayu tanpa merasa malu sedikitpun.
Lucky tidak terkejut lagi, karena memang sepertinya dia sudah tahu hal itu sejak lama, lagipula Ayu bukan wanita pertama yang mengatakan cinta kepadanya, tapi bagi seorang Lucky, rasa cintanya hanya untuk Emillia, wali kelas sekaligus kekasih'nya sekarang.
''Kenapa kamu diam saja?'' tanya Ayu karena tidak menerima jawaban apapun.
''Maaf, aku udah pacar ...'' jawab Lucky, berdiri lalu hendak pergi.
Tapi, tiba-tiba saja Ayu memeluk tubuh Lucky dari arah belakang, melingkarkan tangannya di pinggangnya mendekapnya erat dan menyandarkan kepalanya di punggung lebar Lucky, hingga sepasang gunungan kembar miliknya menempel sempurna di punggung siswa tampan itu, membuat Lucky tidak nyaman sebenarnya.
__ADS_1
''Apa yang kamu lakukan, Ayu? Lepaskan aku sekarang juga,'' pinta Lucky dengan suara lantang.
Lucky pun melepaskan lingkaran tangan Ayu dengan kasar, hingga tubuh ayu pun terbanting ke atas lantai, membuat siswi cantik itu terkejut seketika, lalu kembali bangkit dan berdiri tepat di depan Lucky.
''Kamu jahat, Lucky. Kamu gak perlu melempar aku seperti itu, cukup bicara baik-baik, aku pasti mengerti,'' lirih Ayu dengan sedikit terisak, merasakan sakit hati.
''Apa jika aku mengatakannya baik-baik, kamu akan mengerti dan berhenti mengejar aku?'' ucap Lucky dengan wajah datar.
''Gak, aku gak akan pernah berhenti mengejar kamu, karena aku mencintai kamu, sudah sejak lama, dan perasaan ini sangat menyiksa, apa kamu tahu itu ...?'' lirih Ayu semakin terisak, hingga buliran air mata kian deras membasahi pipinya.
''Maaf, Ayu. Tapi aku gak bisa menerima perasaan kamu, aku sudah bilang tadi, aku sudah punya pacar, dan kami saling mencintai, sementara sama kamu, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun,'' jawab Lucky dengan penuh penekanan.
''Apakah wanita itu adalah wali kelas kita, ibu Emillia ...?''
Lucky hanya terdiam.
''Jadi benar? diam-mu seolah membenarkan apa yang aku katakan.''
''Cukup, aku sibuk, aku harus belajar karena sebentar lagi kita akan ujian akhir sekolah,'' Lucky meraih buku miliknya lalu hendak berjalan.
''Apa kamu tidak malu berpacaran dengan tante-tante ...?'' lirih Ayu, membuat Lucky menghendaki langkanya.
''Dua bukan Tante-tante, tapi dia wanita spesial yang mampu menggetarkan hatiku, asal kamu tahu itu,'' jawab Lucky menatap tajam wajah Ayu, yang saat ini terlihat basah dengan air mata.
Ayu membalas tatapan tajam seorang Lucky, dengan sedikit terisak dia pun kembali memeluk tubuh siswa tampan itu, mendekapnya erat dengan bibir yang sengaja menyentuh bibir seorang Lucky, membuat keduanya terlihat seperti sedang berciuman mesra, hingga akhirnya pintu perpustakaan pun di buka sempurna dan Emillia berdiri di depan pintu menyaksikan itu semua.
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1
______________----------______________