Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Cincin


__ADS_3

''Apa ...? Melamar? Kata siapa kamu boleh melamar Axela ...? Eu ... Maksud aku, dia masih muda, masih sekolah juga, apa gak terlalu dini buat ngelamar dia?'' El berucap dengan nada yang terbata-bata.


''Cuma ngelamar doang, El. Bukan berarti nikah sekarang-sekarang, lagian aku juga tau dia masih sekolah, aku ngelamar dia, cuma mau nunjukin keseriusan aku, kalau aku sungguh-sungguh dalam menjalani hubungan ini.''


''Tapi tetap saja ...! Apa dia tau kamu mau melamar dia?''


Gabriel menggelengkan kepalanya.


''Aku mau buat kejutan spesial buat dia. El ...! aku tau kamu masih belum percaya sepenuhnya sama aku, aku juga tau kalau kamu pun nggak suka dengan hubungan aku dengan kembaran'mu, tapi, aku akan membuktikan kepadamu mulai sekarang, kalau aku layak untuk menjadi kekasih Al, dan aku juga akan membuktikan kepada kamu dan keluarga'mu bahwa aku juga bisa sukses dan banyak uang seperti kalian.''


Axel pun tersenyum mengejek.


''Ha ... ha ... ha ...! Aku tunggu pembuktian'mu Gabriel, tapi ingat, aku gak akan percaya begitu saja dengan apa yang kamu katakan, bagiku kamu tetap cowok brengsek yang merusak masa depan Axela.''


El berbalik dan berjalan meninggalkan Gabriel yang berdiri mematung, sedangkan Amora, dia mengikuti Axel, namun, sebelumnya dia menatap wajah Gabriel dengan tatapan heran, merasa tidak mengerti dengan apa yang baru saja mereka bicarakan.


'Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya sama aku, El ...' ( Batin Briel )


''El ...! tunggu aku?'' terdengar suara Amora memanggil seraya berlari mengejar Axel.


Axel pun memperlambat langkah kakinya, menunggu Amora hingga mereka akhirnya berjalan beriringan.

__ADS_1


''Ada apa dengan kalian? mengapa sepertinya kamu gak terlalu suka dengan pacarnya si Al?''


''Nanti aku ceritain, sekarang kita cari makan dulu, aku lapar banget nih.''


Al meraih tangan sang kekasih lalu menggenggam jemarinya, mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan.


Akhirnya, keduanya pun memilih makan di Restoran Italia, dan spaghetti pun jadi menu mereka makan siang, keduanya duduk secara berhadapan menunggu makanan yang di pesannya datang.


''Pacarnya si Al so sweet banget ya, pasti seneng deh dapat kejutan spesial kayak gitu?'' Amora meletakan kepalan tangan di bawah dagu runcingnya.


''Kenapa? kamu pengen juga di lamar kaya gitu?''


''Hmm ...! emangnya kamu mau kita berdua bertunangan?''


''Itu artinya kamu gak sungguh-sungguh menjalani hubungan kita ini?'' Amora mengerucutkan bibirnya.


''Bukan begitu maksud aku, Ra ...?''


''Masih mending pacarnya si Al, baru pacaran udah di lamar segala.''


''Jangan bandingin aku sama dia ya, aku gak suka ...''

__ADS_1


''Ko jadi kamu yang marah? seharusnya aku yang marah dong?'' Amora terlihat kesal.


''Ya, aku gak suka aja kamu bandingin aku dengan dia, dilihat dari sudut pandang manapun, sudah pasti aku lebih baik dari si Gabriel itu. Aku, Axel, putra dari keluarga kaya, tampan, banyak uang, mobil mewah mentereng. Sedangkan dia, cuma pria yang gak jelas asal usulnya, gak punya apa-apa pula,'' Axel dengan begitu lantangnya.


''El ...! aku gak suka kamu banding-bandingin orang lain, kamu boleh sombong, karena itu memang sifat kamu, sudah mendarah daging di dalam diri kamu, tapi kamu gak boleh menghina orang lain, apalagi pacar dari saudara kamu sendiri, aku ilfil denger'nya.''


''Ups ...! sorry aku kebablasan ngomong, tapi jujur saja, aku emang gak suka sama si Gabriel itu, aku lebih suka Al pacaran dengan pria lain yang lebih baik dari dia.''


''Lho, kenapa? sepertinya dia pria yang baik?''


Belum juga El menjawab pertanyaan kekasih'nya, makanan yang tadi mereka pesan pun datang, dan akhirnya, keduanya pun menyudahi percakapan dan mulai menyantap hidangan yang kini tersaji di hadapan mereka.


**


Akhirnya Gabriel selesai memilih cincin yang akan dia gunakan untuk melamar kekasih'nya, cincin cantik berbentuk hati dengan bertabur mutiara pun menjadi pilihan.


Dia tidak perlu lagi mengukur lingkar jari manis kekasih'nya tersebut, karena bagi seorang Gabriel dia sudah hapal betul setiap lekuk bentuk tubuh seorang Axela, kekasih yang sangat di cintai'nya.


Dia pun berjalan dengan tersenyum, meninggalkan toko perhiasan dengan kotak cincin berwana merah berada di genggaman. Merasa tidak sabar untuk segera memberi kejutan, Briel pun merogoh saku celananya, meraih ponsel dan hendak menelpon Axela, kekasihnya.


Akan tetapi, belum juga briel menekan tombol di layar ponselnya, tiba-tiba saja seorang pria berjalan menghampiri dirinya dengan tersenyum seraya menatap kotak cincin yang masih berada di dalam genggaman Gabriel.

__ADS_1


Gabriel pun merasa terkejut, dia bahkan sampai tidak sengaja menjatuhkan kotak tersebut, membuat pria itu berjongkok lalu meraih kotak itu dan memberikannya dengan senyum yang menyeringai licik di kedua sisi bibirnya.


_____________-------------_____________


__ADS_2