
Pagi hari, Axel mulai membuka mata, mengedipkan'nya secara perlahan, meskipun masih terasa berat sebenarnya, dia pun memaksakan diri menarik kelopak matanya, meskipun rasa kantuk itu tidak tertahankan.
Dia pun mengusap kedua mata dengan punggung tangannya, berharap jika dia melakukan itu, rasa kantuknya akan segera hilang, sampai akhirnya, matanya pun terbuka secara sempurna, menguap lalu merentangkan kedua tangannya.
Kepalanya pun menoleh arah ranjang dimana Al tertidur semalam, namun, dirinya di buat terkejut seketika, saat saudara kembarnya ternyata sudah tidak berada lagi di sana, bahkan jarum Infus yang seharusnya berada di lengan sang adik, kini terlihat tergantung dengan sembarang.
Axel pun berteriak panik memanggil nama Axela, membuat semua yang ada di sana terbangun seketika.
''Axela, kamu dimana?'' teriak El, berdiri dan mencari ke sekeliling kamar.
''Ada apa si, bang ...? kenapa teriak-teriak kayak gitu, ngagetin aja ...'' tanya Lucky membuka mata, lalu menguap.
''Axela, Dek. Dia gak ada?''
''Apa ...?'' Lucky menatap ke arah ranjang yang terlihat sudah kosong.
''Cepat cari dia, Abang takut, dia melakukan hal-hal yang berbahaya ...''
Bukan hanya Lucky saja, Amora dan juga Emillia seketika bangun karena mendengar keributan, keduanya segera berdiri, dan mengamati apa yang sebenarnya sedang terjadi.
''Ada apa, El ...?'' tanya Amora.
''Al hilang, Ra. Seharusnya tadi malam kita bergantian jaga, bukan malah tidur semua, gimana ini?'' jawab El panik.
Amora pun terdiam sejenak, mencoba menjernihkan pikiran'nya terlebih dahulu, karena dirinya baru saja bangun dari tidur, membuat otaknya belum bisa bekerja dengan baik. Sampai akhirnya, dia pun mengangguk pelan, dan mulai mendapatkan titik terang.
''Tenang, El. Sepertinya aku tahu dia ada dimana sekarang.'' Ucap Amora.
''Maksud kamu ...?''
''Aku yakin, saat ini dia pasti sedang berada di ruang ICU, kenapa kita nggak coba cari ke sana saja?''
''Kamu benar juga, aku gak kepikiran kesitu tadi, ya sudah, aku akan lihat dia ke sana,'' jawab El membuka pintu lalu perlahan keluar.
__ADS_1
''Aku ikut, bang.''
Lucky mengejar, begitu pula dengan Amora dan Emillia, mereka berempat berjalan beriringan menuju ruangan ICU dimana Gabriel berada, dan merasa yakin bahwa, Axela juga sedang berada di sana sekarang.
Akhirnya, mereka pun sampai di ruangan tersebut, El segera membuka pintu pelan, jantungnya pun sedikit berdebar, takut jika tebakan Amora salah, dan Al tidak ada di sana, namun, akhirnya dia pun bisa bernafas lega, tatkala matanya mulai menangkap sosok saudara kembarnya, dia terlihat meringkuk di samping Gabriel, yang masih dalam keadaan koma.
Tangan Al pun nampak dilingkarkan di perut pria koma itu, dengan mata yang di pejamkan sempurna. Axel pun perlahan berjalan mendekat, menatap sepasang kekasih itu dengan tatapan iba, sungguh, hati Axel merasa sangat terenyuh, melihat sepasang kekasih itu berbaring bersama, dia tas ranjang yang sama.
Lucky yang berdiri di belakang sang Kaka pun nampak menunjukan ekspresi yang sama, begitupun dengan Amora dan juga Emillia.
''Apa kita harus membangunkan dia sekarang, bang?'' tanya Lucky, masih menatap dengan tatapan sendu kearah kakak kesayangannya.
''Gak usah, Dek. Biarkan kakakmu seperti itu dulu, sepertinya, dia tidur lelap sekali,'' jawab El.
''Kita tunggu di luar saja, jangan sampai kita mengganggu tidur lelap mereka, lagi pula, dari kemarin Al tidak istirahat sama sekali.''
Semua yang ada di sana pun mengangguk, lalu keluar dari ruangan tersebut.
Perlahan Axela mulai membuka mata, menarik kelopaknya perlahan, dan tidak membutuhkan waktu lama, matanya pun terbuka sempurna, senyum pun nampak mengembang dari kedua sisi bibirnya, tatkala dia melihat Gabriel masih berada di sisinya, meski dengan kondisi yang sama, tidak bergeming sedikitpun.
Dia pun mengusap wajah kekasihnya, meraba setiap jengkal wajahnya tanpa ada yang terlewat sedikitpun, Tubuh Al terlihat meringkuk tepat di samping sang kekasih, dengan kaki yang sedikit di tekuk.
''Bangun, sayang. Tidurmu nyenyak sekali, aku sangat merindukanmu, Briel,'' lirih Al pelan, penuh kesedihan.
Setelah puas menatap wajah sang kekasih, dia pun menyudahi pandangan matanya, Al nampak mencoba turun dari atas ranjang, namun, karena kondisi tubuhnya belum pulih benar, akhirnya, dia pun terjatuh, dan tersungkur ke atas lantai.
Bruk ...
''Argh ...!'' Al meringis kesakitan.
Kedua saudaranya yang saat ini sedang menunggu di luar pun, segera membuka pintu dan terkejut seketika, saat mendapati Axela sudah berada di bawah sana.
''Kaka ...! Kenapa kamu bisa berada di bawah?'' tanya Lucky segera berlari menghampiri.
__ADS_1
''Ya ampun, Al. Pasti kamu mau turun tadi, makannya jatuh, kan?'' tanya Axel, melakukan hal yang sama seperti adiknya.
Keduanya pun membantu Al untuk berdiri, lalu duduk di kursi.
''Makasih ...'' lirih Al, masih dengan wajah pucat nya, dan senyum yang terlihat sedikit di paksakan.
''Kenapa tidak membangunkan kita, kalau kamu mau kesini? kalau tau, aku pasti akan mengantar dan menemani kamu di sini, Al.''
''Maaf, El. Aku takut kalian nggak ngizinin aku untuk tidur di sini.''
''Mana mungkin, jika kamu memohon, aku pasti mengizinkan, ko,'' Axel dengan wajah cemasnya.
''Terima kasih, karena kalian masih Sudi menemani aku di sini, aku sungguh senang di kelilingi saudara dan sahabat baik seperti kalian, sungguh ...'' lirih Al, menatap satu-persatu semua yang ada di sana.
''Jangan bilang begitu, kami ikhlas nemenin kamu si sini, beneran,'' ucap Amora dengan tersenyum.
''Iya, Al. Kami di sini bukan tanpa alasan, kami ingin agar kamu tidak kesepian, tapi, kami malah ketiduran,'' Emillia dengan tersipu malu.
''Nggak apa-apa, ko. Kalian pasti lelah sekali, semalam aku gak bisa tidur, makannya aku kemari, dan ternyata, di sini aku bisa tertidur pulas, sungguh di luar dugaan, badanku terasa segar sekali sekarang,'' jawab Al dengan tersenyum tulus, tidak seperti sebelumnya.
''Apa dia sudah menunjukan kemajuan?'' tanya Amora, menatap wajah Gabriel kini.
Al menggelangkan kepalanya, wajahnya kembali terlihat kecewa.
''Aku yang sabar, ya. Aku yakin, dia pasti akan segera bangun, apalagi ada kamu si sini.'' Axel.
Al mengangguk penuh keyakinan.
Tanpa di sangat dan tanpa duga, tiba-tiba saja jari Gabriel sedikit bergerak, perlahan menunjukan kemajuan, akhirnya, dia pun membuka matanya, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya, matanya pun terbuka sempurna, membuat semua yang ada di sana segera menghampiri dengan tersenyum bahagia.
_______________------------______________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1