
Ayu perlahan berjalan mendekat berharap bahwa apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi, dia pun berdiri tepat di samping ranjang dimana ayahnya itu berbaring menatap wajahnya lekat, dan merasa ada sesuatu yang berbeda dari tubuh ayahnya tersebut. Karena dada sang ayah tidak terlihat naik turun layaknya orang yang sedang tertidur.
''Ayah ...'' Lirih Ayu dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Revan tidak bergeming, matanya tertutup sempurna tidak bergerak sedikitpun.
''Ayaaaah ... Bangun ... Yaaaah ...'' teriak Ayu mulai panik.
Lucky yang mendengar teriakan kekasihnya seketika bangun dan terkejut.
''Ayu, sayang. Ada apa?'' tanya Lucky segera berjalan menghampiri dengan tubuh yang masih terasa lemas.
''Ayah, Luck. Dia tidak bergerak. Dia pun seperti tidak bernapas sama sekali, apa mungkin dia ...Hiks hiks hiks ... Ayaaaah ... jangan tinggalin aku ...'' Ayu semakin histeris.
Lucky meletakkan jarinya di bawah hidung Revan, dan benar saja, ayah dari kekasihnya itu benar-benar tidak bernapas. Lucky pun segera berlari keluar dari dalam kamar, meminta penjaga yang berdiri di luar pintu untuk memanggil Dokter.
Penjaga yang juga masih dalam keadaan mengantuk berat, menuruti keinginan Lucky dan segera berlari untuk memanggil Dokter.
''Tenang, Yu. Dokter akan segera ke sini, kamu jangan panik dulu,'' Lucky memeluk tubuh Ayu, yang saat ini histeris.
Tidak lama kemudian, Dokter pun datang, bersama dua perawat masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa.
Dokter pun segera memeriksa keadaan Revan, dan ternyata memang benar, beliau sudah meninggal dari semalam, dan Dokter pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena detak jantungnya benar-benar tidak terasa lagi di dalam sana.
''Mohon maaf, sepertinya pasien sudah tidak ada, bahkan sepertinya beliau sudah meninggal dari lima jam yang lalu,'' jelas Dokter membuat Ayu semakin menangis histeris, berteriak memanggil nama ayahnya dengan tangisan yang menggelegar memekikkan telinga.
__ADS_1
Lucky yang menyaksikan hal itu, segera memeluk tubuh Ayu erat membawanya ke dalam dekapan dengan perasaan yang juga hancur sama seperti yang dirasakan oleh kekasihnya itu.
''Sabar, sayang. Ayah kamu pasti sudah tenang di alam sana,'' bisik Lucky berurai air mata.
''Nggak, Luck. Aku gak mau ditinggal sama ayah, semalam aku bermimpi dia sehat-sehat aja, kami bahkan tersenyum bersama, hiks hiks hiks ...'' lirih Ayu, mengurai pelukan.
''Mungkin, dia ingin menemui kamu terlebih dahulu lewat mimpi sebelum dia benar-benar pergi, sayang. Itu tandanya Om Revan pergi dengan tenang.''
''Lalu, bagaimana dengan aku? apa yang akan terjadi dengan aku, sekarang aku benar-benar sendirian, Luck. Hiks ... hiks ... hiks ...!''
Lucky terdiam, bibirnya terasa sulit untuk digerakan, rasa sedih dihatinya membuat bibirnya terasa kaku, dia hanya bisa memeluk tubuh kekasihnya erat.
Sementara itu, tubuh Revan nampak sudah di tutup dengan kain berwarna putih bersih, jarum infus yang menempel pergelaran tangan kurusnya pun terlihat sudah dilepaskan.
Perlahan Ayu mulai membuka kain yang menutupi bagian wajah Revan pelan dan ragu-ragu sampai akhirnya wajah pucat sang ayah benar-benar terlihat memejamkan mata, nampak begitu tenang, dan bahagia.
"Ayah ... Apakah mimpi semalam itu sebuah pertanda bahwa ayah sudah tidak ada di sini lagi? Ayah sengaja datang ke dalam mimpi aku untuk berpamitan? heuh ... jawab, Yah. JAWAAAB ... Kenapa ayah diam saja, yah. Bangun Ayah ...'' Ayu meletakkan kedua tangannya di kedua rahang Revan, berharap ayahnya itu akan bangun.
Lucky mengusap punggung Ayu lembut, mencoba menenangkan meskipun hatinya pun merasa hancur, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Lucky, dia tau betul bagaimana rasanya di tinggal oleh orang yang kita sayangi.
Tidak ada kata yang akan dapat menghibur hati manusia yang sedang terpukul ditinggalkan orang yang paling disayangi untuk selama-lamanya.
"Terima kasih, ayah. Terima kasih karena telah menyempatkan datang ke dalam mimpi aku, menemui aku untuk terakhir kalinya sebelum ayah benar-benar pergi, aku senang sekali bisa melihat senyum ayah dan mendengar ayah memanggil namaku untuk terakhir kalinya, aku sayang Ayah, aku akan mencoba untuk ikhlas melepas kepergian Ayah, karena aku tau ayah bahagia dan tenang di alam sana," Lirih Ayu, mengecup kening ayahnya kini yang sudah tidak bernyawa.
Mengingat mimpinya semalam, membuat Ayu tersadar, bahwa mimpi yang dia alami semalam bukanlah mimpi biasa. Ayahnya benar-benar menemui dirinya untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Mengingat betapa bahagia ayahnya di dalam mimpinya itu, betapa senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibir sang ayah memancarkan ketenangan, membuat Ayu Ikhlas melepaskan kepergian Revan untuk selama-lamanya.
"Ayah, semoga ayah tenang di alam sana, aku akan melaksanakan semua yang ayah pesankan kepadaku, jadi wanita Sholehah, jadi istri yang baik, melahirkan banyak anak agar aku tidak merasa kesepian di hari tua aku kelak, dan juga aku janji akan hidup bahagia seperti yang ayah inginkan," ucap Ayu lemah, mulai tenang dan tidak se-histeris sebelumnya.
30 menit kemudian, Leonardo, Adelia sang istri, dan juga Alex yang segera datang ke sana setelah mendapatkan kabar.
Leo menghampiri Ayu, yang saat ini masih berdiri di samping ranjang dengan mata menatap lekat tubuh Revan yang kini telah ditutup sempurna.
"Ayu, sayang. Om turut berdukacita, Om sungguh tidak menyangka kalau ayahmu akan pergi secepat ini," lirih Leo memeluk tubuh Ayu.
"Terima kasih, Om."
Setelah itu, Adelia dan Alex pun memeluk Ayu secara bergantian. Seraya mengucapkan ucapan belasungkawa yang mendalam.
Alex, kini dia berdiri tepat di samping ranjang, menatap tubuh Revan, orang yang pernah menjadi anak buah yang paling setia dan juga royal kepadanya, Alex benar-benar merasa terpukul, dia tidak menyangka bahwa Revan akan pergi secepat ini, mendahului dirinya dan meninggalkan Ayu sendiri.
"Aku harap kamu tidur dengan tenang di alam sana, aku merasa menyesal karena belum sempat meminta maaf kepadamu atas semua kesalahanku di masa lalu. Aku yakin kamu telah bahagia sekarang, tubuhmu tidak kesakitan lagi, dan kamu bisa tertawa lepas di sana, jangan khawatirkan Ayu, karena aku dan Leo akan menjaganya dengan baik.'' Lirih Alex, dengan mata yang menatap lekat jenazah sahabatnya itu.
Dulu dia pernah merasakan sakitnya di tinggal oleh orang yang paling dia sayangi yaitu adiknya sendiri, Jimmy. Dan sekarang, melihat Revan sudah tidak bernyawa, mengingatkannya akan kejadian beberapa tahun yang lalu itu, dan ternyata rasanya masih sama, sakit dan terpukul, namun, Alex mencoba menyembunyikan semua itu, menyimpannya kesedihan yang dia rasakan dalam-dalam.
Baginya, Revan sama seperti Jimmy, orang yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, meski hubungan mereka sempat merenggang beberapa tahun ini.
'Aku titip salam untuk Jimmy di alam sana, semoga kalian bisa bertemu di sana, di surga abadi,' (Batin Alex)
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1