Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menjalani Hidup Dengan Benar


__ADS_3

Leo memejamkan mata, bibirnya gemetar dengan keringat yang membasahi pelipis wajahnya bahkan sekujur tubuhnya pun serasa basah oleh keringat yang bercucuran begitu saja.


Dia pun menahan napasnya, agar saat peluru itu tepat mengenai jantung'nya, dirinya tidak akan merasa terkejut lagi karena sudah menahan napas sebelum'nya.


Dengan jantung yang masih berdetak kencang, Leo pun mencoba membuka mata, karena setelah lama menunggu, Alex sama sekali tidak terdengar menarik pelatuk pistol yang di pegang'nya.


''Sayang, suami'ku... kamu kenapa?'' tiba-tiba saja terdengar suara Adelia, dengan lirih memanggil namanya.


Leo membuka lebar kedua matanya, dia menatap wajah Adelia dan memperhatikan ke sekeliling kamar, mencari sosok Alex yang tadi hendak menembakan senjata kepada dirinya.


''Kamu di sini?'' Leo menarik napas lega.


''Ada apa? kenapa wajahmu pucat sekali?'' tanya Adel, mengusap keringat yang membasahi pelipis wajah suaminya.


''Apa kamu lihat Laki-laki tinggi besar yang tadi ada di sini?''


''Tidak, aku kemari sudah tidak ada siapapun, namun tadi di lorong aku memang bertemu dengan Laki-laki yang memiliki perawakan seperti yang kamu ceritakan.''


''Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?''


''Tidak, dia hanya menyapaku, tidak mengatakan apapun lagi,'' jawab Adelia menatap wajah sang suami.


''Syukurlah...!'' Leo kembali bernafas lega.


''Memangnya dia siapa'nya kamu? mengapa seperti'nya kamu sangat khawatir?'' Adel mengerutkan keningnya.

__ADS_1


''Dia bukan siapa-siapa aku ko, hanya rekan bisnis saja, sudah tidak usah di fikirkan. Bisa tolong ambilkan minum, tenggorokan'ku rasanya kering sekali,'' Leo mengusap lehernya.


Adelia segera mengambil air mineral yang baru saja dibelinya, dia membuka tutupnya lalu memberikannya kepada sang suami.


Glekgek


Glekgek


Glekgek


Leo meminum air mineral tersebut, tanpa di sadari satu botol langsung habis hanya dengan satu kali tegukan, membuat Adelia merasa heran seketika, suaminya tersebut seperti habis di kejar oleh seseorang dan terlihat seperti merasa sangat kelelahan.


''Haaah... segar...'' ucapnya kemudian.


Leo memberikan botol kosong itu kepada istrinya.


''Oh, tadi dia izin sama aku, katanya dia mau ke kantor sebentar, bukannya dia di suruh sama kamu?''


''Oh, iya... aku sampai lupa,'' Leo mengusap wajahnya.


Yang di bicarakan pun akhirnya datang, Ryan masuk ke dalam ruangan dengan membawa lembaran laporan yang sudah di kemas di dalam amplop berwarna coklat, yang baru saja dia ambil dari kantor.


''Maaf, bos. Saya perginya agak lamaan, tadi di jalan macet,'' ucap Ryan berjalan menghampiri lalu menyerahkan amplop coklat tersebut kepada bosnya.


''Ya sudah tidak apa-apa. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku diskusikan dengan'mu,'' Leo menatap Ryan lalu menoleh ke arah Adel dan juga ibu secara bergantian.

__ADS_1


''Eu... aku keluar dulu sebentar ya, ada sesuatu yang lupa aku beli,'' ucap Adel.


Adelia mengerti jika sesuatu yang akan di diskusikan oleh suaminya dengan Ryan adalah hal penting, yang tidak boleh di ketahui orang lain termasuk dirinya.


''Hati-hati ya,'' Leo menatap punggung sang istri yang berjalan keluar dari dalam kamar bersama ibu yang berjalan di belakangnya.


Setelah keduanya keluar, Leo pun memulai pembicaraan.


''Tadi Alex baru saja kemari,'' Leo berucap dengan raut wajah yang sangat serius.


''O ya?'' Ryan terlihat terkejut.


''Dia mengancam'ku dengan meletakan pistol di kepalaku, jantung'ku hampir saja copot di buatnya, apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan dia?''


''Bukankah bos berniat untuk membalas dendam kepada dia?''


''Awalnya sih seperti itu, tapi setelah aku pikirkan lagi, sepertinya hal itu tidak ada gunanya, sekarang yang lebih aku prioritaskan adalah keselamatan keluarga'ku, istri'ku, calon bayi ku dan ibu mertua'ku,'' Leo menunduk mencoba melupakan dendamnya atas kematian ibundanya.


''Apakah bos bersungguh-sungguh akan melupakan begitu saja?'' Ryan menatap wajah bos yang selama ini jadi panutannya.


''Aku serius, aku sudah menjalani separuh hidupku dengan berbuat kejahatan, menghajar bahkan tak segan membunuh orang, sepertinya, kini sudah saat aku menjalani hidupku dengan benar, menjaga dan menjadi ayah sekaligus suami yang baik untuk anak dan juga istri'ku.''


Bruk...


Tiba-tiba saja pintu kamar di buka dengan kasar.

__ADS_1


''Apa maksud dari perkataan'mu itu?'' Adel berdiri di depan pintu menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam.


______________-----------______________


__ADS_2