
Tubuh Revan terasa lemas seketika, separah itukah apa yang telah dia lakukan kepada putrinya? sehingga membuat Ayu melupakan dirinya dan sang istri.
Rasa bersalah kembali menggerogoti jiwanya, membuat dada Revan terasa sesak seketika. Air mata pria itu pun mendadak tumpah begitu saja, hingga sang Dokter menepuk bahu Revan sebelum dia meninggalkan tempat itu.
''Maafkan Ayah, nak. Jika memang dengan melupakan ayah, bisa membuat kamu bahagia dan tidak merasa kesakitan lagi, ayah ikhlas, Ayu. Lupakanlah ayah yang jahat ini ...'' Lirih Revan, merasakan bahwa tubuhnya akan roboh, namun, segera di topang oleh tangan Lucky.
''Om ...! Om harus kuat, Ayu pasti akan ingat Om sama Tante lagi, aku yakin ...'' ucap Lucky mencoba menenangkan.
''Nggak, Luck. Lebih baik dia melupakan Om. Daripada dia mengingat Om dan membuat rasa sakit di dalam hatinya kembali membuatnya tersiksa. Om rela dan ikhlas dilupakan oleh putri Om sendiri, asalkan dia bahagia,'' jawab Revan dengan suara lemah.
Sang istri yang kini berdiri di sampingnya seketika memeluk tubuh suaminya itu, tangisnya benar-benar tidak terbendung lagi, hatinya benar-benar diliputi penyesalan yang teramat dalam.
''Semua ini terjadi gara-gara kita, Mas. Kita sebagai orang tua sama sekali gak becus dalam mengurus anak, kita egois, hanya memikirkan perasaan kita sendiri tanpa memikirkan keadaan Ayu, putri kita. Dia pasti sangat tersiksa selama ini, hiks hiks hiks ...'' lirih ibunda Ayu merasa menyesal.
''Iya, kita memang orang tua yang buruk, jahat dan juga egois, hiks hiks hiks ...'' Revan mendekap erat tubuh sang istri.
Lucky hanya terdiam, tangannya nampak masih menopang tubuh Revan, namun, perlahan Revan mulai berdiri tegak, membuat Lucky perlahan melepaskan tumpuan tangannya.
''Lucky, Om titip Ayu sama kamu ya ...'' lirih Revan dengan suara lemah.
''Tapi, Om?''
''Sepertinya Om gak akan datang lagi kemari,'' ucap Revan.
''Lho, kenapa? Apa Om benar-benar menyerah dalam mendapatkan maaf dari putri Om itu, dan sekarang Om sama Tante mau lari dari tanggung jawab? begitu?'' Jawab Lucky ketus.
''Nggak, Luck. Bukan seperti itu maksud Om.''
''Terus apa? kalau Ayu tidak ingat sama Om, itu artinya dia sedang menghukum Om. Dan seharusnya, Om menunjukkan sikap Om yang lebih baik, buktikan janji Om sama aku kalau Om akan berubah dan menjadi ayah yang baik, bukan malah kabur seperti ini,'' tegas Lucky.
__ADS_1
''Om hanya takut, Ayu akan merasakan sakit hati dan ingatan dia yang buruk yang sangat menyakitkan itu membuat hati dia terluka lagi. Biarkan dia melupakan kami berdua asalkan dia bahagia, Luck ...'' jawab Revan.
Lucky terdiam, sebenarnya dia pun lega karena kekasihnya itu dapat melupakan rasa sakit di dalam hatinya, tapi bukan berarti dia boleh melupakan kedua orang tuanya, walau bagaimanapun orang tua ya tetaplah orang tua, sebesar apapun kesalahan yang mereka perbuat, tidak akan bisa merubah kenyataan bahwa dia adalah orang tua kita.
Kita sebagai anak wajib memaafkan kesalahan yang telah dilakukan oleh orang tua kita, bukan hanya kepada orang tua, tapi sebagai seorang manusia yang hidup berdampingan dengan manusia lainnya di muka bumi ini, kita harus saling memaafkan karena manusia tidak luput dari salah, dan khilaf. Batin Lucky.
''Lucky, Om mohon. Kamu jangan salah paham, Om melakukan ini bukan karena Om ingin lari dari tanggung jawab, tapi karena Om tidak ingin Ayu merasakan kesakitan lagi saat mengingat kami berdua. Izinkan Om untuk membenahi diri Om dulu, setelah itu kami berdua berjanji akan kembali untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada dia.'' ucap Revan bersungguh-sungguh.
🍀🍀
Lucky akhirnya menyetujui apa yang diinginkan oleh Revan dan juga istrinya, dia akan merawat Ayu sendiri dan meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk membawa Ayu pulang ke Rumahnya.
Saat ini Lucky nampak sedang duduk di kediamannya. Di depan Kedua orang tua, dan ketiga kakaknya, Lucky berniat untuk mengatakan niatnya itu.
''Dek, Papi dengar, Ayu hilang ingatan? tapi anehnya hanya orang tuanya saja yang dia lupakan, betul ...?'' tanya Leo kepada Lucky.
''Hmm ... sebenarnya Papi gak keberatan akan hal itu, mengingat bahwa dia putri dari kawan Papi sendiri, juga Papi merasa kasihan sama dia,'' jawab Leo ragu-ragu.
''Lalu, masalahnya apa?''
''Hmm ... Kalau nanti dia tinggal di sini, apa kamu yakin tidak akan terjadi apapun nantinya?''
''Aku janji, Pap. Aku hanya ingin merawat Ayu. Lagipula besok aku sudah masuk sekolah.'' Jawab Lucky bersungguh-sungguh.
''Gimana menurut kamu, istriku?'' Leo mengalihkan pandangan matanya kepada Adelia sang istri.
''Kalau Mommy sih gak keberatan, jika Ayu tinggal di sini sementara, Mommy akan merawat dia dengan baik, sampai dia benar-benar sembuh.''
''Serius, Mom ...?'' Lucky tersenyum bahagia.
__ADS_1
''Iya, sayang ...!''
Lucky segera bangkit lalu berdiri, dia segera memeluk sang ibu dengan perasaan senang dan juga bahagia.
''Terima kasih, Mom.''
Lucky memeluk tubuh sang ibu, mendekapnya erat dengan perasaan bahagia.
🍀🍀
Sementara itu malam harinya, kini seluruh alat bantu di tubuh Ayu sudah dilepaskan, keadaan gadis itu sudah benar-benar membaik sehingga dia tidak perlu lagi memakai alat medis yang sudah selama tiga Minggu menempel di tubuhnya.
Ayu nampak sedang berbaring sendirian di ruangan rawat inap, meski tubuhnya masih merasa lemas, tapi dia sudah merasa lebih baik dan perasaan Ayu merasa tenang, selain karena dia sudah melupakan orang yang telah menyakiti dirinya sedemikan rupa, Ayu juga senang karena Lucky laki-laki yang sangat dia cintai, selalu berada di sana menemani.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan pun di buka dan Lucky masuk ke dalam ruangan dengan tersenyum berjalan menghampiri kekasihnya itu.
''Sayang ...! bagaimana perasaan kamu hari ini?'' Lucky, duduk di sampai ranjang.
''Perasaan aku baik-baik saja, sayang. Aku senang kamu ada di sini.''
''Hmm ... syukurlah, aku senang sekali mendengarnya.''
''Tapi, Luck. Aku mau tanya, siapa dua orang tadi yang mengaku bahwa mereka kedua orang tua aku? apakah mereka benar-benar ayah dan ibuku? tapi kenapa aku sama sekali tidak mengingat mereka?'' tanya Ayu membuat Lucky benar-benar bingung harus menjawab apa.
Lucky pun hanya terdiam, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Ayu.
''Luck ...? kenapa kamu diam saja? apakah mereka benar-benar ayah dan ibu aku? tapi kenapa aku sama sekali tidak mengingat mereka?''
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1