Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Nama


__ADS_3

Akhirnya Alex meneruskan niatnya untuk melakukan tes DNA, rambut bayi yang sempat dia ambil'pun sudah dia serahkan kepada pihak Rumah Sakit.


Membutuhkan waktu sekitar satu Minggu untuk menunggu hasil tes DNA, dan Leo pun mengetahui hal tersebut, dia tidak merasa keberatan sama sekali dengan apa yang di inginkan oleh Alex, musuh bebuyutannya.


Namun Leo memberikan satu syarat, yaitu, apabila anak tersebut terbukti bukan anak tersebut bukanlah anak dari Alex, maka Alex harus berhenti menggangu dirinya dan keluarganya, merasa yakin bahwa anak itu adalah darah dagingnya, Alex pun menyetujui syarat yang di ajukan oleh Leonardo.


***


Sementara itu, Adelia masih terbaring dalam keadaan koma, sudah lebih dari satu Minggu dia dalam keadaan seperti itu, namun Leo tidak putus asa, dan masih menunggu dengan setia serta berharap penuh keyakinan bahwa istrinya tersebut akan segera bangun.


Ibu Sarah, yang merupakan ibu kandung dari Adelia Fasha pun tidak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan putri kesayangan'nya, meski dia tidak bisa menemani sang putri selama dua puluh empat jam karena harus menjaga si kembar, serta bayi yang baru saja di lahir'kan.


Karena Leo hanya memberikan perhatiannya khusus untuk Adelia, dia pun sampai lupa memberi nama kepada putra ketiganya tersebut.


Hari ini ibu khusus datang ke Rumah Sakit untuk menanyakan hal tersebut. Ibu duduk bersama Leo di kursi diluar ruangan ICU.


''Bagaimana keadaan'mu, nak? apa kamu sudah makan?'' ibu menatap wajah menantunya.


''Aku sedang tidak berselera makan, Bu.''


''Tidak boleh begitu, bagaimana kalau kamu sampai sakit? siapa yang akan menjaga Adelia nantinya?''


Leo hanya terdiam, hati, tubuh serta pikirannya sedang tidak baik-baik saja, mana mungkin dia bisa makan dengan tenang? apalagi saat ini dirinya sedang menunggu hasil tes DNA yang akan segera keluar dalam beberapa hari lagi, tentu saja hal itu membuat selera makannya benar-benar hilang.


Kemudian, ibu pun meraih lengan Leo, menggenggam seraya mengusap punggung tangan kasarnya, mata ibu nampak menatap wajah kuyu nan lesu menantunya.

__ADS_1


''Leo...! Dengarkan ibu! Kamu harus kuat, selain menjaga istri'mu, kamu juga harus bisa menjaga tubuhmu sendiri, jangan sampai nanti saat istrimu bangun, gantian jadi kamu yang sakit.''


Leo masih terdiam, matanya tampak memerah, dan guratan kesedihan pun terlihat jelas dari raut wajah tampannya.


''O iya, ibu juga kesini ingin menanyakan prihal nama untuk si bungsu, sudah lebih dari satu Minggu dia belum di beri nama.''


Leo mengangkat kepalanya, menatap wajah sang ibu dengan tatapan sendu.


''Maaf, aku sampai lupa memberi dia nama, Bu. Pikiranku hanya tertuju pada Adelia saja, sampai-sampai aku lupa bahwa ada tiga anakku yang masih membutuhkan perhatian dariku,'' jawab Leo penuh penyesalan.


''Oleh karena itu ibu datang kemari untuk mengingatkan.''


''Tapi aku sungguh belum menyiapkan nama apapun untuk si bungsu, bahkan tidak terbayang sedikit pun nama cocok untuk dia.''


''Baiklah, ibu mengerti, sayang. Ibu tunggu beberapa hari lagi sampai kamu menemukan nama yang cocok untuk dia, tapi ingat, jangan terlalu lama, kasian si bungsu, ya...!''


Ibu mengangguk.


''Ya sudah, ibu ke dalam dulu, ibu ingin melihat wajah Adelia sebentar. Setelah itu ibu akan segera pulang, kasian cucu-cucu ibu, apabila di tinggalkan terlalu lama.''


Leo mengangguk pelan.


***


Akhirnya waktunya pun tiba. Waktu dimana hasil tes DNA itu keluar, Alex yang di temani oleh Revan menunggu dengan cemas, tepat di depan Labolatorium Rumah Sakit.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Leo pun datang, dengan di temani oleh Ryan dan juga istri'nya.


''Kamu harus janji, setelah ini kamu tidak akan pernah mengganggu keluarga aku lagi, Alex.'' ucap Leo menatap dengan tatapan mata tajam.


Alex hanya terdiam tidak menganggapi.


Saat ini perasaan Alex sedang diliputi kecemasan, di tambah ucapan Ryan waktu itu masih terngiang-ngiang didalam otaknya, sejujurnya dia pun lelah menjalani hidupnya yang seperti ini.


Leo menatap wajah Alex dengan perasaan heran, karena sikap musuhnya tersebut tidak seperti biasanya, yang selalu memprovokasi dirinya, tak peduli, Leo pun memilih untuk mengacuhkannya.


Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari dalam Laboratorium, dan meminta Alex dan juga Leo untuk ikut bersama sang Dokter ke ruangannya.


Menurut, Leo dan Alex pun berjalan di belakang Dokter tersebut.


Ceklek


Dokter membuka pintu ruangan, dan ketiganya masuk kedalam ruangan tersebut.


''Silahkan duduk,'' pinta sang Dokter.


''Tidak usah, Dokter. Lebih baik cepat katakan saja, apa hasil dari tes DNA tersebut,'' jawab Alex tidak sabar.


''Baiklah...''


Dokter membuka amplop yang berada di dalam genggamannya, lalu membacakan isinya.

__ADS_1


__________-----------__________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️❤️


__ADS_2