Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Lega


__ADS_3

Alex terkejut membulatkan bola matanya.


''Apa maksud kamu Leo? bukankah kita ke sini memang untuk berdamai sama dia 'kan?'' tanya Alex mengerutkan kening.


''Untuk apa aku berdamai dengan dia, toh aku sama sekali tidak pernah punya urusan sana dia, apa lagi ngerasa bermusuhan sama pria jelek ini,'' ketus Leo, membuat Alex dan Revan tertawa lega seketika.


''Kurang ajar kamu, Leonardo. Mengagetkan aku saja, aku kira kamu serius tadi,'' ucap Alex menarik napas panjang.


''Emang apa yang salah dengan ucapan aku tadi? tadi kamu bilang perdamaian, 'kan? sedangkan aku sendiri tidak pernah merasa punya masalah dengan dia, dia nya saja yang sengaja mencari masalah dengan aku.''


Revan tersenyum tipis, lalu duduk di kursi yang berada tepat di depan Leo dan juga Alex.


''Oke ... Oke ... Aku benar-benar minta maaf, karena selama ini telah sengaja membuat masalah dengan kamu, Leo. Aku juga minta maaf karena pernah mengirim seo-'' Revan tidak meneruskan ucapannya.


''Kenapa gak di teruskan?'' tanya Leo, santai.


''Eu ... Anu ...'' Revan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.


''Hmm ... biar aku teruskan, sempat mengirimkan pembunuh?'' sela Alex, membuat Revan menundukkan kepalanya merasa malu.


''Aku benar-benar minta maaf, Leo. Aku sungguh menyesal. Karena sifat egois dan serakah aku itu, sekarang keluarga aku benar-benar berantakan, putriku satu-satunya koma, istriku juga meninggalkan aku.'' Revan penuh dengan penyesalan.


''Apa kamu serius menyesali perbuatanmu itu?'' Leo menatap tajam wajah Revan.


''Aku sungguh menyesal ...''


''Baiklah ... Kita berdamai. Aku juga minta maaf, karena aku yakin kamu melakukan semua itu pasti karena ada alasannya. Dan aku sudah dapat menebak alasan kamu, meskipun aku tidak bisa mengatakannya,'' ucap Leo, mengulurkan tangannya.


Revan mengangkat kepalanya lalu menerima uluran tangan Leonardo dengan perasaan senang, bibirnya pun nampak tersenyum lebar, mereka berdua pun berjabatan tangan, dan saling menggenggam satu sama lain.

__ADS_1


''Nah gitu dong, aku sungguh senang melihat kalian berdua seperti ini. Akhirnya aku bisa benar-benar berkumpul kembali dengan kalian, aku bahagia sekali, rasanya aku ingin menangis, hiks ...'' ledek Alex dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


''Lha ... Ko mewek ... Cengeng banget si,'' ledek Leo.


''Siapa yang mewek, aku hanya terharu. Sekarang adikku benar-benar tenang di alam sana. Sungguh aku ingin mengunjunginya, aku kangen sekali sama dia ...'' lirih Alex mengusap wajahnya secara kasar.


Keheningan pun seketika tercipta, ketiga pria paruh baya itu, larut dalam lamun masing-masing.


'Jimmy, aku berharap apa yang dikatakan oleh kakakmu ini benar, kamu benar-benar tenang.m di alam sana, sekian lama aku terkurung dalam. dendam, sekarang sudah waktunya aku melepaskan semua itu, dan mengikhlaskan kepergian mu, sahabatku,' (Batin Revan)


'Adikku, aku benar-benar senang, karena akhirnya kakakmu ini tidak kesepian lagi, kedua sahabat Kakak sudah kembali berdamai, dan kakak sangat merindukanmu,' (Batin Alex)


'Jimmy ... Sekali lagi aku minta maaf, karena perbuatan aku yang tidak berperasaan dulu, menimbulkan dendam berkepanjangan, aku sungguh minta maaf, dan aku berjanji akan menjaga kakakmu ini,' (Batin Leo menoleh ke arah Alex)


''Kenapa kamu liat-liat aku seperti itu, hah ...?'' ketus Alex menatap wajah Leo.


''Bagaimana kalau kita benar-benar mengunjungi pusara adikmu, aku juga sangat merindukan dia,'' usul Leo, yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Revan dan juga Alex


''Kita berangkat pake mobil masing-masing ya, kita ketemu di sana, oke ...?''


Revan dan Alex pun mengangguk tanda setuju.


🍀🍀🍀


Di depan pusara.


Ketiga pria itu berdiri tepat di depan batu nisan, Alex berdiri di tengah-tengah di apit oleh kedua sahabatnya. Mata Alex nampak berkaca-kaca menatap batu nisan bertuliskan nama adiknya. Dia pun berjalan mendekat lalu mengusap batu tersebut, dan berbicara seolah adiknya itu ada di depannya.


''Apa kabar adikku? aku yakin kamu bahagia di sana, sama seperti yang sedang Kakak rasakan saat ini, Kakak sangat bahagia, kedua sahabat Kakak sekarang sudah kembali, dan yang paling membuat kakak lebih bahagia lagi adalah, sekarang kakak sudah memiliki pendamping hidup, andai saja kamu masih ada, kamu pasti senang memiliki kakak ipar seperti Emillia.''

__ADS_1


''Kakak juga tidak menyangka kalau di usia kakak yang sudah tidak muda ini masih ada wanita yang mau sama kakak. Kakak sungguh bahagia sekali, Jimmy ... hiks hiks hiks ...'' Tangis Alex pecah seketika.


Leo menghampiri Alex, lalu berjongkok tepat di samping sahabatnya itu. Dia mengusap punggung Alex lembut mencoba untuk menenangkan.


''Aku juga di sini, Jimmy. Kamu jangan khawatir, aku akan menjaga kakakmu yang tua ini.'' Ucap Leo, membuat Alex sontak menghentikan tangisannya, lalu menoleh ke arah sahabatnya dan tersenyum hambar.


''Enak aja, emangnya aku anak kecil apa, dijagain segala? sudah ada istriku yang akan menjaga aku, dasar pria aneh ...'' ketus Alex.


''Ha ... ha ... ha ...! kamu ini seharusnya kamu berterima kasih, karena aku bersedia menjaga tua bangka sepertimu, ya sudah kalau kamu gak mau,'' jawab Leo tidak kalah ketus.


''Sudah-sudah ... Apa kalian gak malu bertengkar di depan Jimmy?'' ucap Revan, dan Alex serta Leo menghentikan perdebatan mereka seketika.


''Jimmy, aku datang. Aku minta maaf, karena aku, kamu mungkin tersiksa di atas sana, karena dendam yang bersarang di hatiku, dapat menghambat jiwamu menuju ketenangan. Aku benar-benar minta maaf. Sekarang, aku akan mengikhlaskan kepergian mu, Jimmy. Melepaskan semua dendam, dan memulai hidup baru yang lebih bahagia.''


''Aku harap kamu sudi untuk memaafkan aku, dan benar-benar beristirahat dengan tenang.'' Ucap Revan, dengan mata berkaca-kaca.


Kini, ketiga orang itu kembali berdiri tepat di depan pusara, menaburkan bunga mawar yang memang sudah meraka siapkan.


Hati ketiga orang itu benar-benar diliputi rasa bahagia, tenang dan juga merasa lega, karena hal yang selama ini menjadi akar dari permusuhan mereka dapat mereka lepaskan di sini, di depan Pusara Jimmy, yang kini telah benar-benar tenang di alam sana.


Setelah mereka merasa puas berada di sana, ketiga pria paruh baya itu pun berpamitan dan mulai berjalan meninggalkan pemakaman. Ketiganya pun berjalan beriringan menuju mobil masing-masing.


''Aku gak nyangka kalian berdua akan menjadi besan aku. Kalian harus janji akan menikahkan putri kalian dengan putra-putraku di masa depan ...'' pinta Leo di sela-sela langkahnya.


''Ha ... ha ... ha ... Aku juga gak nyangka. O iya Leo, kalau aku punya putra, aku berharap putraku bisa sepintar putra bungsu mu, dia sungguh cerdas.''


''Siapa dulu ayahnya ...? Selain dia pintar, dia juga tampan seperti aku 'kan?''


''Kalau ketampanan sama kesombongannya kamu semuanya menurun sama putra sulungnya kamu, Leo. Dia persis seperti namun, gak ada satupun yang terbuang ...''

__ADS_1


''Ha ... ha ... ha ... '' Ketiga pria itu pun tertawa bahagia.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2