
''Iya, betul. Ini siapa?'' jawab wanita yang bernama Angelina yang sudah mengangkat telpon dari preman tersebut.
Keduanya berbincang di telpon selama lebih dari lima menit, dan preman itu terlihat tersenyum senang saat dia sudah mengakhiri perbincangannya di telpon. Dia meletakan ponselnya di atas tempat tidur secara sembarang dan berbaring di sebelahnya, seraya matanya terlihat menatap ke langit-langit kamar dengan bibir yang tersenyum lebar.
'Akhirnya aku akan jadi orang kaya, ha... ha... ha...'
Gumamnya sendiri.
_____----_____
Sudah sekitar satu minggu Axel menjadi suami Adelia, hari-hari yang dia lalui pun terlihat selalu bahagia, kehadiran Adelia dan ibu dalam menemani hari-harinya sebagai istri dan ibu mertua seolah memberi warna berbeda di kehidupannya.
Meskipun dari awal dia tinggal di sana, kedua wanita itu sudah membuatnya bahagia, namun karena statusnya sekarang sebagai seorang suami dan memantu membuat kebahagiaan yang kini ia dapatkan terasa berbeda.
Lambat laun Axel mulai melupakan masa lalunya, tekadnya yang bulat membuatnya hatinya teguh pada pendirian bahwa mulai saat ini dirinya adalah Axel, suami dari Adelia dan menantu dari Ibu Sarah, bukan Leonardo yang merupakan seorang mafia.
Sehari-hari Axel membantu Adelia dan ibu berjualan gorengan di depan rumahnya, meski hasil yang didapat tidak terlalu banyak, namun cukup untuk makan sehari-hari mereka bertiga.
Pagi ini, pembeli sudah mengantri membeli gorengan yang sedang di goreng oleh ibu, ibu sengaja menjajakan gorengan yang di goreng mendadak saat ada yang beli, agar gorengan yang di jualnya masih hangat saat di bawa pulang oleh pembelinya.
Pembeli yang mengantri kebanyakan Ibu-ibu, meski ada sedikit dari mereka yang masih remaja, semenjak kehadiran Axel di rumahnya, Adel jadi tidak perlu berjalan jauh untuk menjajakan dagangannya seperti yang selama ini dia lakukan.
Kehadiran Axel yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya, seolah menjadi magnet bagi para pembeli, karena dengan sendirinya mereka datang untuk membeli gorengan, bahkan ada juga yang datang hanya untuk sekedar mencuri pandang kepada Laki-laki tampan yang bernama Axel.
''Ya, ampun, Del. Suami kamu tampan sekali. Hey, Axel, kamu punya Adik tidak? kalau punya pasti tampannya seperti kamu, boleh dong kenalin sama ibu, ibu masih punya anak perawan di rumah,'' ucap salah satu ibu yang sedang mengantri, bertanya kepada Axel tanpa rasa malu sama sekali.
Axel terkejut seketika mendapatkan pertanyaan seperti itu, karena apa yang ditanyakan oleh ibu tersebut sontak membuatnya teringat akan keluarganya yang sesungguhnya.
Axel hanya tersenyum yang di paksakan sambil menatap wajah ibu tersebut, dia tidak menjawab sama sekali pertanyaan sang ibu.
Sampai saat ini pun, dia sama sekali tidak mengatakan kepada istri dan juga ibu bahwa sebenarnya ingatannya sudah kembali, dia rasa hal itu tidak perlu untuk di lakukan karena toh dia ingin hidup sebagai Axel sepenuhnya.
''Ini gorengannya, Bu,'' Adel memberikannya satu kantong plastik berisi gorengan sembari menerima uang dari ibu tersebut.
__ADS_1
''Terima kasih,'' ucapnya lagi.
Adel menatap wajah suaminya yang terlihat muram setelah mendapat pertanyaan dari pembeli tadi, dia akan bertanya nanti apabila mereka telah selesai berjualan.
Satu jam kemudian gorengan pun habis terjual, hanya tersisa beberapa buah saja, yang saat ini sedang di makan oleh Alex dengan wajah yang masih terlihat muram.
''Kamu kenapa?'' tanya Adel duduk di samping sang suami.
''Tidak ko, aku hanya lelah saja,'' jawab Axel berbohong.
''Hmmm... baiklah, aku bikinkan teh manis ya.''
Axel mengangguk dan menatap wajah sang istri yang saat ini sedang berjalan menuju dapur.
Tak lama kemudian dia pun kembali dengan membawa satu cangkir besar teh manis yang masih hangat, Adel pun meletakkan nya di samping sang suami yang duduk di teras rumah sambil memakan gorengan.
''Terima kasih, sayang,'' ucap Axel sesaat setelah cangkir teh itu di simpan di sampingnya.
''Hah... apa? eu... tidak ko, aku tidak merasa tersinggung atau apapun, aku hanya merasa lelah saja,'' jawabnya berdiri lalu merentangkan kedua tangannya dan menggerakkan ke kiri dan kanan seolah melenturkan otot-ototnya yang sempat tegang.
Sementara Adel hanya terdiam menatap wajah sang suami, merasa yakin bahwa suaminya tengah berbohong.
''Minum dulu tehnya, nanti keburu dingin.''
''Baik, sayang.'' Axel meraih cangkir, meniupnya perlahan lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit.
''Wah, manis sekali. Semanis wajahmu,'' ucap Axel sesaat setelah menyeruput teh manis.
''Akh... gombal sekali kamu,'' jawab Adel mencubit kecil pinggang sang suami.
Axel tersenyum sambil memegangi jemari Adelia. Dia pun menatap wajah sang Istri dengan tatapan sayu dan wajah serius.
''Ada yang ingin aku katakan padamu?'' tanya Axel tiba-tiba.
__ADS_1
''Apa...? ko wajahmu mendadak serius seperti itu?'' jawab Adel merasa penasaran.
''Hmmm....! nggak jadi deh, nanti saja."
"Kenapa? apa ada yang kamu sembunyikan dari aku? apa ini prihal ingatanmu?''
''Eu... Tidak ko, bukan itu.'' Jawab Axel berbohong.
''Serius...?'' menatap lekat wajah suami dengan pandangan yang sangat serius.
Axel hanya mengangguk dengan tersenyum.
''Ya sudah, aku beres-beres dulu ya,'' ujar Adel bangkit lalu berjalan.
''Aku bantuin ya, sayang,'' Axel mengekor dari belakang.
_____------_____
Angelina sedang bercermin di Apartemennya, dia menatap wajah dirinya dari pantulan cermin yang berada tepat di hadapannya, Angel pun terlihat merapikan pakaian yang ia kenakan, penampilannya terlihat sempurna dengan memakai dress pendek di atas lutut berwarna biru tua dengan belahan dada sedikit terbuka.
Hari ini dia berencana untuk bertemu dengan orang yang memposting foto Axel di media sosial. Laki-laki yang menelpon dirinya mengatakan bahwa dia tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran kota, dan dia rela menempuh perjalanan jauh untuk menemuinya, agar bisa mendapatkan kejelasan prihal Poto tersebut.
Selesai bercermin dia pun meraih tas kecilnya dan mulai berjalan keluar dari dalam kamar, ia pun berjalan cepat karena merasa sudah tidak sabar ingin segera menemui pria tersebut.
Karena desa tersebut terletak lumayan jauh dari tempat tinggalnya yang terletak di pusat kota, membuatnya membutuhkan waktu selama hampir 6 jam untuk sampai di sana.
Angelina mengendarai mobil sendiri, mobil sedan mewah berwarna kuning yang kepunyaannya sendiri, dia memang berasal dari keluarga berada, kedua orang tuanya merupakan pengusaha kaya raya yang bergelimang harta, membuatnya selalu di manjakan dengan harta oleh kedua orang tuannya.
Angelina sudah hampir sampai di tempat tujuan, berkat GPS yang memberi arah membuat dirinya tidak kesulitan sama sekali untuk mencari desa tersebut.
Setengah hari berkendara tanpa istirahat membuatnya merasa sangat lelah, namun dia tidak peduli, yang penting sekarang dia akhirnya sampai di sana, di sebuah desa kecil dimana sang kekasih katanya berada.
______________------------______________
__ADS_1