Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Bingkai Poto


__ADS_3

''Apa maksudmu?'' Leo terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu, wajahnya pucat seketika.


''Kenapa wajahmu terdapat banyak luka lebam seperti telah berkelahi?"


"Oh... ini...? tadi aku mengejar pencopet, dan sempat berkelahi sebentar, makanya aku agak lama kembali ke sini,'' jawabannya dengan nada suara yang terdengar sedikit gugup dan menunjuk satu jari ke arah wajahnya sendiri.


''Sungguh ya, kamu itu benar-benar mencurigakan, banyak hal ganjil yang aku rasakan semenjak ikut dengan mu kesini,'' ucap Adel menatap curiga.


''Mencurigakan apaan? Nggak akh, biasa saja, cuma perasaan kamu saja kali?'' jawab Leo mencoba setenang mungkin.


Adel masih menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam, membuat Leo salah tingkah di buatnya. Dia pun mencoba mengalihkan perhatian sang istri dengan membuka kantong yang berisikan handphone yang tadi sempat dia beli.


''O ya, aku membelikan handphone baru untukmu,'' ucap Leo mengeluarkan dua kotak handphone.


''Ko dua? satu saja cukup kali,'' jawab Adel meraih kedua kotak handphone yang masih baru dan menatapnya.


''Satunya lagi buat aku, aku sengaja beli handphone yang sama, biar couple gitu,'' jawab Leo.


''Harganya berapa?''


''Sudah tidak usah menanyakan harganya, nanti jantungmu copot lagi, kalau tahu harganya.''


''Dih... dasar...'' mengerucutkan bibirnya.


''Duh... Spaghetti nya sudah dingin,'' ujarnya sedikit mengaduk spaghetti di dalam piring.


''Sudah di makan saja, rasanya enak ko, aku baru pertama kali makan makanan seperti ini.''


''Serius...?''


Adel mengangguk dengan meletakan kepalan tangannya di bawah dagunya yang runcing. Dia pun menatap wajah Leo dengan tersenyum.


Leo pun tersenyum senang, usahanya untuk mengalihkan perhatian sang istri pun akhirnya berhasil. Dirinya masih belum siap jika harus mengatakan yang sejujurnya tentang siapa ia yang sebenarnya, dia takut jika istrinya tersebut akan meninggalkan dirinya apabila dia jujur tentang semuanya.

__ADS_1


''Hanphone nya nggak mau di buka?'' tanya Leo menunjuk ke arah handphone baru yang masih di bungkus rapi.


''O iya, aku penasaran juga, seperti apa handphone mahal yang biasa di pake oleh orang-orang kaya,'' jawabnya meraih kotak dan membukanya.


''Waaahh... Bagus sekali, pasti mahal.''


''Sudah, jangan nanyain harga terus, coba sini aku nyalain,'' meraih handphone yang saat ini di genggam oleh sang istri, handphone keluaran baru dengan merek terkenal dan yang pasti dengan harga Fantastis.


''Nah, sudah nyala, sudah aku masukan SIM CART-nya juga,'' ucapnya sembari memberikan kembali handphone kepada Adelia.


''Makasih, sayang...''


''Dari tadi aku nungguin ucapan itu...''


''Ucapan apa?''


''Yang baru saja kamu katakan.''


''O ya...? ya udah, aku ulangi lagi ya. Terima kasih Axel sayang... Eh... maaf, maksudku Leonardo ganteng, yang kegantengannya bikin hatiku klepek-klepek,'' jawab Adel dengan suara yang sedikit menggoda.


Selesai menyantap makanan merekapun berdiri dan berjalan keluar dari dalam Restoran, setelah sebelumnya membayar terlebih dahulu.


____----____


Malam hari Adel masih juga belum tertidur, mungkin karena masih belum terbiasa tidur di ranjang besar dengan kasur yang sangat empuk dan kamar yang luas pula, sepertinya butuh waktu untuk dirinya benar-benar bisa menyesuaikan diri dengan tempat dan lingkungan baru.


Rumah suaminya yang ukurannya sepuluh kali lipat dari ukuran rumah ibunya pun, membuat dia masih terasa asing dengan suasana rumah yang isinya di lengkapi dengan barang-barang mewah dan juga mahal.


Dia menoleh ke arah sang suami yang terlihat sudah tertidur pulas bahkan sedikit mendengkur terlihat merasa sangat nyaman, mulutnya pun sedikit menganga seolah sedang bermimpi indah.


Adel mengangkat kepalanya, dia mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang suami, menatapnya dengan seksama dengan sedikit tersenyum.


'Tidurnya nyenyak banget, lagi mimpi'in apaan sih, mulutnya sampai menganga gitu.'

__ADS_1


Ucapnya dalam hati dengan wajah tersenyum lebar.


Setelah puas menatap wajah sang suami yang sedang tertidur pulas, dia pun turun dari atas ranjang, berdiri dan berjalan keluar kamar.


Ceklek


Adel membuka pintu kamar dengan sangat pelan, dia pun berjalan dengan suara kaki yang tidak terdengar, Adel berjalan di dalam rumah, melihat ke sekelilingnya dengan wajah yang datar, ternyata tinggal di rumah besar dan mewah tidak membuatnya senang sama sekali.


Padahal dulu dia pernah berkeinginan untuk mempunyai dan tinggal di rumah seperti itu, namun sekarang setelah mimpinya terwujud, hatinya malah di Liputi kehampaan, tapi bukan berarti dia tidak bahagia menikah dengan suaminya, hanya saja dia merasa rumah yang sangat besar itu terasa sepi dan hampa tanpa kehadiran ibundanya.


'Andai saja ibu ada disini, mungkin aku tidak akan merasa kesepian seperti ini.'


Adel berucap dalam hatinya.


Dan jauh di kota kecil di dalam rumah berukuran sepuluh kali lipat dari rumah milik Leonardo, ibu Sarah tampak sedang meringkuk di atas pembaringan di dalam kamar.


Dirinya pun merasa tidak bisa tidur karena terlalu merindukan sang putri, yang kini telah ikut dengan suaminya, rumahnya terasa sepi tanpa gelak dan tawa dari Adelia yang selalu terlihat ceria.


Seperti sebuah ikatan batin, ibu dan anak itu sedang saling memikirkan dan merindukan masing-masing, andai saja jarak dari rumah ibu Sarah ke kota tidak terlalu jauh, mungkin ibu Sarah sudah mengunjungi sang putri untuk mengobati kerinduannya.


____---___


Adelia masih menatap ke sekeliling rumah, dia pun di buat penasaran dengan satu buah kamar yang terlihat tertutup rapat dan berada di paling ujung lantai satu kediamannya, untuk mengobati rasa penasarannya, dia pun membuka pintu dan menyalakan lampu.


Kamar itu lebih terlihat seperti ruang kerja, dengan hanya terdapat meja berukuran sedang lengkap dengan kursi layaknya di dalam kantor, selain itu terdapat juga satu setel kursi lengkap dengan Televisi LED 42 inci.


Adel pun duduk di kursi yang terdapat meja kantor, melihat-lihat keadaan meja yang terlihat kosong namun bersih seolah tanpa debu sedikitpun.


'Mejanya bersih banget, padahal seperti jarang di gunakan, bi Inah memang rajin, ruangan kosong pun selalu di bersihkan.'


Gumamnya pelan.


Tiba-tiba saja lengannya meraih sebuah laci yang terdapat di dalam meja tersebut. Isi dari laci itu tampak biasa saja, hanya terdapat bulu tebal dan beberapa lembar kertas, namun mata Adel di buat penasaran dengan bingkai Poto yang tergeletak di dalamnya dengan keadaan tertelungkup.

__ADS_1


Adel pun meraih bingkai Poto tersebut dan menatap nya, matanya di buat heran seketika saat melihat orang yang berada di dalam Poto, Adel pun mengerutkan kening serta menautkan alisnya, namun yang lebih membuatnya terkejut adalah, tiba-tiba saja pintu kamar itu di buka secara paksa membuatnya menjatuhkan bingkai Poto itu saking terkejutnya.


____________--------------______________


__ADS_2