Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Berduka Cita


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok ...


''Permisi ... Apa benar-benar ini rumah Adelia Fasha istri dari laki-laki bernama Leonardo ...?'' tanya Alex berdiri di depan pintu.


''Daddy ...? Akhirnya datang juga ...'' Amora berdiri lalu berjalan menghampiri sang Ayah dan memeluknya.


Leo dan Adelia pun terkejut mendapati pria itu ada di sana, karena mereka memang belum sempat mengabari tentang kabar duka kepada sahabatnya tersebut.


Leo segera berdiri dan menghampiri Alex dan tersenyum sumringah lalu memeluk sahabatnya sesaat setelah Amora melepaskan pelukannya.


''Alex ... terima kasih sudah datang,'' ucap Leo.


''Sama-sama, tentu saja aku akan datang, sahabatku sedang tertimpa musibah masa aku diam saja,'' jawab Alex mengusap punggung sahabatnya.


''Tapi, darimana kamu tahu kabar ini, perasaan aku belum bilang apapun sama kamu,'' tanya Leo melepaskan pelukan.


''Calon mantu mu yang cantik ini yang ngasih kabar, dia menelpon aku tadi,'' jawab Alex menatap wajah putrinya, membuat Amora tersipu malu.


''Oh begitu ...?''


''Aku turut berdukacita, Leo. Aku yakin ibu mertuamu sudah tenang di alam sana,'' ucap Alex memasang wajah serius.


''Iya, makasih, Lex ...''


''O iya, aku mau ngucapin bela sungkawa juga sama kamu Adelia, aku turun merasa sedih dengan berpulangnya ibumu, semoga beliau bahagia dan tenang di sisinya ...'' ucap Alex, berjalan menghampiri lalu berdiri di depan Adelia, mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Meski sedikit enggan, Adelia menerima uluran tangan Alex, dengan sedikit tersenyum.


''Terima kasih, Alex ...'' jawab Adel datar.


Leo yang melihat tangan istrinya di genggam kuat oleh sahabatnya, segera berjalan menghampiri lalu melepaskan genggaman tangan Alex dengan sedikit bertenaga.


''Sudah jangan lama-lama salamannya, nanti tangan kamu kesetrum lagi ...'' ucap Leo, membuat Alex sedikit terkekeh.


''Oke ... Oke ...'' jawab Alex.


''Silahkan duduk, Lex,'' pinta Leo.


''Kita duduk di luar saja, sepertinya udara segar sekali di luar sana,'' Alex menolak dan lebih memilih berjalan keluar rumah dan duduk di teras, diikuti oleh Leo kemudian.

__ADS_1


''Kamu pasti sedih sekali, aku dengar kamu sangat dekat dengan ibu mertuamu itu,'' ucap Alex, sesaat setelah keduanya duduk berdampingan.


''Sangat ... aku sangat sedih, beliau sudah aku anggap seperti ibu kandung'ku sendiri, apalagi mengingat masa lalu, dia merawat ku dengan sepenuh hati dulu saat aku terluka dan hilang ingatan,'' Leo kembali melayang mengingat masa lalu.


''O ya ...? jadi waktu kamu menghilang selama satu tahun itu kamu berada di sini, dan hilang ingatan?''


Leo mengangguk pelan.


''Pantas saja, aku cari kamu kemana-mana gak ketemu, di sini ternyata, hilang ingatan pula, pantas kamu gak pulang-pulang waktu itu,'' ucap Alex tersenyum.


''Ish ... dasar kamu, jangan bahas masalah itu.''


''Ha ... ha ... ha ...! jangan khawatir, aku udah melupakan masa lalu, ko."


"Syukurlah ...!" Leo menarik napas tenang.


''Apa kamu menangis?'' tanya Alex menatap wajah Leo yang terlihat sembab.


''Apa ...? emangnya kenapa kalau aku nangis?''


''Aku pikir pria keras kepala seperti kamu gak bisa nangis ... ha ... ha ... ha ...''


''Aku tau, kamu jadi lembut berkat mendiang ibu mertuamu 'kan? dulu kamu kasar, arogan, kejam pula, adikku saja sam-'' Alex tidak meneruskan ucapannya, tidak ingin membuat sahabatnya itu kembali merasa bersalah.


''Iya, Lex. Sejak bertemu dengan ibu Sarah, dan istriku 16 tahun yang lalu, kehidupanku berubah total, dia mengajarkan aku banyak hal, membimbing aku ke jalan yang lurus, dia bahkan tidak marah sedikitpun saat tau bahwa aku sebenarnya adalah seorang Mafia, dia pun mengajari aku bagaimana caranya menjalani hidup dengan benar, itu sebabnya, aku sangat merasa kehilangan beliau sekarang,'' jelas Leo, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


''Nah, 'kan mewek lagi, cengeng banget si?''


''Ha ... ha ... ha ... kurang ajar kamu, terus aja ngeledek aku,'' Leo sedikit tersenyum mengusap air mata di pelupuk matanya yang hampir saja berjatuhan.


''Ha ... ha ... ha ...! Maaf, aku hanya ingin menghiburmu, Leo."


Keduanya pun tertawa bersama, dan Leo benar-benar terhibur dengan ledekan yang keluar begitu saja dari mulut Alex.


"Aku yakin kamu, kuat. Menangis'lah sepuasnya, karena dengan menangis perasaan kamu akan lebih lega, aku tahu, karena aku pernah merasakan sakitnya kehilangan," ucap Alex merubah raut wajahnya menjadi serius sekarang.


"Makasih, Lex. Berkat kamu, kesedihan aku sedikit berkurang, kalau urusan menangis aku sudah melakukannya tadi, aku gak perlu lagi menangis di hadapanmu, aku gak mau terlihat menyediakan di matamu, nanti wibawa ku bisa turun," jawab Leo.


"Ish ... Dasar, sikap sombong kamu itu memang sudah mendarah daging."

__ADS_1


"Ha ... ha ... ha ... Seperti itulah aku ..."


🌹🌹


Keesokan harinya.


Revan, terlihat sedang mengendarai mobilnya, bersama sang putri, Ayu. Yang meminta dirinya menemani putrinya tersebut mendatangi rumah kekasihnya.


"Kamu ini, lagi sakit juga, masih saja bela-belain datang ke sini, kalau kamu sampai sakit lagi gimana? bukannya nanti dulu tunggu kondisi kamu benar-benar pulih,'' gerutu Revan kesal.


''Kalau ayah gak mau antar, biar aku pergi sendiri, Ayah bisa turunkan aku di sini sekarang juga,'' jawab Ayu datar.


''Ish ... dasar anak keras kepala, sifat keras ibumu benar-benar menurun kepadamu, Ayu. Kepala batu ...''


Ayu hanya terdiam memasang wajah cemberutnya.


''Apa dia pacar kamu? Sekalian kenalkan Ayah sama dia, ayah ingin kenal lebih dekat dengan pacarmu itu, ayah juga ingin tahu dia anak siapa dan berasal dari keluarga mana?''


''Untuk apa? Ayah gak perlu kenalan sama dia, aku malu memperkenalkan ayah, apa ayah lupa kemarin ayah bertengkar dengan ibu di depan dia? aku malu sekali sebenarnya.''


''Oh yang itu, maaf ayah hilang kendali waktu itu,'' jawab Revan, tanpa menoleh, matanya lurus menatap jalanan.


''Ayah sudah sering hilang kendali, apa ayah tau aku seperti ini karena siapa? karena ayah, untung pacar aku datang tepat waktu, jika tidak? mungkin aku sudah wafat sekarang,'' lirih Ayu, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil dengan mata yang menatap ke arah samping, melayangkan tatapan kosong.


Revan hanya terdiam, tatapannya memang menatap jalanan, namun pikirannya melayang, ada rasa bersalah yang terselip di dalam lubuk hatinya kini.


Setelah menempuh perjalanan hampir selama 6 jam, akhirnya mobil Revan tiba juga di desa dimana pacar dari sang putri berada, dia nampak menoleh ke arah Ayu yang terlihat sedang tertidur.


''Ayu, sayang. Kita sudah sampai di desa yang kamu sebutkan tadi, tapi Ayah gak tau rumah pacar kamu dimana?''


Ayu sedikit membuka mata, kemudian dia merentangkan kedua tangannya lalu menguap dengan mata yang menatap ke arah luar.


''Kita sudah sampai?'' tanya Ayu, mengedipkan pelupuk matanya.


''Iya, tapi ini rumah pacar kamu dimana? kalau kita sampai nyasar gimana?''


''Tunggu, yah ...! Lihat bendera yang berwarna kuning di depan itu? coba berhenti di depan sana, kita tanya sama orang sedang duduk itu ...'' ucap Ayu, menatap gang kecil yang terdapat bendera berwarna kuning.


__ADS_1


___________-------------___________


__ADS_2