
Axel kini telah kembali ke Rumah Sakit, dia berjalan di lorong Rumah Sakit dengan langkah yang terlihat gontai, dan wajah sedikit melamun, matanya lurus melangkah ke depan namun sebenarnya dia melayangkan tatapan kosong. Pikirannya pun melayang entah kemana.
Saking larut'nya dalam lamunan membuat tubuhnya hampir saja menabrak tiang besar yang berada tepat di hadapannya, El pun segera tersadar, saat tiang itu hampir saya menyentuh tubuhnya yang sedang berjalan.
Tidak sanggup lagi meneruskan langkahnya yang terasa begitu berat, akhirnya dia duduk bersandar tiang tersebut dengan tangan yang memeluk kedua lututnya, wajahnya pun menunduk menatap lantai, merasakan kesedihan yang mendalam.
Pikirannya pun kembali melayang, apakah dia serius dengan apa yang dia katakan kepada pria yang bernama Gabriel itu? Apakah kembarannya akan baik-baik saja jika pria itu tidak mempertanggungjawabkan perbuatannya?
Apakah dirinya juga akan baik-baik saja, jika melihat Axela, adik yang sangat dia sayangi terpuruk dan menanggung malu seumur hidupnya karena telah dinodai oleh pria yang bernama Gabriel?
Belum lagi, bagaimana perasaan ibundanya jika sampai dia tahu bahwa kembarannya telah melanggar janji untuk tidak pernah melewati batas dalam berpacaran? hatinya pasti akan sangat hancur jika sampai beliau tahu putri kesayangannya sebenarnya sudah tidak suci lagi?
Akh... hati El sungguh berada di ambang Dilema, di satu sisi dia menyesal telah mengatakan kata-kata tersebut kepada Gabriel, namun di sisi lain, dia memang tidak pernah setuju apabila Axela sampai berpacaran apalagi menikah dengan pria brengsek yang bahkan belum jelas identitasnya.
Air matanya pun perlahan berjatuhan, betapa sakit'nya hati Axel mengingat apa yang telah terjadi dengan kembarannya tersebut, sebagai saudara kembar, El benar-benar dapat merasakan kesakitan yang sama yang saat ini di rasakan oleh Axela.
Axel terus berada di sana selama hampir satu jam, sampai akhirnya Amora melintas dan melihat dirinya, dia pun terkejut lalu berlari menghampiri, segera berjongkok tepat didepan kekasihnya.
''Axel, sedang apa kamu di sini?'' tanya Amora dengan wajah cemas.
Amora menatap tubuh sang kekasih yang masih berada keadaan keadaan menunduk memeluk kedua lututnya.
Axel pun mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Amora, rahangnya terlihat basah dengan air mata, dan bola matanya terlihat sangat merah, di tambah luka lebam yang terdapat di rahangnya, membuat Amora dilanda rasa penasaran sekaligus khawatir dengan apa yang lihatnya sekarang.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasihnya tersebut? padahal mereka baru saja merasakan kebahagiaan karena telah resmi berpacaran.
''Wajahmu kenapa, sayang? apa kamu baru saja berkelahi? dengan siapa?'' tanya Amora dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
''Al, sedang apa? apa dia sudah bangun? di sana ada siapa saja?'' lirih El dengan suara pelan dan pilu terdengar.
''Dia sudah bangun ko, tadi aku sempat ngobrol sama dia, Tante Adel pulang dulu, katanya dia mau ambil pakaian ganti sekaligus istirahat sebentar di rumah,'' jawab Amora masih dengan mata yang memandang lekat wajah kekasihnya.
Axel pun bangkit lalu berdiri.
''Ayo kita kembali ke kamar, kasian dia kalau di tinggalkan sendiri.''
El pun berjalan menuju kamar, dengan di ikuti oleh Amora di belakangnya, sebenarnya masih banyak yang ingin Amora tanyakan kepada kekasihnya, namun dia tidak memaksa kekasihnya tersebut untuk menjawab pertanyaan dirinya saat itu juga, dia akan bertanya lagi nanti saat perasaan Axel sudah sedikit tenang.
Ceklek...
__ADS_1
El membuka pintu kamar, berjalan dengan mata yang menatap ke arah Axela yang saat ini sedang menatap keluar jendela, melayangkan tatapan kosong. Kemudian dia pun menoleh ke arah kembarannya.
''Kamu darimana?'' lirih Al menatap wajah kembarannya dengan tatapan sayu.
''Maaf, tadi aku keluar sebentar, gimana keadaan kamu, Al...? apa sudah sedikit baikan sekarang?''
El berdiri tepat di samping tempat tidur Axela, dia meraih jemari kembaran'nya lalu menggenggam, seraya mengusap lembut punggung tangannya.
''Iya, aku sudah tidak apa-apa sekarang, berkat kalian semua...'' jawab Al dengan senyum yang sedikit di paksakan.
''Syukurlah, aku tenang mendengar'nya.''
''Wajah kamu kenapa, El? apa kamu habis berkelahi?'' Al mengusap luka lebam si wajah kembarannya.
''Oh, ini...? nggak ko, tadi aku ke bentur tembok, sakit...''
''Bohong...''
''Beneran gak bohong, tanya Amora, iya kan, sayang...?'' El menoleh ke arah Amora lalu mengedipkan satu matanya.
''Oh, iya... eu anu tadi dia ngelamun, padahal lagi jalan, jadinya nabrak tiang deh,'' jawab Amora dengan sedikit terbata-bata.
''Gabriel maksud'mu?''
Al mengangguk dengan wajah muram.
''Nggak, ngapain aku berkelahi sama dia, gak penting banget tau, lagian dia bukan siapa-siapa kamu, kan?''
Axela terdiam, lalu menunduk.
''Al...? kenapa muka kamu mendadak murung begitu?''
Al menggelengkan kepalanya masih dalam keadaan menunduk.
''Sini... aku peluk...''
El meraih tubuh kembarannya, memeluknya begitu erat di dalam dekapannya, seraya mengusap rambut panjang Axela.
''Udah... udah jangan sedih terus akh, kemana wajah cerianya seorang Axela, heuh...?''
__ADS_1
Al kembali tersenyum.
''Rambutmu bau, Al...! sini biar aku ikat, biar baunya nggak ke cium kemana-mana.''
El melepaskan pelukan, dia pun mengambil sisir dan sebuah ikat rambut lalu menyisir rambut Axela.
''Nanti kalau sudah sembuh, aku sama Amora bakal anterin kamu ke salon, ya. Rambutmu ini harus di creambath, bau banget...!''
''Ikh... apaan sih, namanya juga orang sakit...'' Al sedikit mengerucutkan bibirnya.
El pun masih menyisir rambut panjang saudara kembarnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, meraih helai demi helai rambut panjangnya lalu mengingatnya di ujung kepala, setelah itu El mengecup pucuk kepala Axela dengan perasaan yang masih berkecamuk sebenarnya.
''Nah, sudah selesai... kalau begini kan gak ke cium baunya...''
''Makasih, ya. Tumben hari ini baik banget.''
''Emang biasanya gak baik?''
Al menggelengkan kepalanya, seraya tersenyum.
''Dih, dasar...!'' El mencubit kedua sisi pipi Axela.
''Aw... sakit tau...''
Amora yang berada di sana hanya bisa menatap kebersamaan kedua saudara kembar itu dengan tersenyum, tersentuh sekaligus terharu dengan eratnya ikatan kasih sayang yang di tunjukan oleh kekasihnya tersebut.
Sungguh dia merasa beruntung memiliki kekasih yang baik dan penyayang seperti Axel, hatinya pun diliputi rasa syukur karena telah di perkenalkan dengan keluarga besar Leonardo.
Namun dia sama sekali tidak menyadari bahwa ayahnya dengan ayah kekasihnya tersebut pernah bermusuhan, bahkan orang yang telah menyebabkan sang ayah kehilangan satu kakinya adalah Leonardo, ayah dari Axel, kekasihnya saat ini.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, apabila kedua orang tua mereka tahu bahwa putra putri nya kini berpacaran? Apakah dendam itu masih ada atau sudah kelar?
Di tunggu Episode selanjutnya...
❤️ ❤️ ❤️
__________-----------__________
Promosi
__ADS_1