
Adel melepaskan pegangan ibunya, dia berdiri lalu menghampiri para preman, Adel terlihat tidak merasa takut sama sekali. Wajahnya sedikit di angkat lalu dia berucap.
''Mau apa lagi kalian ke sini? kami kan sudah membayar lunas hutang kami semuanya?''
''Lunas? Lunas kepalamu? yang kalian bayar itu baru pinjaman pokoknya, Bunga nya belum di bayar, dasar bodoh,'' ucap ketua preman mendorong bahu Adel dengan satu jarinya.
''Bunga apaan? waktu itu kita bayar dengan bunganya juga kan? jangan kalian pikir aku takut dengan kalian, ya,'' ujar Adel dengan mata melotot dan wajah masih di angkat ke atas.
''Dasar gadis kurang ajar,'' jawab ketua preman hendak memukul Adel, namun dengan cepat tangan Axel meraih tangannya dan melepaskannya secara kasar.
''Hey...! jangan berani berani menyentuh dia, apa kalian tidak malu melawan perempuan dengan beramai ramai? itu namanya pengeroyokan, kalian bisa masuk penjara, lho,'' ucap Axel kesal.
''Siapa kamu? ikut campur saja dengan urusan kita? mau kami hajar? hah...!'' ujar Preman itu dengan suara tinggi.
''Aku suaminya,'' ucap Axel santai.
Adel membelalakan bola matanya, lalu menatap Axel dengan tatapan tajam. Namun dia tidak berani mengelak, atau menolak pernyataan Axel, hanya alisnya saja yang tampak di kerut kan.
''Ha... ha... ha...! sejak kapan perawan tua ini menikah? aku sama sekali tidak percaya kalau kamu adalah suaminya,'' jawab preman tertawa dan merasa tidak percaya.
Merasa tersinggung karena Adel di sebut perawan tua, Axel pun naik pitam, dia menghantam pria tersebut dengan tinjunya yang tepat mengenai perut gendutnya.
''Arrghh...! dasar kurang ajar, kalian, cepat hajar dia,'' pinta ketua preman kepada anak buahnya, yang terdiri dari lima orang dan berdiri di belakang dirinya.
Tanpa pikir panjang, para preman itu maju secara bersamaan, hendak menghantam, menendang bahkan meninju Axel, namun dengan begitu lihainya, Axel menepis semua tangan dan hantaman yang hendak di layangkan kepadanya, dan dalam sekejap mata mereka berlima tersungkur di atas tanah, lalu berdiri kembali.
Adelia pun tak hanya diam, dia ikut mambantu Axel melawan para preman itu, meski dia tidak pandai bela diri, namun Adel ikut menghantam para preman itu dengan memukulnya menggunakan wajah yang biasa di pakai ibunya untuk menggoreng.
''Dasar preman tak tahu diri, rasakan kamu,'' ucapnya kepada preman yang hendak menghampiri dirinya, seraya memukulnya dengan panci.
''Arrgghh...!" preman itu meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Axel dan Adel berhasil mengalahkan ke lima preman beserta bos nya itu, dengan begitu lihai dan dan terampil Alex menunjukan keahliannya dalam berkelahi, memukul, menghantam bahkan menendang, semua itu dia lakukan tanpa merasa kaku sama sekali.
__ADS_1
"Awas ya kalian berdua, aku pasti akan balik lagi ke sini," ucap ketua preman dengan wajah penuh dengan luka.
"Silahkan kembali, kalau mau di hajar lagi kayak gini," jawab Axel mengepalkan tangannya.
Para preman itu berlari meninggalkan tempat itu, merasa takut jika kepalan tangan Axel kembali menghantam mereka.
"Pergi yang jauh, jangan balik lagi," ujar Adel berteriak.
Ibu yang sedari tadi hanya terdiam ketakutan, menghampiri Adel dan juga Axel sambil membolak balikkan tubuh keduanya, memeriksa apakah ada yang terluka.
"Apa kalian baik baik saja?'' tanya ibu dengan wajah cemas.
''Kami baik baik saja Bu, ibu tak usah khawatir,'' jawab Axel tersenyum.
''Iya Bu, kami berhasil mengalahkan preman itu, ibu lihat kan? tadi aku memukul preman jelek itu, menggunakan ini?'' jawab Adel menunjukan wajah yang sudah terlihat penyok di tangannya.
''Wajan ibu jadi rusak, padahal ini satu-satunya yang ibu punya,'' ucap ibu dengan raut wajah sedih, lalu meraih wajan itu dari tangan Adel.
Ibu mengangguk lalu tersenyum. Mereka pun kembali duduk di teras rumah, Axel meraih kembali piring yang berisi nasi yang tadi sedang ia makan.
''Dasar preman sialan, ngeganggu waktu makan ku saja,'' Axel menggerutu sambil memasukan nasi ke dalam mulutnya.
''Axel...! tadi aku perhatikan sepertinya kamu pandai bela diri? siapa kamu sebenarnya? sepertinya kamu sudah biasa berkelahi?'' tanya Adel merasa penasaran.
Axel termenung sejenak, lalu berfikir sambil terus mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya.
''Iya juga ya? aku gak sadar melakukannya, apa aku juga preman sepertu mereka? tubuhku seperti sudah terbiasa berkelahi,'' jawabnya merasa heran.
''Ibu juga memperhatikan, kamu sangat lihai lho, dan tidak merasa takut menghadapi mereka, ibu jadi penasaran dengan identitas mu yang sebenarnya,'' ucap ibu menatap wajah Axel.
Mereka bertiga terdiam sejenak, memikirkan tentang apa yang sedang mereka bicarakan, ketiganya merasa penasaran dengan identitas Axel yang sebenarnya.
Saat mereka sedang berfikir, tiba tiba-tiba saja Adel merasa terkejut, melihat darah segar yang terlihat membasahi pelipis wajah Axel.
__ADS_1
''Ya ampun Axel, kepala mu berdarah,'' ucap Adel panik.
''Benarkah?'' tanya Axel lalu meletakan piring di atas teras dan mengusap pelipis di wajah dengan satu tangannya.
''Memangnya tidak merasa sakit?'' tanya Adel merasa khawatir.
Axel menggelengkan kepalanya. Adel masuk ke dalam rumah dan mengambil kotak P3K yang selalu dia sediakan.
''Sini obati dulu luka mu.''
Adel duduk tepat di samping Axel, dia meraih wajah tampa Axel dengan kedua tangannya, menyibakkan poni Axel yang memenuhi dahinya. Ia pun membersihkan sedikit di sedikit darah yang membasahi pelipis wajah Axel dengan kain basah.
''Aaww...! pelan pelan, sakit, Del...!'' Axel meringis kesakitan.
''Tahan sebentar, gak lama ko,'' jawab Adel sambil terus membersihkan lukanya.
Wajah mereka berada sangat dekat, Axel pun dapat melihat bentuk wajah Adel begitu jelas, ia terus menatap wajah itu dengan sedikit tersenyum, tanpa di sadari oleh gadis itu sendiri, karena matanya hanya fokus kepada luka yang sedang dia bersihkan.
Sekejap kemudian Adel pun tersadar, bahwa sepasang mata bulat berwarna hitam sedang menatap wajahnya sambil tersenyum, jantungnya terasa berdetak sangat kencang seketika, merasa gugup ia pun menghentikan aktivitas nya.
''Nih, obati sendiri,'' ujar Adel melemparkan kain basah yang ia gunakan ke atas pangkuan Axel, lalu berdiri dan pergi dari hadapan laki laki itu.
Wajahnya tampak memerah, tatapan mata Axel padanya membuat hatinya bergetar dan jantungnya terasa berdetak begitu kencang, hingga dia pun tak sanggup lagi duduk berdekatan dengan laki-laki tampan itu,dan memilih untuk pergi.
''Adel...! kamu mau kemana? terusin, aku mana bisa ngobatin luka ini sendiri?'' tanya Axel dengan suara yang sedikit di keras kan sembari menatap Adel yang pergi meninggalkan nya begitu saja.
''Sudah, sini sama ibu saja,'' ibu menawarkan diri.
Axel mengangguk sambil tersenyum senang.
Dengan tangan lembut nya, ibu membersihkan luka itu lalu mengoleskan obat luka, meski terasa perih, Axel mencoba menahannya, karena tangan ibu terasa sangat hangat menyentuh luka di pelipis wajahnya.
_____________--------------______________
__ADS_1