
Sementara itu, di waktu yang sama, Revan baru saja hendak memasuki ruangan di dalam klub, ruang khusus yang memang sengaja di pesan oleh Leo dan Alex.
Revan mengulurkan tangannya hendak membuka pintu, namun, tiba-tiba saja ponselnya berdering, Revan sontak menghentikan gerakan tangannya, dan merogok ponsel yang berada di saku jas hitam yang dikenakannya.
📞 ''Halo ... Ada apa ...?'' Revan mengangkat telpon, berbicara dengan perasaan kesal sebenarnya.
📞 ''Anu, bos. Uhuk ... Ada penyusup yang menerobos masuk ke dalam rumah ...'' ucap salah satu penjaga yang ada di rumah Revan, dia masih menyempatkan menelpon meski sedang dalam keadaan terluka parah.
📞 ''Apa ...?''
📞 ''Iya, bos. Dan mereka membawa Non Ayu ...''
📞 ''Brengsek ...'' jawab Revan menutup telpon seketika itu juga.
Revan pun hendak berbalik meninggalkan tempat itu, namun, tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut di buka dan Leo berdiri di depan pintu dengan tersenyum menyeringai bersama Alex yang juga berdiri tepat di sampingnya.
''Mau kemana kamu Revan? baru juga datang sudah mau pulang lagi, apa kamu benar-benar takut bertemu dengan aku?'' ucap Leo dengan nada suara yang terdengar mengejek.
''Kurang ajar kamu Leonardo, kamu sengaja memanggil aku ke sini, agar anak buah'mu bisa dengan leluasa masuk ke dalam rumahku 'kan?'' tanya Revan geram.
''Ha ... ha ... ha ...! Apa maksud kamu Revan, aku gak ngerti dengan apa yang kamu katakan?''
''Jangan berkelik, kamu memang licik, aku akan segera melaporkan hal ini pada polisi atas tuduhan pembobolan sekaligus penculikan.''
''Silahkan saja, aku sama sekali tidak takut dengan ancaman kamu, aku pun bisa melaporkan kamu, memberitahukan kepada polisi bahwa kamu adalah agen pembunuh bayaran, dan sudah banyak orang yang kamu bunuh dengan tanpa perasaan,'' jawab Leo penuh percaya diri.
''Ha ... ha ... ha ... Apa kamu tau, kalau kamu melaporkan itu, maka menantu kesayangan kamu itu akan masuk penjara bersamaku ...?''
''Tidak masalah, itu artinya dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan dia hanya menerima perintah darimu, kamu tau, kamu yang akan dihukum berat, kalau menantuku itu paling hanya akan di hukum beberapa tahun saja,'' jawab Leo tidak merasa gentar sama sekali.
''Kurang ajar ... kamu memang bajingan Leonardo.''
''Sudah cukup perdebatannya, sekarang lebih baik kita masuk dan bicarakan semuanya di dalam, bukankan kita sudah sepakat akan membicarakan hal ini,'' ucap Alex menengahi.
''Cuih, aku sama sekali gak Sudi harus berbicara sama kalian berdua, aku akan pulang sekarang juga, dan menangkap para penyusup yang sudah lancang masuk ke dalam rumahku, dan kalau mereka sampai tertangkap, aku akan membunuh mereka sekarang juga, mengerti kamu ...'' Revan terlihat serius dengan ucapannya.
__ADS_1
''Coba saja kalau berani, aku gak akan pernah membiarkan kamu melukai anak buah'ku, apalagi anak-anak aku,'' jawab Leo dengan rahang yang dikeraskan.
''Apa jangan-jangan penyusup yang masuk ke rumahku itu adalah putramu? bagus kalau begitu ...''
Revan meraih ponsel, lalu menelpon seseorang.
📞 ''Halo ...! Cepat kejar siapapun yang masuk ke rumahku, dan langsung tembak di tempat kalau kalian berhasil menemukan mereka,'' ucap Revan segera menutup telpon.
Leo mengepalkan kedua tangannya, wajahnya nampak memerah menahan amarah, matanya pun membulat sempurna, menatap wajah Revan dengan tatapan penuh kebencian.
Hampir saja, Leo terprovokasi dengan ucapan Revan, dia hendak memukul musuhnya itu, untungnya, Alex segera menenangkan, dan berbisik di telinga sahabatnya tersebut.
''Tenang, Leo. Ini bukan waktu yang tepat untuk bertarung dengan dia, lebih baik kita segera hubungi menantu-mu, dan bertanya mereka masih ada di sana atau tidak,'' bisik Alex.
Seketika, Leo menghela napas kesal, dia mengusap wajahnya kasar, lalu memutar badan agar emosinya tidak kembali terpancing.
''Dengar, Leonardo. Aku serius dengan ancaman aku ini, lebih baik sekarang kamu siapkan lubang pemakaman untuk ketiga anakmu itu, ha ... ha ... ha ...'' ucap Revan berbalik, dan berjalan meninggalkan Leonardo yang sedang dalam keadaan kesal.
''Kurang ajar, Brengsek, awas saja kalau putraku sampai terluka, aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Revan ...'' Teriak Leo.
''Tenang, Leo. Tenang ... Lebih baik kau segera telpon Gabriel sekarang, tanyakan kepadanya apakah misi sudah selesai, atau mereka masih berada di rumah itu,'' pinta Alex.
Tanpa menjawab, Leo segera meraih ponsel dari dalam saku celananya, dan segera menelpon menantunya tersebut.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara telpon yang tidak di angkat.
''Sial, dia gak akan angkat telpon, tunggu aku nelpon Lucky atau kalau tidak, aku akan menelpon Axel ...'' Gerutu Leo kesal dan mulai khawatir.
Tut ... Tut ... Tut ...
Leo menelpon Axel namun, telponnya masih tidak di angkat. Setelah itu dia menelpon putra bungsunya, namun, hasilnya masih tetap sama.
''Gimana, apa mereka bertiga tidak mengangkat telpon?''
__ADS_1
Leo menggelangkan kepalanya.
Terakhir, dia menelpon Ryan, dan akan memintanya untuk mengumpulkan anak buahnya di markas.
📞 ''Halo, Ryan. Ini aku, suruh semua anak buah-ku berkumpul di markas, ada misi penting malam ini,'' ucap Leo sesaat setelah Ryan mengangkat telpon.
📞 ''Baik, Bos.'' Jawab Ryan singkat dan langsung menutup telpon.
''Kita ke markas sekarang,'' ucap Leo berjalan cepat, membuat Alex kewalahan untuk mengejar.
''Hey, tunggu. Jangan cepat-cepat, suah tau tua bangka ini gak bisa jalan cepat,'' gerutu Alex.
''Duh, dasar kamu ini, mau aku gendong? hah ...'' jawab Leo memutar badan, namun tidak berhenti berjalan.
''Dasar, Leonardo.''
''Ck ... ck ... ck ...! gak tau apa ini lagi situasi genting, aku duluan ...'' jawab Leo akhirnya benar-benar meninggalkan Alex yang masih berjalan di belakangnya.
''Dasar tidak punya perasaan,'' gerutu Alex sedikit tersenyum.
🍀🍀
Sementara itu, Revan sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, bersama Topan yang menjadi supirnya.
''Siapkan pistol, aku serius dengan apa yang aku ucapkan tadi,'' ucap Revan dengan mata yang memerah.
''Baik, Bos. Sudah aku siapkan, peluru juga sudah terisi penuh didalamnya.'' Jawab Topan, meraih pistol dari belakang punggungnya, lalu menyerahkannya kepada Bosnya tersebut.
Revan segera menerima pistol tersebut lalu memeriksa peluru yang ada di dalamnya.
''Bagus ... Aku akan benar-benar membunuh siapapun yang tertangkap nanti, tak peduli meskipun itu Lucky sekalipun,'' ucap Revan geram.
''Tapi, Bos. Apa Non Ayu akan baik-baik saja nantinya, Lucky itu 'kan kekasih Non Ayu,'' tanya Topan sedikit khawatir.
''Aku nggak peduli, siapapun yang berani menerobos masuk ke rumahku, pasti akan aku habisi,'' jawab Revan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Topan hanya mengangguk datar, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai di kediaman bos nya tersebut.