Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menyelidiki


__ADS_3

'Sial, pake keceplosan segala lagi ...' ( Batin Briel )


''Eu, anu, om. Saya cuma nebak aja, ko. Mana mungkin saya menyelidik latar belakang ayah dari kekasih saya sendiri, apa untungnya buat saya ...?'' Briel dengan nada suara yang terbata-bata.


''Benar kamu nggak bohong?''


''Benar, om. Saya nggak bohong,'' jawab Briel dengan keringat dingin sebenarnya.


''Awas saja kalau sampai kamu berbohong,'' Ryan kembali membulatkan bola matanya membuat Briel kembali salah tingkah.


''Ba-baik, om. Eu ... Saya tidur boleh? Badan saya lelah banget, om,'' Briel tidak ingin ngobrol terlalu dalam dengan pria paruh baya tersebut, takut jika nanti dirinya kembali salah bicara.


''Heuh, dasar anak muda, ya sudah tidur sana, apa gunanya meronda jika jam segini sudah tidur,'' jawab Ryan dengan menguap, sebenarnya dirinya pun sudah sedari tadi menahan rasa kantuk.


''Tidurnya dimana, om?''


''Ya di sinilah, emang kamu maunya dimana? di kamar pacar kamu? hah ...?'' Ryan sedikit menaikan suaranya.


''Eu ... Nggak om, bukan seperti itu maksud saya. Ya sudah saya tidur sekarang ya, om.'' Ryan pun meringkuk di atas kursi dengan tubuh yang membelakangi Ryan, mencoba memejamkan mata.


Sementara Ryan, dia menatap punggung pria yang bernama Gabriel itu dengan perasaan curiga sebenarnya, tidak ada angin tidak ada hujan putri dari bosnya tiba-tiba saja punya pacar, padahal selama ini dia sama sekali tidak pernah mendengar bahwa gadis yang bernama Axela itu memiliki seorang pacar.


Akh, sungguh membuat kepala Ryan pusing tujuh keliling. Tapi ya sudahlah, dia pun tidak ingin terlalu memikirkannya, seperti kata Al tadi, yang mengatakan bahwa dirinya seperti tidak pernah merasakan muda saja, kata-kata itu seolah menyadarkan seorang Ryan bahwa, mungkin saja putri dari bosnya tersebut sedang menjalani indahnya masa muda, seperti yang pernah dia rasakan dulu.


Akhirnya Ryan pun meringkuk di atas kursi seperti yang sedang di lakukan oleh Gabriel, mencoba memejamkan mata karena sepertinya rasa kantuk itu sudah tidak dapat lagi dia tahan.


***


Keesokan harinya.


Alex kembali berkunjung ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan sahabatnya, namun kali ini dia tidak membawa serta Amora, karena putrinya tersebut harus bersekolah.


Dia berada di kamar rawat inap bertiga dengan Leo dan juga Axel yang sedang tertidur, sementara Adelia dan putra bungsunya sedang keluar untuk membeli makanan.

__ADS_1


Alex berdiri tepat di samping ranjang, sementara Leo, dia duduk bersandar bantal di belakang punggungnya.


''Bagaimana keadaan'mu, Leo?'' tanya Alex menatap wajah sahabatnya.


''Keadaan aku sudah lumayan baik, Lex. Aku punya satu permintaan padamu, maukah kamu membantuku?''


''Apa ...? katakan saja, aku akan melakukannya kalau aku mampu.''


''Apakah menurutmu apa yang terjadi padaku ini adalah sebuah kecelakaan semata? atau, memang ada yang sengaja ingin melenyapkan aku?''


Axel yang mendengar hal itu terkejut, namun dia berpura-pura terpejam dan ingin mendengar lebih banyak lagi apa yang sedang kedua orang itu bicarakan.


'Apa maksud papi? Sengaja melenyapkan ...? Apa papi punya musuh ...?' ( Batin El )


''Hmm ...! Menurutmu gimana?" jawab Alex mengerutkan kening.


"Kamu ini, di tanya malah balik nanya, aku tidak tau, makannya aku tanya kamu," Leo dengan sedikit tersenyum.


''Iya-iya, sebentar aku berfikir dulu,'' jawab Alex, kemudian dia terdiam.


''Hmm ...! Aku akan mencoba mencari tau, dan aku akan segera memberitahu'mu setelah aku mendapatkan petunjuk, tapi, apa kamu punya musuh lain, atau orang yang membencimu, mungkin ...?


''Aku tidak punya musuh lain, selain dirimu dulu, dan karena kita sudah berbaikan sekarang, itu berarti aku tidak punya musuh sama sekali.''


''Begitu ...? Eum ...! Lalu bagaimana dengan perkumpulan Mafia yang dulu kamu pimpin? apakah masih aktif sekarang?"


Deg ...


Axel lagi-lagi di buat terkejut, namun sebisa mungkin dia tidak membuka matanya dan menyembunyikan keterkejutannya dengan masih berpura-pura tertidur.


'Perkumpulan mafia? Apa Papih mantan bos Mafia? Apa lagi ini ...?' ( Batin El diliputi tanda tanya )


''Tidak, sudah lama perkumpulan itu tidak aktif, aku sudah berjanji kepada istri'ku bahwa aku akan berhenti, dan semua anak buah'ku aku pekerjaan di perusahaan aku, meski sebagian dari mereka ada yang pulang kampung juga,'' jawab Leo.

__ADS_1


Keduanya pun kini kembali terdiam, seperti'nya Alex kini sudah dapat menebak bahwa, ini benar-benar perbuatan mantan anak buahnya, Revan. Namun, untuk lebih memastikannya, dia akan bertanya langsung kepada pria itu nanti, dan menyelidikinya lebih dalam lagi.


''Aku berjanji padamu, Leo. Aku akan mencari tahu semua ini, tapi aku sarankan kamu jangan lapor polisi dulu, jika polisi sudah turun tangan, maka masalahnya akan semakin runyam, biarkan aku yang mengatasi masalah ini,'' pinta Alex.


''Baiklah, aku akan meminta Ryan untuk mencabut laporan di kantor polisi.''


Trok


Trok


Tiba-tiba pintu pun di ketuk, dan Axela masuk kedalam kamar, wajah Al nampak begitu ceria, mengenakan rok jeans mini berwarna abu dengan pasangan t-shirt berwarna putih polos, dia sengaja mengajak Gabriel yang memang akan dia kenalkan kepada kedua orang tuanya, Leo dan Alex pun menoleh ke arah pintu, dan menatap Al yang berjalan masuk bersama seorang pria


''Selamat pagi, pap, om Alex...!'' Sapa Al, seraya berjalan mendekat.


''Selamat pagi, Al. Dia siapa?'' tanya Leo mengerutkan keningnya.


''Hm ...! Pap ...! Kenalkan dia pacar aku,'' jawab Al berdiri di samping Alex.


''Pacar ...? sejak kapan kamu punya pacar?'' Leo mengerutkan kening seraya menatap wajah Gabriel, yang terlihat sangat gugup sekarang.


Sementara Gabriel, di terpaku, tubuhnya seolah membeku dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya, sebenarnya dia sendiri merasa ketakutan, takut kalau ayah dari kekasihnya tersebut mengenali dirinya.


Di tambah lagi, Leo dan juga Alex menatap wajahnya dengan tatapan tajam, membuat pemuda itu semakin gemetar sebenarnya.


''Hmm, Briel cepat Salami papi aku,'' Al sedikit berbisik, meminta Briel menyalami dan berkenalan dengan sang ayah.


Briel yang sedang dalam keadaan setengah melamun, segera memajukan langkahnya, dan mengulurkan tangannya, dengan tangan yang terlihat gemetar, membuat Leo semakin curiga.


''Perkenalkan, om. Nama saya Gabriel, sa-ya pacar putri om,'' ucap Briel dengan nada suara yang sedikit terbata-bata.


Leo menerima uluran tangan pemuda itu, matanya masih menatap tajam, dan menggenggam erat telapak tangan Gabriel, bahkan dengan sedikit bertenaga, membuat tangan Briel sedikit merasa kesakitan.


''Gabriel ...? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, kenapa wajahmu serasa tidak asing ...?'' ucap Leo, membuat Briel membulatkan bola matanya, dan hendak menarik telapak tangan yang kini di genggam dengan begitu kuat oleh ayah dari kekasihnya tersebut.

__ADS_1


'Apa dia mengenaliku? Apa yang akan aku lakukan sekarang?' ( Batin Briel merasa ketakutan )


______________--------______________


__ADS_2