Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Kuat


__ADS_3

Sudah lebih dari dua Minggu Ayu dalam keadaan koma. Kondisinya bahkan tidak menunjukkan kemajuan apapun, keadaan dia masih tetap saja saat pertama kali Ayu jatuh koma.


Lucky dengan setia selalu menemani kekasihnya itu di Rumah Sakit, bahkan sesekali dia pun membersihkan tubuh Ayu yang seperti tertidur dengan begitu lelapnya.


Dua hari lagi, seharusnya mereka sudah mulai masuk sekolah, sebenarnya Lucky dan Ayu sudah mendaftar di sekolah yang sama, Sekolah Menengah Atas pavorit dan terbaik di kota itu, namun, Lucky sama sekali tidak memiliki semangat untuk bersekolah.


Pagi ini, Lucky nampak baru saja datang, menggantikan kedua orang tua Ayu yang baru saja pulang untuk beristirahat. Lucky berdiri tepat di samping ranjang membawa menggenggam sapu tangan berwarna putih lengkap dengan air hangat, siap untuk membersihkan tubuh kekasihnya itu.


''Kita bebersih dulu ya, sayang ...'' bisik Lucky di telinga Ayu, lalu mengusap mengecup keningnya lembut.


Perlahan Lucky mengusap lembut wajah pucat Ayu dengan lembut dan sangat hati-hati, setelah itu di pun mulia kebagian lainnya, dan juga dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Sejujurnya jauh di dalam lubuk hati seorang Lucky, saat ini merasakan kesedihan yang teramat dalam, namun, dia mencoba menyembunyikan semua itu di dalam hatinya, wajah seorang bahagia, namun kebahagian yang dipaksakan.


Bibirnya pun nampak tersenyum, namun senyuman palsu dan tersenyum hambar.


''Sayang, apa kamu tidak lelah berbaring terus seperti ini? apa kamu gak merindukan aku, heuh ...'' lirih Lucky, menahan rasa getir.


''Dua hari lagi kita akan mulai sekolah lho, bukankah kamu sudah tidak sabar ingin segera sekolah? Bangunlah sayang ... Aku sungguh merindukanmu, Yu ...'' lirih Lucky dengan suara yang terdengar semakin berat.


''Hmm ... tubuh kamu udah seger sekarang, aku ke kamar mandi dulu, ya ...'' Lucky benar-benar berbicara sendiri, seolah-olah kekasihnya itu bisa mendengar suaranya.


Nyatanya, yang di ajak bicara masih tertidur dengan begitu lelapnya, hanya suara monitor yang mengontrol detak jantung saja yang terdengar nyaring, menandakan jantung yang tersembunyi di dalam sana masih berdetak kencang.


Perlahan Lucky mulai berjalan ke arah kamar mandi, dia segera masuk ke dalamnya. Di dalam kamar mandi, Lucky nampak berdiri di depan cermin, menatap wajah dirinya sendiri dari pantulan cermin lalu tersenyum, namun bukan tersenyum tulus, melainkan berlatih tersenyum agar wajahnya tidak terlihat muram.

__ADS_1


Lucky pun mencoba terus tersenyum, namun, senyumannya masih saja terlihat palsu, nyatanya dia sama sekali tidak kuasa lagi menyembunyikan kesedihan yang sedari tadi dia tahan, alhasil dia pun terduduk di atas lantai kamar mandi yang dingin, tangisnya seketika pecah, seolah rasa sakit yang sekali dia coba sembunyikan kini meledak bagai bom waktu.


''Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh gak sanggup lagi melihat Ayu seperti ini, hiks hiks hiks ...'' lirih Lucky memeluk kedua lututnya dengan wajah yang menunduk.


Air matanya perlahan berjatuhan membasahi lantai kamar mandi, hawa dinginnya lantai tidak dapat lagi dia rasakan, karena hatinya memang sudah membeku.


Seketika tiba-tiba saja dia teringat ucapan sang ayah untuk meminta dirinya menjadi pria yang kuat, pria yang tangguh dan juga tidak cengeng.


Mengingat hal tersebut, Lucky pun perlahan mengangkat kepalanya, mengusap wajah tampan dengan telapak tangannya. Lucky pun bangkit lalu kembali berdiri di depan cermin, lalu kembali menatap wajahnya sendiri.


''Kamu harus kuat, Luck. Karena kamu adalah sumber kekuatan untuk Ayu, bagaimana dia bisa kuat kalau kamu sendiri lemah.''


Lucky berbicara pada diri sendiri dan mencoba menguatkan diri sendiri. Dia pun perlahan mencuci wajahnya yang terlihat pucat dengan mata yang memerah.


Setelah melakukan hal itu, Lucky nampak menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, mencoba mengatur detak jantungnya yang sempat berdetak tidak beraturan, setelah itu, diapun berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


Lucky membuka pintu kamar mandi, dan terkejut seketika saat melihat sang ibu dan juga kakak perempuannya sudah berada di sana.


''Mommy, Kakak ... kapan kalian datang? kalau tau mau ke sini, aku pasti nungguin kalian tadi, kita berangkat bareng.'' Tanya Lucky berjalan mendekat.


''Kami baru saja datang, sayang. Hmm ... Wajah kamu kenapa? apa kamu habis menangis?'' tanya sang ibu? menatap wajah Lucky.


''Heuh ... Nggak ko, aku hanya merasa lelah aja, Mom ...''


''Bohong ...'' Axela menyela.

__ADS_1


''Sayang ... Kalau kamu mau menangis, menangis saja. Gak usah di tahan, ataupun berlagak so kuat. Setiap manusia itu punya batas kesabaran, dan juga punya batas kekuatan, kamu memang harus kuat demi Ayu, tapi jika dada kamu terasa sesak, maka menangis'lah, keluarkan semua kesedihan kamu, sayang ...'' lirih Adelia, memeluk tubuh putra bungsunya.


Mendengar semua itu, seketika tangis seorang Lucky pun kembali pecah di dalam pelukan sang ibu, tangis yang selama ini dia tahan, Lucky benar-benar menumpahkan kesedihan di dalam hatinya. Kesedihan yang sebenar sudah tidak sanggup lagi untuk dia sembunyikan.


''Mom ... Bagaimana kalau Ayu tidak bangun lagi? sudah lebih dari dua Minggu dia seperti ini. Aku benar-benar takut, Mom ... Hiks hiks hiks ...'' lirih Lucky memeluk erat tubuh sang ibu.


''Jangan bicara seperti itu, Dek. Sayangnya Mommy. Percaya dan yakinlah bahwa Ayu akan bangun, Mommy yakin besok atau lusa dia pasti akan membuka mata dan kembali tersenyum bahagia. Jauh dari lubuk hati Ayu yang paling dalam dia juga pasti merindukan kamu, Mommy yakin itu. Jadi kamu harus kuat bersabar ...'' jawab Adelia mengusap lembut punggung lebar putra bungsunya itu.


''Semoga saja, Mom. Terima kasih karena telah membuat hati aku merasa lega, aku sayang Mommy.''


''Sama-sama sayang. Mommy juga sayang sama kamu ...'' jawab Adelia mengurai pelukan lalu mengusap buliran air mata yang masih saja mengalir membasahi rahang sang putra.


''Dek, kakak bawain makanan kesukaan kamu. Kakak tau kamu pasti belum makan 'kan?'' ucap Axela meletakan bungkusan di atas meja.


''Simpan saja di situ, kak. Nanti aku makan.''


''Janji di makan ya, awas aja kalau nggak di makan.''


''Iya-iya kakak, aku janji ...'' jawab Lucky dengan tersenyum menatap wajah sang kakak.


Adelia perlahan berjalan mendekat ke arah ranjang. Mengapa wajah Ayu yang terlihat semakin pucat dengan pipi yang semakin tirus. Tatapan matanya nampak menatap dengan tatapan iba.


''Ayu, sayang. Tante ada di sini, kamu cepat bangun ya, nak. Lucky sangat merindukan kamu,'' lirih Adelia mengusap lembut punggung tangan Ayu.


Tanpa di sangka, tiba-tiba saja jari Ayu sedikit bergerak, membuat Adelia sontak panik lalu tersenyum senang.

__ADS_1


''Dek, lihat. Tangan Ayu bergerak ...'' teriak Adelia tersenyum senang.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2