
''Apa kamu cemburu ngeliat mereka?'' tanya Ayu.
Lucky hanya diam tidak menanggapi, matanya masih saja menatap ke arah Emillia dan juga Alex yang terlihat saling berpegangan tangan, terlihat jelas dari raut wajah seorang Lucky, bahwa dia benar-benar cemburu melihat kebersamaan mereka.
'Apa kamu sudah benar-benar melupakan aku, Emill' ( Batin Lucky )
Sementara itu, Ayu bisa merasakan bahwa kekasihnya itu cemburu melihat mantan kekasihnya bersama pria lain, semua itu terlihat jelas dari tatapan Lucky dan raut wajahnya yang terlihat muram saat ini.
Dia pun mencoba menenangkan kekasihnya itu dengan cara memeluk tubuh Lucky dari arah depan, melingkarkan tangannya di pinggang laki-laki itu seraya menyandarkan kepalanya di dada seorang Lucky.
Tentu saja apa yang dilakukan oleh Ayu membuat Lucky segera mengalihkan pandangannya, dan menunduk menatap kepala sang kekasih yang kini tepat berada di bawah dagunya, menempel sempurna di dada bidangnya.
''Aku tau kamu cemburu melihat kebersamaan mereka, gak usah malu mengakuinya, aku juga gak akan marah, ko,'' lirih Ayu semakin mengeratkan pelukannya.
''Maaf ...!'' hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut seorang Lucky.
''Kenapa harus minta maaf segala? wajar kalau kamu merasa cemburu, kalian belum lama putus, dan pasti perasaan cintamu untuk dia masih tersisa di hati kamu.''
Lucky tidak mengatakan apapun lagi, mulutnya terasa terkunci, dadanya pun terasa panas, rasa cemburu itu benar-benar membakar sekujur jiwanya, namun, sentuhan hangat tubuh Ayu membuat rasa panas itu berangsur mereda.
Kehangatan yang diberikan oleh Ayu bagai air hujan yang menyirami api yang sedang berkobar, hingga tanpa sadar, Lucky pun membalas pelukan kekasihnya itu, begitu erat dan berharap bahwa dengan melakukan hal itu, rasa panas yang dia rasakan di dalam hatinya akan benar-benar padam.
''Gimana kalau kita berkendara satu putaran lagi?'' pinta Ayu sedikit melonggarkan pelukannya.
''Hmm ... Boleh juga.''
__ADS_1
Keduanya pun sepakat, Lucky melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah mobil lalu membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu membuat Ayu tersanjung.
Ceklek ...
Lucky membuka pintu mobil, dan Ayu segera masuk ke dalam mobil.
🌹🌹
Malam hari selesai pengajian. Seperti biasa Alex duduk berdampingan dengan Leo, menatap satu-persatu para tetangga yang perlahan meninggalkan rumah tersebut, hingga rumah pun kembali sepi hanya tinggal keluarga inti saja yang berada di sana.
Leo nampak menoleh, menatap wajah Alex yang terlihat sedikit berbeda.
''Katanya mau pulang sekarang? kenapa belum siap-siap juga? nanti kemalaman di jalan lho?'' tanya Leo, menatap Alex dari ujung kaki sampai ujung rambut.
''Gak jadi, aku gak jadi pulang malam ini,'' jawab Alex, matanya nampak menatap sekeliling mencari seseorang.
''Apa ...? Apanya yang berbeda dengan aku? bukankah setiap hari aku memang selalu berpenampilan seperti ini?'' jawab Alex, mengusap kedua sisi kepala dengan telapak tangannya, seolah sedang merapikan rambutnya yang sudah tertata rapih.
''Hmm ... tubuh kamu juga wangi, gak biasanya kamu pakai minyak wangi kayak gini, wah aku curiga, jangan-jangan kamu lagi puber kedua, ya?'' ledek Leo.
''Emangnya kalau iya, kenapa? gak boleh? Suka-suka aku dong,'' jawab Alex kembali merapikan rambutnya.
''Ish ... ish ... ish ... Dasar kamu ini. Aku justru senang ngeliat kamu kayak gini, siapa tau kalau penampilan kamu rapi kayak gini ada perempuan yang mau sama kamu, biar kamu gak membujang terus sampai tua.''
''Walah, sembarangan ... kamu pikir aku akan terus membujang sampai tua? hah ...? asal kamu tau ya, sebentar lagi aku akan segera mengakhiri masa bujang'ku ini, ha ... ha ... ha ...'' Ucap Alex setengah berbisik.
__ADS_1
''Apa ...? Kamu akan menikah? dengan siapa? siapa wanita yang mau sama tua bangka sepertimu ini, ha ... ha ... ha ...''
''Hust ... jangan keras-keras, aku malu di dengar putriku nanti.''
''Kamu pasti sedang bercanda 'kan?''
''Nanti aku ceritain deh, jangan sekarang, malu kalau di denger banyak orang,'' Alex kembali berbisik.
''Kalian ini, tiap ketemu pasti berantem, lama-lama aku kunciin juga di kamar ya, biar kalian bisa bertengkar sepuasnya,'' ucap Adelia menggelangkan kepalanya.
''Dih, mana mau aku di kunci berdua sama dia, maunya sama kamu, sayang ...!'' jawab Leo mengedipkan satu matanya tersenyum genit.
''Ish ... Aku juga mana mau di kunci berdua sama kamu, mendingan aku di kunci sama kucing betina dari pada sama kamu, Leonardo.''
''Sudah-sudah, Papi sama Om Alex ini, kalian sebenarnya saling sayang, tapi kalian malu mengakuinya, 'kan?'' timpal Axel meledek.
Alex dan Leo langsung menyambar wajah Axel dengan tatapan tajam, membuat Axel tertawa geli melihatnya.
Tidak lama kemudian, Emill bersama Amora masuk ke dalam rumah, mereka berjalan beriringan dengan senyum yang mengembang dari kedua sisi bibir keduanya, membuat Alex merasa damai melihatnya, dan berharap wanita yang bernama Emillia itu segera menjadi ibu sambung untuk Amora.
''Daddy gak jadi pulang sekarang?'' tanya Amora duduk tidak jauh tempat sang ayah berada.
''Gak jadi, sayang. Daddy memutuskan akan tinggal di sini beberapa hari lagi,'' jawab Alex menatap wajah Emillia, padahal dirinya sedang berbicara dengan putrinya.
''Dad, kenapa Daddy ngeliatin Emil kayak gitu?'' tanya Amora merasa heran.
__ADS_1
''Hus ... Kamu ini, yang sopan dong manggil sama calon ibu, Emill ... Emill ... 'Tante Emill' gitu 'kan lebih enak dengarnya,'' ucap Alex refleks, membuat Amora merasa heran begitupun dengan semua yang ada di sana.
_____________---------_____________