Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menebus Kesalahan


__ADS_3

Perlahan Briel, membuka kimono handuk yang dipakainya lalu melemparkannya ke sembarang arah, raganya yang kini polos tanpa sehelai benangpun membuat Axela sang istri menatap dengan tatapan pilu, karena sekujur tubuh kekar itu benar-benar penuh dengan luka, baik luka yang masih basah ataupun luka yang sudah mengering.


''Semenakutkan inikah pekerjaan sebagai seorang Mafia? kamu mengabaikan rasa sakit di tubuhmu demi mendapatkan uang yang jumlahnya tidak seberapa itu?'' lirih Al dengan suara yang terdengar berat.


''Aku janji, kemarin adalah yang terakhir kalinya aku melakukan hal itu, aku janji akan benar-benar berhenti menjadi seorang Mafia, menjadi suami dan ayah yang baik untuk putra kita, aku janji, sayang.'' Jawab Briel.


''Pokoknya, aku gak mau kamu terlibat lagi dengan urusan yang kayak gitu, apalagi yang membahayakan nyawa kamu, aku akan meminta Papi untuk memasukkan kamu ke kantor, agar kamu bisa ikut bekerja di sana?''


''Iya, sayang. Aku akan mengikuti semua yang kamu inginkan,'' jawab Briel, mengecup mesra bibir sang istri dengan tangan yang diletakan di perut besar Istrinya itu, mengelusnya lembut.


Axela menyambut sentuhan hangat dan kenyal di bibirnya, dia melingkarkan tangannya di leher sang suami, dengan bibir yang ditautkan.


Keduanya pun larut dalam ciu*an panas yang tentunya membangunkan gai*ah yang ada di dalam diri masing-masing.


Karena sang istri sedang dalam keadaan hamil, maka Briel melakukan hal itu dengan sangat hati-hati, lembut dan tidak terburu-buru, dia pun sengaja memancing ga*rah istrinya terlebih dahulu, sebelum dirinya benar-benar memburu kenikm*tannya sendiri.


Perlahan Briel mengecup perut buncit sang istri, memainkan lubang kecil dan berbicara seolah dia sedang benar-benar berbicara dengan bayi yang ada di dalam perut istrinya tersebut.


''Sayang, baby-nya ayah, kamu baik-baik ya di dalam sana, ayah benar-benar sudah tidak sabar menanti kehadiran kamu, sayang.'' Bisik Briel kembali mengecup lembut perut Istrinya tersebut.


Perlahan rasa perih dan rasa remuk di dalam tubuh Gabriel pun berangsur hilang tergantikan dengan kenikm*tan yang perlahan mulai dia dapatkan.


Sampai akhirnya puncak itu berhasil mereka dapatkan seiring dengan pelepasan yang diraih dengan posisi Briel memeluk sang istri dari arah belakang.


🍀🍀

__ADS_1


Sementara itu, di Rumah Sakit. Revan nampak berjalan pelan menuju ruang ICU tempat dimana putrinya dirawat dalam keadaan koma. Alex yang juga ikut menemani nampak berjalan beriringan dengan laki-laki yang pernah menjadi bawahannya tersebut.


Revan seketika menghentikan langkahnya, saat ruangan yang akan ditujunya sudah berada tidak jauh dari tempatnya berjalan saat ini. Dia menatap dengan tatapan nanar, papan bertuliskan ICU dengan lampu berwarna hijau.


''Kenapa berhenti? apa kamu tidak mau bertemu dengan putrimu?'' tanya Alex, ikut menghentikan langkah kakinya.


''Aku gak tau apakah dia ingin bertemu dengan aku atau tidak? aku sudah terlalu banyak menyakiti dia, hati putriku. Bahkan perbuatan aku itu tidak layak untuk dimaafkan,'' lirih Revan, menundukkan kepalanya.


''Hmm ... Syukurlah kalau kamu menyadari kesalahanmu itu, mungkin ini adalah waktu tepat untuk kamu meminta maaf sama dia, sebelum terlambat,'' jawab Alex mengusap punggung Revan.


''Apakah dia akan memaafkan aku?''


''Tentu saja, dia pasti akan memaafkan kamu. Kamu ayahnya, dan dia putrimu, di dalam darahnya mengalir darahmu juga, dan sebesar apapun salahmu pada putrimu itu, asalkan kamu meminta maaf dengan tulus, aku yakin putrimu akan selalu memaafkan kamu, Revan.''


Revan terdiam, dia mengangkat kepalanya, menatap ruangan ICU lalu mulai melanjutkan langkahnya kembali.


Untungnya, Alex yang berjalan tepat di belakang Revan, segera menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata mengarah tepat ke arah wajah Lucky.


''Kita keluar sebentar, beri dia waktu untuk meminta maaf kepada Ayu,'' pinta Alex kepada Lucky dan juga Axel.


''Tapi, Om-'' jawab Lucky tidak meneruskan ucapannya.


Alex hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan menggandeng tangan Lucky, membawanya keluar dari dalam ruangan.


Sepeninggal mereka bertiga, kini tinggallah Revan, berjalan mendekati ranjang dengan tatapan mata yang menatap putrinya dengan tatapan penuh kesedihan, matanya terlihat berkaca-kaca, dan raut wajahnya pun terlihat penuh penyesalan.

__ADS_1


Revan mengusap punggung tangan putrinya yang terdapat jarum Infus menancap sempurna di pergelangan tangan Ayu.


''Sayang ... Putri ayah ... hiks hiks hiks ...'' lirih Revan, menatap wajah pucat Ayu, dengan mata yang terpejam sempurna.


''Maafkan ayah, nak. Ayah sungguh menyesal telah menjadi ayah yang jahat untuk kamu, sayang. Hiks hiks hiks ...''


''Bangun, nak. Agar kamu bisa menghukum ayah. Bangun, sayang. Agar ayah bisa menebus kesalahan yang telah ayah perbuat, hiks hiks hiks ...'' Revan benar-benar menangis sesenggukan, hatinya benar-benar dipenuhi penyesalan.


Keserakahan, keegoisan, serta rasa dendam sudah benar-benar membutakan mata hatinya, dan dia sungguh menyadari bahwa apa yang telah dia lakukan pada sang putri adalah sebuah kesalahan besar.


Kesalahan yang ingin dia tebus di masa depan kelak jika putrinya itu sudah benar-benar bangun dari komanya. Namun, tiba-tiba saja hatinya diliputi ketakutan, takut bahwa sang putri tidak akan pernah bangun lagi.


''Jangan tinggalin ayah, Yu. Ayah sungguh menyesal, jangan tinggalin ayah sendirian, ayah janji, mulai saat ini ayah akan membahagiakan kamu, ayah akan berubah dan menjadi ayah yang baik, ayah mohon bangunlah, Nak. Jangan tinggalkan Ayah, yu. Hiks hiks hiks ...'' tangis Revan merasakan sesak di dalam dadanya.


Sementara itu, di luar ruangan Lucky nampak duduk cemas di samping Alex, dia mengusap wajahnya kasar, sama sekali tidak mengerti mengapa Alex membawa laki-laki jahat itu ke sana.


''Kenapa Om bawa laki-laki itu ke sini? Om tau betapa jahatnya dia? hah ...?'' tanya Lucky mengepalkan tangannya.


''Tenang, Luck. Revan menyesali semua perbuatannya kepada Ayu,'' jawab Alex pelan.


''Nggak, Om. Aku gak percaya. Iblis seperti dia tidak mungkin bisa berubah, apa Om tau Ayu seperti ini karena siapa? karena dia, ayah yang jahat, ayah yang sama sekali tidak punya perasaan, kalau aku ada di posisi Ayu, aku tidak akan pernah memaafkan ayah yang seperti itu,'' ucap Lucky penuh penekanan.


''Om memang ayah yang jahat, Lucky.'' Tiba-tiba terdengar suara Revan berjalan keluar dari dalam ruangan, dan sontak membuat Lucky terkejut.


''Alex, bisa tinggalkan kami berdua? aku ingin berbicara empat mata dengan dia,'' pinta Revan, yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Alex.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2