
Ckit ...
Gabriel menghentikan sepeda motor Kawasaki ninja miliknya, berhenti di halaman luas, dimana bangunan bernuansa jaman dahulu terbentang di belakangnya.
Ya ... mereka berdua telah tiba di panti asuhan 'HARAPAN BUNDA'. Di tempat inilah Gabriel di besarkan, dan di tempat ini pula dia menjalani separuh hidupnya sebelum dia terjun ke dunia hitam.
''Ini tempat'nya ...!''
Briel turun dari motornya, begitupun dengan Axela.
Susana panti terlihat sejuk di pandang, halaman yang luas di tambah taman membentang di hiasi rerumputan hijau serta pepohonan membuat udaranya pun terasa segar.
Al menatap keseliling, dimana banyak anak-anak panti yang terlihat sedang bermain dengan begitu cerianya, seolah tanpa beban dan tanpa kesedihan yang tadi sempat di bayangkan oleh dirinya.
Anak-anak itu pun segera berlarian mendekati Gabriel dan juga Axela yang datang ke sana tidak dengan tangan kosong, sebelum sampai di sana mereka memang sempat mampir dulu ke swalayan terlebih dahulu untuk membeli oleh-oleh untuk anak-anak panti.
Beberapa bungkusan berisikan makanan ringan dan mainan pun di berikan kepada anak-anak tersebut, dan mereka menerimanya dengan perasaan bahagia dan senang tentunya.
''Makasih kak,'' ucap salah satu dari mereka.
''Sama-sama sayang, o iya, kalian sedang main apa? ibu panti dimana?'' tanya Briel.
''Ada di dalam, kak. O iya, kak. Kaka kemana aja, kenapa baru datang sekarang si? kami kan kangen sama kaka? ini siapa? apa ini pacar Kaka ...?'' tanya anak lainnya, menatap wajah Axela.
''Nanya nya satu-satu dong, sayang. Mau kakak jawab yang mana dulu nih?'' Briel dengan lemah lembut.
''Hmm ...! Ini dulu deh, kakak cantik ini siapa? wajahnya cantik sekali, pacar kakak ya ..." tanya anak tersebut dengan satu tangan menunjuk ke arah wajah Al.
"Iya, dia pacar kakak, cantik kan?"
"Iya, cantik banget," anak tersebut tersenyum.
"Kenalin, nama Kaka Axela, panggil saja kak Al ..." Al berjongkok menatap gadis mungil berambut ikal.
"Nama kakak, bagus ..."
"Nama kamu siapa? kamu juga cantik banget ...''
__ADS_1
''Nama aku Sisi, kak ...!''
''Sisi ...? nama yang bagus juga,'' Al menatap wajah Sisi, wajahnya terlihat begitu ceria, senyum pun mengembang dari kedua sisi bibirnya.
''Kalian terusin mainnya, ya. Kaka mau ketemu sama ibu panti dulu, jangan lupa makanannya di makan, ya ...'' ucap Briel.
''Baik, kak. Makasih makanannya, ya ...'' ucap anak-anak tersebut secara bersamaan.
Mereka berdua pun berjalan menuju rumah panti, bangunan tua yang terlihat seperti bangunan peninggalan jaman dulu yang telah di sulap menjadi tempat bernaung bagi anak-anak yang tidak memiliki keluarga, kebanyakan dari mereka adalah anak yang tidak di inginkan oleh orangtuanya, karena hamil diluar nikah.
Trok
Trok
Trok
Ceklek
Briel mengetuk pintu dan masuk kedalam rumah.
Seorang wanita paruh baya terlihat menghampiri dengan tersenyum.
''Apa kabar, Bu?'' Briel menyalami ibu lalu memeluknya.
''Kabar ibu baik-baik saja, kamu kemana saja? sudah lama sekali baru kemari?''
''Akhir-akhir ini aku sibuk, Bu. Maaf baru sempat berkunjung,'' Briel melepaskan pelukan ibu panti tersebut.
''O iya, Bu. Kenalkan, dia pacar aku, namanya Axela.''
''Pacar ...?''
Al mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ibu panti yang merupakan wanita yang selama ini merawat Gabriel sedari kecil, keduanya pun saling bersalaman seraya menyebutkan nama masing-masing.
''Silahkan duduk ...!'' Ibu panti mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Teduh dan lembut, itulah kesan pertama yang di dapat oleh Axela saat pertama kali bertemu dengan ibu panti yang bernama ibu Fatimah itu.
__ADS_1
Di usianya yang sudah tidak mudah lagi, dia rela menghabiskan usia senjanya untuk mengurus dan merawat anak-anak panti yang dititipkan di sana.
Jika di lihat dari raut wajahnya pun, ibu Fatimah terlihat penyabar dan penyayang, tidak heran jika anak-anak panti yang berada di sana semuanya terlihat bahagia, karena meskipun mereka tidak memiliki orang tua, mereka mendapatkan kasih sayang dari ibu Fatimah yang baik dan juga tidak pernah pilih kasih kepada setiap anak yang berada di sana.
''Saya ke sini hanya mau memberikan ini, Bu. Kebetulan saya mendapatkan sedikit rezeky,'' Gbriel mengeluarkan amplop coklat dari dalam saku celananya.
''Apa ini, nak?'' Ibu menerima amplop tersebut dan melihat isinya.
''Ini banyak sekali, nak?''
''Nggak apa-apa, Bu. Saya ikhlas, lagi pula, waktu saya tinggal di sini, ibu sudah baik sekali kepada saya, anggap saja ini sebagai bentuk terima kasih saya kepada ibu.''
''Kalau begitu saya terima uang ini, ibu doakan semoga kamu mendapatkan gantinya 10 kali lipat dari tuhan yang maha esa, dan ibu juga berharap kamu hidup bahagia bersama gadis yang kamu cintai,'' ibu menatap wajah Gabriel dan Axela secara bergantian.
''Iya, Bu. Amin ...! Kalau begitu kami pamit dulu, Bu.''
Briel dan Al pun berdiri dan berpamitan hendak pergi.
''Tunggu, nak.''
Briel mengurungkan niatnya.
''Ibu sampai lupa, beberapa hari yang lalu, ada pria yang mencari kamu ke sini.''
''O ya ...? Siapa ya ...?'' Briel mengerutkan kening.
''Ibu juga tidak tahu, ibu lupa menanyakan nama dia.''
''Kira-kira siapa ya?'' Briel berucap pelan.
''O iya, dia juga menitipkan ini untuk kamu,'' ibu mengambil amplop dari laci meja dan menyerahkannya kepada Gabriel.
Briel menatap poto tersebut, Poto beberapa orang pria sedang duduk bersama, dia pun menyipitkan matanya menatap satu-persatu orang yang berada di dalam poto tersebut.
''Itu ...? itu seperti wajah papi waktu masih muda?'' Al menunjuk salah satu orang yang berada di dalam Poto tersebut.
__________----------___________
__ADS_1