Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Iri


__ADS_3

Al masuk kedalam rumahnya, wajahnya terlihat sangat bahagia, senyum pun senantiasa mengembang dari kedua sisi bibirnya, dengan mata yang berbinar-binar, dia menatap jari manisnya, yang kini telah melingkar cincin pemberian kekasih tercinta.


El yang sedang berjalan di tangga pun, sudah dapat menebak dengan apa yang baru saja menimpa kembarannya, Amora yang berjalan di belakang El ikut tersenyum melihat betapa bahagianya sahabat baiknya itu.


''Jangan senyum-senyum sendiri, nanti di kira orang gila, lho ...'' El meledek seraya menuruni tangga.


''Hari ini gue emang lagi tergila-gila sama cowok yang bernama Gabriel ...'' Al menjatuhkan tubuhnya di atas kursi empuk di ruang Televisi.


''Wah, selamat ya, Al. Akhirnya cincinnya di pake juga, gue iri deh sama Lo,'' Amora duduk si kursi yang sama dengan Axela.


''Ko Lo tahu? gue kan belum bilang apa-apa?'' tanya Al. Lalu dia bangkit dan duduk di samping Amora


''Eu ...! Sebenarnya tadi kita ketemu sama dia di mal, pacar Lo ...! Selamat ya, gue iri deh ..." Amora menatap cincin cantik di jari manis Axela.


"Berarti kalian berdua tahu dong, siapa yang mukulin dia?"


"Gak, kita gak tahu, gak penting juga tahu siapa yang mukulin si Gabriel itu," ujar El dengan wajah datar.


"Abang ...!" teriak Al, seraya melempar bantal kursi ke arah wajah Axel.


"Apa ...? Emang kita gak tau, tanya aja Amora?"


"Iya, Al. Kita sama sekali gak tau siapa dan kenapa dia di pukuli, gue ketemu sama dia, sudah babak belur kayak gitu,'' Amora menjelaskan.


"Sayang sekali, padahal kalau tau orangnya, mau gue hajar balik tuh orang."


"Ha ... ha ... ha ...! jangan so jago deh Lo, lupa apa kemarin Lo terluka gara-gara nolongin dia?''


''He ... he ... he ...! Iya, gue lupa.'' Al cengengesan.


''Selamat ya, Al. Akhirnya Lo dilamar juga. Kapan ya, gue dilamar juga sama kakak Lo itu ...?'' ucap Amora. Melirik ke arah kekasihnya.


''Kamu mau dilamar juga, sayang ...?'' lirih El dengan suara yang sedikit di liuk'kan

__ADS_1


Amora pun mengangguk ...


''Nanti ya, tunggu dua tahun lagi,'' celetuk El.


''Jangan marah kalau nanti pacar Lo yang cantik ini keburu diembat orang,'' ejek Al.


''Gak bakalan, dia kan cinta mati sama gue, iya kan sayang?''


''Huek ...! cinta mati apaan ...?'' Al semakin meledek.


''Lo tuh yang cinta mati sama gue,'' Amora tidak mau kalah.


''Siapa yang habis dilamar?'' Tiba-tiba terdengar suara Adelia sang ibu.


''Nggak ko, Mom ...! gak ada yang habis dilamar, he ... he ... he ...!'' Al, menyembunyikan jari manisnya.


Sementara, Amora langsung terdiam dan memperbaiki posisi duduknya.


''Al, dari mana saja kamu, jam segini baru pulang?''


''Beneran ...?''


Axela mengangguk dengan sedikit cengengesan.


''Axel, antar pacar'mu pulang, ini sudah malam, lho.'' Pinta sang ibu.


''Iya, Mom. Ini kami mau pulang.''


''Iya, Tante. Aku pamit pulang dulu ya,'' pamit Amora.


Dia pun mengulurkan tangannya hendak bersalaman, dan Adelia menerima uluran tangan Amora dengan wajah yang terlihat datar.


Amora dan Axel pun berjalan beriringan keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


Sebenarnya, Axel pun merasakan ada yang berbeda dengan sikap yang di tunjukan oleh ibunya tersebut, sang ibu yang biasanya ramah dan selalu menebar senyuman kepada kekasihnya, akhir-akhir ini selalu bersikap datar bahkan terkesan cuek saat bertemu dengan Amora.


Dia pun ingin menanyakan hal itu kepada Amora sang kekasih, namun, akan lebih baik jika dia menanyakan hal itu kepada ibunya saja, nanti.


**


''Sayang ...! Antar aku ke suatu tempat dulu ya ..." pinta El, seraya menyetir mobil.


"Kemana?"


"Udah, jangan banyak tanya dulu."


"Dih, minta antar tapi gak bilang diantar kemana," celetuk Amora merasa kesal.


El pun sedikit tersenyum, melirik wajah kekasihnya yang terlihat kesal sekarang, kekasihnya itu bahkan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, dengan mata yang menatap keluar jendela, melayangkan tatapan kosong.


Tanpa di sangka, El membawa Amora ke Mal yang tadi mereka kunjungi, segera menarik tangan Amora sesaat setelah dia memarkir mobil miliknya.


Amora yang tidak tahu akan di bawa ke sana, hanya bisa mengerutkan keningnya, saat tangan'nya terus di gandeng masuk dan berjalan di dalam mal yang sudah mulai sepi dengan pengunjung, karena malam sudah semakin larut, dan mal baru saja akan tutup.


Akhirnya, mereka pun tiba di depan toko perhiasan yang tadi di kunjungi oleh Gabriel, toko itu pun hampir saja tutup, namun, El segera menghampiri terjaga toko.


''Tunggu, mbak. Jangan tutup dulu, saya mau membeli sesuatu?''


''Tapi kami sudah tutup, mas. Besok lagi saja ke sini?''


''Saya mohon, mbak. Saya mau membelikan pacar saya sesuatu, please ...!''


Sementara itu, Amora sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja dilakukan oleh kekasihnya, mengapa kekasih'nya tersebut membawa dirinya kesini? dia sama sekali tidak berfikir bahwa,kekasihnya itu akan membelikan diri'nya sebuah cincin, seperti yang dilakukan oleh pemuda yang bernama Gabriel.


Dan akhirnya, setelah memohon dan mengiba, penjaga toko perhiasan itupun kembali membuka toko, dan mengijinkan Axel memilih perhiasan yang akan di belinya.


Lalu Axel pun berjalan menghampiri Amora yang sedari tadi hanya menatap dirinya dengan wajah yang terlihat heran, berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.

__ADS_1


''Ra, aku sengaja bawa kamu kesini, aku mau membelikan hadiah buat kamu, dan kamu bebas memilih yang manapun yang kamu suka, gak usah mikirin harga, karena aku punya banyak uang,'' ucap El dengan penuh percaya diri.


________-----------_________


__ADS_2